Rayakan Lustrum Ketujuh, Fakultas Psikologi Selenggarakan Seminar Nasional
Rabu, 2 Oktober 2019 | 11:57 WIB

Penyerahan penghargaan kepada Prof Dr Franz-Joseph Monks

Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata merayakan ulang tahun ke-35 tahun ini. Ulang tahun tersebut dirangkum dalam rangkaian acara Lustrum Ketujuh Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata dengan tema ‘Biopsikososial Untuk Masyarakat Multikultural’. Rangkaian acara tersebut dimulai pada tanggal 26 September 2019 dan akan berakhir pada tanggal 29 September 2019.

Acara Lustrum Ketujuh ini diawali dengan seminar nasional yang bertemakan sama dengan tema Lustrum, yaitu Biopsikososial Untuk Masyarakat Multikultural. Hadir sebagai pembicara seminar ialah Prof Dr Franz-Joseph Monks, Prof Dr Endang Ekowarni SU, Prof Dr Ridwan Sanjaya MS IEC, Dr Martinus Handoko FIC, dan Dr Suparmi MSi. Terdapat pula sekitar 200 peserta seminar yang terdiri dari mahasiswa S1 dan S2, psikolog, maupun mereka yang sudah bekerja.

Dalam seminar yang diadakan di Teater Thomas Aquinas Unika Soegijapranata ini Dr M Sih Setija Utami MKes selaku Dekan Fakultas Psikologi menyampaikan perlunya kehadiran Fakultas Psikologi yang memberikan dampak bagi masyarakat yang multikultural ini.

“Maka dengan Lustrum Ketujuh ini Fakultas Psikologi ingin memberikan kontribusi juga bagi masyarakat melalui visi Fakultas Psikologi yang berbasis pada Biopsikososial,” ucap Dr M Sih Setija Utami.

Sementara itu Prof Dr Franz-Joseph Monks dari Radboud University, Nijmegen ini membawakan materi mengenai perilaku manusia dan setting budaya. Dalam seminarnya, Prof  Monks membawakan materinya dengan mengangkat sosok Ervin Nyiregyhazi, seorang pianis handal dan luar biasa yang begitu menggugah dunia. Yang berusaha disoroti oleh Prof Monks adalah bagaimana proses perkembangan perilaku Ervin dan setting budaya yang ada sehingga dapat mencapai level yang sedemikian rupa.

Usai menyampaikan materi seminarnya, dilanjutkan penyerahan penghargaan kepada Prof Monks. Sebelum penghargaan diberikan, ada laudatio yang dilakukan oleh Dr Kristiana Haryanti MSi. Salah satu bagian dari laudatio itu ialah bernyanyi lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng. Kemudian penghargaan diberikan kepada Prof Monks oleh Dr M Sih Setija Utami MKes selaku Dekan Fakultas Psikologi didampingi Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC selaku Rektor Unika Soegijapranata.

Pemberian penghargaan selesai, seminar pun dilanjutkan pada sesi kedua. Sesi kedua ini dimoderatori oleh Dr Christin Wibhowo SPsi MPsi dengan narasumber oleh Prof Dr Endang Ekowarni SU dan Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC.

Prof Dr Endang Ekowarni SU dalam seminarnya membawakan materi mengenai Inter Relasi Antar Generasi. Dr Ninik -panggilan akrab Prof Dr Endang Ekowarni SU- menuturkan bahwa setiap generasi sudah memiliki cirinya sendiri. Semua dipengaruhi oleh keadaan zaman ketika seseorang lahir pada generasi itu. Permasalahannya ialah dalam perbedaan generasi tersebut, sikap yang perlu dibangun agar tercipta relasi yang baik antar generasi ini sering tidak diperhatikan. Oleh karena itu Dr Ninik menekankan pentingnya keluarga sebagai tempat mendidik anak yang pertama untuk membangun karakter yang dibutuhkan dalam berrelasi tersebut.

Prof Ridwan dalam materi seminarnya mengangkat tema mengenai Generasi Muda di Era Society 5.0. Prof Ridwan menuturkan bahwa generasi muda kita saat ini sungguh hidup berdampingan dengan internet dan banyak terbantu karenanya. Dari situasi yang demikian itu, dapat diprediksi bahwa ke depan ketergantungan terhadap internet akan semakin besar. Oleh karena itu generasi muda dikatakan hidup dalam era Society 5.0 yang memiliki 3 kunci utama: IoT (Internet of Things), Big Data, dan Artificial Intelligence (AI).

“Internet of Things ingin menunjukkan bahwa semua informasi dari berbagai perangkat yang terkoneksi dan terintegrasi dengan internet menjadi salah satu kekuatan utama era ini. Hal ini bisa dilihat dari berbagai aplikasi start up ojek online, media sosial, smartwatch, e-money, dsb,” jelas  Prof Ridwan.

“Big Data ingin merujuk pada analisa data dalam jumlah besar dan tidak terstruktur untuk menemukan informasi yang mempunyai nilai baru. Artificial Intelligence merujuk pada pembangunan kecerdasan artifisial yang dapat membantu dalam melakukan tugas tertentu dan mencapai tujuan tertentu. Ini yang menopang terutama kehidupan generasi muda yang adalah Gen Z,” sambungnya.

Sesi kedua seminar diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan kepada Prof Dr Endang Ekowarni, SU dan Prof Dr Ridwan Sanjaya MS IEC. Selanjutnya, memasuki sesi ketiga seminar.

Penyerahan penghargaan kepada pembicara seminar di sesi ketiga

Sesi ketiga ini dimoderatori oleh Monika Windriya Satyajati SPsi MPsi Psikolog dengan pembicara Dr Martinus Handoko, FIC dan Dr Suparmi MSi. Dalam paparan materinya, Dr Martinus Handoko atau sering disapa Bruder Martin membawakan materi mengenai Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Lokal yang menekankan bahwa pendidikan karakter merupakan hal penting di Indonesia. Hal itu bahkan sampai terumus dalam UU, Perpres, dan Permen. Pendidikan karakter ini sendiri dapat dilakukan berbasis budaya yang ada, seperti pantun, tari-tarian, peribahasa, dsb. Jadi budaya tidak sekadar menjadi suatu ciri khas, namun juga dapat menjadi cara mendidik karakter anak. Terutama di Indonesia yang memiliki keragaman budaya, yang mana juga menunjukkan adanya keragaman cara mendidik karakter.

Sedangkan Dr Suparmi paparannya lebih berfokus pada Pengembangan Kemandirian Berdasarkan Budaya Lokal. Dr Suparmi menuturkan bahwa pengembangan kemandirian merupakan hal penting dalam perkembangan manusia. Sebagai salah satu tugas dari perkembangan seorang manusia, ketidakberkembangan kemandirian dalam diri manusia dapat membawa dampak negatif. Secara khusus kemudian Dr Suparmi mengangkat mengenai kemandirian yang ada di Kota Semarang yang dapat dibagi ke dalam 6 domain: bantu diri, tanggung jawab, sosialisasi, keterampilan domestik, mengatasi masalah, dan inisiatif. Keenam domain ini kemudian berkembang dipengaruhi budaya dan dimediasi oleh orang tua. Maka dari itu, Dr Suparmi menegaskan pentingnya peran orang tua dalam membimbing anak agar dalam pengaruh budaya itu, anak dapat mengoptimalkan pengembangan kepribadiannya.

Setelah pemaparan seminar sesi ketiga selesai, ada penyerahan kenang-kenangan untuk Dr Martinus Handoko FIC dan Dr Suparmi MSi. Acara Seminar Nasional kemudian ditutup dengan santap siang bersama di Selasar Thomas Aquinas. Rangkaian acara hari tersebut diakhiri dengan Workshop yang dilakukan di Gedung Antonius Unika Soegijapranata. (ffi)

Kategori: ,