Tensegrity, Seni Memahami Keseimbangan Tanpa Pondasi
Kamis, 31 Oktober 2019 | 9:53 WIB

Para Peserta tampak mempraktekkan alat peraga dalam workshop Tensegrity

Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Unika Soegijapranata pada Senin lalu (28/10), telah mengadakan workshop dengan tema “Memahami Tensegrity”, yang diselenggarakan di  ruang A.7.3 gedung Henricus Constant.

Berbeda dengan acara workshop sebelumnya, kali ini pemateri workshop adalah dari  Professor At College Of Engineering Nihon University, Japan yaitu Prof Buntara Sthenly Gan.

Workshop yang disampaikan secara menarik ini dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa Unika serta beberapa tamu dari instansi di luar Unika. Sedangkan tema yang dibahas merupakan judul penelitian ilmiah yang sedang dikerjakan bersama mahasiswa S3 Universitas Diponegoro.

Pada awal paparannya, Prof Buntara atau Prof Bun menjelaskan dan mengenalkan konsep tensegrity dengan pemikiran sederhana. Ketertarikan Prof Bun membahas konsep tensegrity bermula dari rasa ingin tahunya tentang ide membangun bangunan tanpa pondasi.

Idenya kemudian mendapat dukungan dari temannya, Prof Nang, Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Nihan, yang menjelaskan bahwa dalam struktur sel genetika manusia juga terdapat gaya tarik menarik dan tekan yang memungkinkan adanya pewarisan gen orangtua kepada anaknya. Tidak hanya itu, jika dipahami lebih jauh, struktur rangka manusia juga menggunakan sistem tensegrity. Hal ini dibuktikan dengan susunan saraf dan tulang yang saling tarik dan menekan sehingga mampu menopang tubuh dengan seimbang.

“Saya tertarik untuk meneliti konsep tensegrity yang mengutamakan keseimbangan dalam bentuk bangunan tanpa pondasi. Selain ramah lingkungan, tensegrity juga dapat menjadi konsep bangunan di luar angkasa,” kata Prof Bun disela-sela presentasinya.

Konsep tensegrity kemudian dikembangkan dengan mengutamakan prinsip keseimbangan kontinu dan diskontinu pada susunan komponen bangunan.

Keseimbangan tersebut diperoleh melalui gaya tekan batang dan gaya tarik kabel. Tidak heran, bila konsep tensegrity memerlukan perhitungan yang teliti sehingga bangunan dapat berdiri kokoh. Bahkan, beberapa negara seperti Australia telah menerapkan konsep tensegrity pada Jembatan Kurilpa.

Membangun bangunan dengan konsep tensegrity pada dasarnya memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan.

Kelebihan tersebut diantaranya merancang bangunan dengan volume kecil sehingga mudah untuk dipindahkan, dan struktur yang kokoh membuat banguan dengan konsep tensegrity lebih aman ketika terjadi guncangan.

Sementara kelemahan yang dimiliki adanya biaya pembuatan bangunan cenderung lebih mahal karena batang yang digunakan harus melalui proses polesan, dan memerlukan waktu perhitungan bangunan yang relatif sulit.

Penjelasan konsep tensegrity kemudian diperjelas dengan menggunakan alat peraga sebanyak lima puluh buah. Alat tersebut berupa stik kayu dengan ukuran yang sama, tali nilon, dan buku  panduan.

Dalam kesempatan tersebut, para peserta juga diberi kesempatan untuk merangkai enam stik dengan enam tali sehingga membentuk bangunan yang mampu berdiri kokoh. Kegiatan tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi para peserta. Hal itu nampak dari beberapa raut wajah serius para peserta merangkai setiap stik.

Teddy Mullyater, Mahasiswa program studi Teknik Sipil angkatan 2019 juga tampak mencoba merangkai bangunan dan menyampaikan pengalamannya.

Workshop dengan tema Tensegrity merupakan topik yang menarik, meskipun awalnya agak bingung dengan paparan materinya. Tetapi, setelah pemaparannya diberi contoh-contoh menarik, materi yang disampaikan jadi lebih mudah dimengerti. Apalagi dengan alat peraga yang disiapkan melibatkan langsung peserta diskusi. Semuanya jadi menarik deh,” ungkap Teddy.

Kegiatan tersebut diakhiri dengan sesi tanya jawab bagi peserta yang ingin mengetahui lebih dalam tentang tensegrity. Selain, tentang tensegrity, Prof Bun juga menyampaikan beberapa informasi mengenai beasiswa pendidikan S2 di Universitas Nikon, Jepang. Beberapa di antara para peserta workshop begitu antusias untuk  mengajukan pertanyaan. Pertanyaan tersebut meliputi syarat melanjutkan pendidikan S2, biaya, transportasi, hingga proses pendidikan di sana. (Ell)

Kategori: ,