Memilih Studi Psikologi Setelah Menyaksikan Relawan
Selasa, 10 September 2019 | 12:13 WIB

Berawal dari ketertarikannya untuk mendalami Psikologi sejak di bangku SMA, membuat mahasiswi Ignatia Esti Aristaningrum sangat menikmati pembelajaran di Fakultasnya, dan berhasil menyelesaikan studinya dengan IPK 3,94 serta mengantarnya menjadi salah satu lulusan terbaik periode II tahun 2019. Mahasiswi kelahiran Klaten, yang memiliki nama panggilan Tia, merupakan alumnus dari SMA PL Van Lith Muntilan, yang berhasil meraih gelar Wisudawati Terbaik dari Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang.

Kuliah jurusan Psikologi merupakan pilihan Tia satu-satunya saat itu, karena salah satu kejadian yang dialaminya secara langsung di tahun 2006, pada saat gempa bumi di Yogyakarta. “Pada saat terjadi gempa bumi, keluarga dan kerabat saya mengalami musibah bencana dimana saya harus kehilangan rumah hingga kehilangan sanak saudara. Pada peristiwa itulah saya bertemu dengan beberapa relawan Unika Soegijapranata yang berlatar belakang pendidikan Psikologi. Kejadian ini sangat berkesan bagi saya, hingga muncul motivasi untuk ‘menyembuhkan’ yang ‘sakit’, sakit yang dikarenakan goncangan mental seseorang setelah mendapatkan musibah,” jelas Tia.

Tentunya untuk memutuskan tempat kuliah Tia melakukan berbagai survei terlebih dahulu. “Saya sebelum memutuskan tempat untuk berkuliah, saya mencari tahu melalui web-web Universitas dan juga beberapa kakak kelas, hingga saya memantapkan diri memilih kuliah di Unika Soegijapranata karena saya yakin bahwa Unika, khususnya Fakultas Psikologinya memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh Fakultas Psikologi di universitas lainnya.”  tandas Tia.

Mahasiswi yang bercita-cita menjadi dosen ini, merupakan anak pertama dari Bapak Ignatius Dwi Hartanta dan Ibu Yuliana Sri Mulatmi. Ia mengungkapkan tidak pernah menyangka bahwa Ia dapat menjadi Wisudawati Terbaik, “Mendapatkan gelar sebagai Wisudawati Terbaik, merupakan suatu kehormatan dan hadiah dari Tuhan bagi saya”.

Motto hidupnya “Everything that you can imagine, is real” yang diadaptasi dari Pablo Picasso, kini benar-benar terjadi dalam hidupnya. “Bagi saya perjalanan hidup merupakan sebuah seni, yang memiliki banyak rasa, memang tidak selalu menyenangkan seperti kehidupan orang lain, tetapi seringkali rasa pahit yang datang justru menjadi penetralisir kehidupan, seperti obat yang terasa pahit namun dapat menetralisir rasa sakit yang ada,” terangnya. Baginya yang terpenting adalah hadirnya keluarga, orang tua, dan sahabat akan sangat berperan dalam perkembangan diri seseorang.

Skripsinya yang berjudul “Studi Korelasi antara Hardiness dan Stres Akademik pada Siswa SMA Berasrama” menjelaskan mengenai bagaimana hardiness personality atau kepribadian tahan banting dapat membantu seseorang dalam mengatasi stres, terutama stres akademik yang terjadi pada siswa SMA yang hidup di asrama dan memiliki banyak tekanan dalam hidupnya. Tentunya selama mengerjakan skripsi terdapat banyak hambatan yang membuat motivasinya naik dan turun, “Saya selalu membuat milestones bagi diri saya, untuk mengingatkan saya agar terus berjalan dan mengembangkan apa yang Tuhan beri untuk saya sebagai bekal di masa depan, itulah yang selalu memotivasi saya untuk selalu bangkit kembali,” jelasnya.

Dalam mengisi waktu luangnya, Tia mengisi dengan hobinya yang cukup unik, yakni membaca serta membuat kliping soal Pendidikan dan budaya. Namun, bukan berarti Tia menjadi mahasiswi ‘kupu-kupu’ atau kuliah pulang – kuliah pulang untuk mengejar IPKnya. Ia pun sibuk mengasah softskillsnya dengan mengikuti berbagai organisasi dan kegiatan seperti Senat Mahasiswa Fakultas, GLORY 8, kepanitiaan PTMB, dan Picasso. Tia mengungkapkan, “Sejak tergabung dalam GLORY, saya melihat banyak teman-teman yang memiliki misi yang besar untuk Unika, dan ini merupakan pengalaman yang menarik bagi saya.”

Tak hanya itu, Tia pun aktif dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Gratia Choir, serta mengikuti berbagai perlombaan seperti Lomba Cerdas Cermat Psikologi tingkat Nasional dan sebagai perwakilan Student of The Year (SOTY) 2017. “Sejak mengikuti karantina SOTY, saya belajar banyak hal, sebab dari sini saya dilatih untuk berani public speaking in English, meski Bahasa Inggris saya tidak terlalu fasih, namun saya belajar bahwa kekurangan setiap orang itu pasti ada. Kekurangan bukan untuk ditutupi tetapi terus digali dan dikeluarkan agar bias diperbaiki,”ungkap Tia.

Untuk dapat menjalani segala kegiatan dan kesibukan selama perkuliahan, Tia memiliki 3 prinsip utama, yakni Nikmati, Partisipasi, dan Prestasi. Nikmati segala kegiatan yang dijalani, cari hal menyenangkan dari kegiatan tersebut agar tidak mudah bosan. Ketiga prinsip inilah yang membawanya hingga mencapai garis akhir masa studi dengan baik.(Tata)

Kategori: ,