Rektor Berharap Para Pemimpin di Unika Bisa Aktif, Kreatif dan Mengambil Posisi Pada Gerakan Lingkungan
Senin, 21 Oktober 2019 | 14:17 WIB

Sebuah kegiatan yang merupakan proses berkelanjutan formasi pejabat struktural Unika Soegijapranata atau Soegijapranata Memorial Lecture, telah diselenggarakan selama dua hari yaitu Senin dan Selasa (21/10 – 22/10), bertempat di Panti Samadi Sangkal Putung Klaten.

Dimulai hari Senin (21/10) acara SML hari pertama telah menghadirkan narasumber Romo Agustinus Sarwanto SJ sebagai Direktur Utama Yadapen dan aktif di Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup yang memberikan materinya yang berkaitan dengan tema karya Unika Soegijapranata tahun 2019-2020 tentang Integritas Ekologis.

“Kita adalah anak-anak alam, dan harapannya dengan sikap jati diri kita sebagai manusia bisa menjadi modal kita untuk bisa mewujudkan rasa yang saling menguntungkan antara manusia dengan bumi,” ucapnya.

Terlebih sesuai tema Soegijapranata Memorial Lecture ke XI, yaitu Integritas ekologis, maka kita diharapkan dapat merealisasikan pertobatan ekologis sesuai dengan himbauan Paus Fransiskus dalam Laudato Si yang merupakan gerakan keagamaan yang sangat penting menjadi wadah sosial yang kuat dalam masyarakat. Sebab kepedulian terhadap alam juga merupakan urusan religiusitas. Termasuk kepedulian terhadap hutan dan ekosistem di dalamnya, lanjutnya.

Jadi harapannya Unika Soegijapranata menjadi bagian dari jelompok Great Turning yang selalu kreatif mencari cara-cara baru sesuai dengan perkembangan jaman sekarang untuk ikut serta membawa masyarakat menuju jaman Ecozoic Era, tandas Romo Sarwanto.

Dalam arahannya Rektor Unika Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC yang juga hadir dalam acara tersebut menegaskan kembali tentang tekad dan kesungguhan dalam mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam tema karya.

“Integritas ekologis itu ada dua kata kunci yaitu integritas yang salah satu maknanya adalah kejujuran atau ketidak pura-puraan sedangkan ekologis mengarah pada lingkungan,” kata Prof Ridwan.

Jadi jika digabungkan maka dua kata tersebut bisa punya makna sebagai kejujuran dalam melestarikan lingkungan, ucapnya.
Demikian pula bagi para pemimpin kita, tidak hanya diminta ing ngarso sung tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani saja tetapi juga lebih dari itu yaitu aktif, kreatif dan berpihak atau mengambil posisi pada gerakan lingkungan yang tidak suam-suam kuku atau setengah-setengah, tandasnya.(fas)

Kategori: ,