Terbentur Untuk Terbentuk
Minggu, 1 September 2019 | 10:25 WIB

Pengalaman mendapat kerja setelah perkuliahan tentu saja bukan dari proses instan. Setelah melewati masa revisi pasca sidang, Ignatius Wahyu Sutrisno atau sering disapa Wahyu, berusaha mencari info loker dari berbagai media sosial serta jobfair, dan sudah apply ke berbagai perusahaan. Puji Tuhan ada beberapa panggilan untuk psikotes dan interview.
Hingga akhirnya Wahyu mendapatkan kesempatan bergabung di Group OT (Orang Tua) sebagai HRD Recruitment dan informasi mengenai lowongan ke perusahaan tersebut bahkan datang dari SSCC Unika ketika Wahyu sedang melewati proses interview user di salah satu perusahaan di Jakarta. “Karena jejaring alumni yang kuat, saya direkomendasikan untuk bergabung disana. Setelah melalui proses psikotes hingga interview, saya sudah bekerja di OT Group dari Bulan Juni 2019 lalu,” jelas Wahyu.

“Proses untuk mendapatkan pekerjaan puji Tuhan berlangsung hanya 3 bulan. Saya bersyukur bisa berproses di Unika dengan berbagai bidang, mulai dari kemahasiswaan, promosi, kehumasan hingga pusat karir sehingga hal tersebut turut membantu saya dalam dunia kerja dan mendapatkan pekerjaan,” sambungnya.

Lebih lanjut, Wahyu juga menjelaskan tentang profesi yang sebenarnya diidamkannya. “Profesi yang ingin saya geluti sebenarnya adalah menjadi seorang Pengajar atau Dosen. Namun karena kualifikasi Dosen harus minimal Master dan karena terbatas dengan biaya serta keinginan untuk segera memiliki penghasilan sendiri maka saya berusaha untuk bekerja terlebih dahulu dan sesuai dengan ilmu yang saya miliki ketika di perkuliahan, ketika saya sudah merasa cukup secara finansial maka saya akan melanjutkan studi Magister dan mengejar mimpi saya untuk jadi seorang Dosen,” ucapnya.

Saat ditanya persiapan apa yang dilakukan sewaktu dan mendekati kelulusan. Wahyu berbagi pengalaman tentang pengalamannya. “Sebenarnya saya tidak terlalu berprestasi, namun saya lebih suka mengikuti berbagai kegiatan yang ada di kampus seperti kepengurusan Senat Mahasiswa Fakultas Psikologi selama dua periode dan juga ikut dalam kepengurusan Senat Mahasiswa Universitas, saya juga bagian dari GLORY angkatan 8 yang dinaungi langsung oleh Wakil Rektor III. Untuk melatih public speaking saya bergabung di Soepra Radio yang menuntun saya bisa berbicara di hadapan umum sehingga pengalaman untuk menjadi seorang Master of Ceremony sudah pernah saya lakoni. Saya juga berusaha untuk melatih kemampuan menulis dengan bergabung bersama Tim Kronik Humas Unika, ternyata bergabung di sini membuat saya lebih mudah untuk mengerjakan skripsi karena telah memahami kalimat SPOK dan terbiasa menulis berita. Saya juga bergabung di Student Get Student Tim Promosi dan Rekrutmen Mahasiswa Unika,” terang Wahyu yang alumnus SMAN 6 Semarang.

Wahyu juga menjelaskan hobi yang digelutinya di sela-sela kesibukan kegiatannya. “Untuk hobi saya saat ini adalah traveling, pengalaman dari bergabung sebagai SGS yang harus bersedia expo ke luar kota membuat saya menyukai dunia traveling sambil bekerja. Bisa merasakan makanan khas daerah tertentu dan mengenal lebih dalam kota yang di kunjungi. Pekerjaan saat ini juga mendukung hobi saya untuk traveling di berbagai kota di wilayah Jawa Tengah khususnya bagian Utara.”
Wahyu juga mengemukakan motto hidupnya,”Motto hidup yang saya pegang teguh adalah ‘Terbentur untuk terbentuk’. Maksudnya adalah jangan takut untuk menghadapi masalah (terbentur) karena hal itulah yang membantu dalam proses belajar. Saya pernah merasa kesulitan dalam menemukan subjek penelitian dan mendapatkan referensi skripsi, saya juga pernah menunggu panggilan untuk interview dengan user setelah psikotes namun pada akhirnya juga tidak ada kabar. Dari terbentur dengan permasalahan tadi, saya menjadi orang yang terbentuk, bisa lulus tepat waktu bahkan bisa menjadi orang pertama di angkatan saya yang lulus serta mendapatkan pekerjaan yang layak. Pada dasarnya jangan takut untuk berproses dan gagal jika ingin mendapatkan hasil yang terbaik. Lakukan saja yang terbaik, biarlah Tuhan yang menentukan hasilnya,” ungkapnya.
Disinggung judul skripsi yang ditulisnya, Wahyu juga sempat menceriterakan secara singkat kisahnya.

“Judul skripsi yang saya angkat adalah Hubungan antara Koping Stres dan Kepribadian Ekstraver dengan Subjective WellBeing pada Orang dengan HIV/AIDS. Dan alasan saya mengangkat topik tersebut sebenarnya terinspirasi dari penelitian pada mata kuliah yang lalu mengangkat seputar kepribadian Tangguh pada ODHA. Saya mendapatkan cerita dari salah satu narasumber bahwa dia merasa tidak puas pada hidupnya, mereka merasa mendapatkan stigma negatif dari masyarakat yang belum tahu HIV itu seperti apa hingga mereka merasakan perlakuan diskriminasi seperti dikucilkan atau dijauhi karena ketakuan masyarakat tertular HIV. Namun ada narasumber lain yang menceritakan bahwa hidupnya enjoy dengan HIV karena bisa mengaktualisasikan diri dengan lingkungan melalui pendekatan yang tepat dan pada akhirnya ia terbuka kepada orang lain mengenai statusnya sebagai ODHA kepada orang lain. Maka saya melihat Subjective wellbeing atau kepuasan hidup pada ODHA menjadi hal yang menarik untuk di teliti dengan meninjau dari cara menghadapi stress (koping stres) dan kepribadian ekstrovert (orang yang berorientasi pada hubungan dengan orang lain lebih kuat). Hingga akhirnya dengan segala doa dan dukungan baik dari orangtua, saudara, para dosen dan rekan mahasiswa maka saya berhasil menyelesaikan studi, Puji Tuhan dengan IPK 3,66,” tutupnya. (fas)

Kategori: ,