Mindset Untuk Berkarya Perlu dikembangkan
Senin, 9 September 2019 | 10:22 WIB

Wahyu Aryono Nugroho tak pernah menyangka dirinya akan menjadi wisudawan terbaik Fakultas Hukum dan Komunikasi dalam wisuda periode II Unika Seogijapranata tahun 2019 ini. Laki-laki yang akrab disapa Awang ini mengangkat topik skripsi dengan judul “Diskualifikasi Norma: Kajian Terhadap Sabdaraja, Dawuhraja Sultan Hamengku Buwono X, dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 88/PUU-XIV/2016” dan lulus dengan IPK 3,93 dengan predikat cum laude (dengan pujian).

“Topik dalam skripsi saya adalah tentang kesetaraan jender di Ngayogyakarta Hadiningrat. Saya meneliti tentang Sultan Hamengku Buwono yang selama ini selalu dijabat oleh seorang laki-laki. Fokus penelitian yang saya lakukan adalah melihat peluang perempuan menjadi seorang Sultan Hamengku Buwono dari sisi hukum tata negara dan hukum adat di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat,” ungkap Awang menceritakan topik skripsi yang ia dalami.

Ketika merefleksikan proses pembuatan skripsi, ia menyadari bahwa niat adalah langkah awal yang membawanya pada sidang skripsi dan akhirnya sampai di pintu kelulusan. “Kendalanya tentu banyak, apalagi saya yang sering menunda mengerjakan skripsi. Tetapi tentu yang memotivasi saya adalah orang tua. Saya kagum dengan kedua orangtua saya yang bersusah payah tanpa mengeluh, hidup prihatin agar saya bisa segera lulus, itulah kemudian yang membulatkan niat saya untuk segera menyelesaikan skripsi. Selain itu, cita-cita saya menjadi seorang hakim konstitusi memotivasi saya untuk segera menyelesaikan skripsi ini. Jadi ya intinya mencari motivasi dulu saja,” ungkapnya.

“Saya bersyukur ada orang-orang yang hebat, tangguh, dan sabar di sekitar saya yang memotivasi untuk segera berkarya di tempat lain setelah melepas status mahasiswa ini. Jadi setelah lulus, sudah menanti banyak sekali peluang yang dapat menjadi karya saya, hanya saja saya harus melewati pintu kelulusan itu dulu,” lanjutnya.

Tidak hanya berprestasi dalam bidang akademik, Awang juga aktif dalam kegiatan non-akademik antara lain aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Soepra Radio dan dipilih menjadi Ketua UKM Soepra Radio di tahun 2016. Ia juga menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum dan Komunikasi periode 2017/2018. Selain itu, ia juga diminta oleh Komisi Pemilihan Umum Universitas menjadi penasehat hukum untuk Pemilu BEMU Day 2019 sejak awal tahun 2019. Ia juga menjadi master of ceremony wisuda universitas sejak tahun 2016 hingga April 2019. Menjadi moderator diskusi dan seminar serta aktif di beberapa kepanitiaan juga menjadi kesibukannya. Skala prioritas dan disiplin waktu menjadi kunci bagi Awang untuk memanajemen waktu dengan baik antara belajar dan aktif dalam berorganisasi.

Komunikasi menurut Awang menjadi soft skill yang penting untuk dikembangkan oleh mahasiswa. Bentuknya bisa bermacam-macam mulai dari public speaking, cara mengkomunikasi ide dan menyampaikan pikiran. Kemudian soft skill yang berhubungan dengan pengabdian kepada masyarakat juga perlu dikembangkan, agar mahasiswa dapat membaur dengan aroma, denyut nadi, serta pergerakan kehidupan masyarakat. “Mindset untuk berkarya juga perlu dikembangkan, sehingga nantinya kita dapat melihat dunia kerja sebagai ajang mengembangkan diri dan berkarya sesuai talenta masing-masing, sehingga rasa talenta pro patria et humanitate akan benar-benar terwujud,” ujarnya.

Banyak membaca bagi Awang menjadi kunci untuk mengisi waktu dengan produktif. “Dengan membaca kita mendapatkan banyak masukan sehingga gerakannya akan semakin berkualitas, dan berdasar. Mahasiswa selalu dipandang sebagai anak muda yang kritis oleh karenanya kekritisan tersebut perlu terus diasah.”

Kepada teman-teman mahasiswa, ia menyampaikan pesannya, “Teman-teman, jangan menua tanpa karya. Berapapun usia kita nanti, siapapun kita menjadi, dimanapun tempat perutusan kita, teruslah berkarya mempersembahkan talenta untuk negeri dan Gusti. Bagi beberapa mahasiswa, menuju kelulusan disertai kecemasan dan kekhawatiran. Tetapi sebagai mahasiswa tugas kita adalah mengubah kecemasan menjadi sebuah harapan. Biarlah Tuhan yang mengutus karena Tuhan yang juga akan mengurus. Life begins at the end of comfort zone.” (B.Agth)

Kategori: ,