Budi Sebut Kota Semarang Harus Perbanyak Daerah Resapan Air
Rabu, 11 September 2019 | 16:29 WIB

image

Kota Semarang didorong untuk memperbanyak daerah tangkapan air.

Hal tersebut untuk menanggulangi banjir di Kota Semarang.

Budi Santosa, dosen prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata, menuturkan strategi yang paling optimal di antaranya pembuatan biopori, juga memperbanyak daerah resapan air hujan.

"Biopori dan juga panen air hujan ini bisa membendung air hujan.

Itu lebih efektif daripada membangun embung, atau bendungan," paparnya di sela diskusi publik bertema banjir, penyebab, dampak dan penanggulangannya di kampus Unika Soegijapranata, Selasa (10/9/2019).

Budi mencatat, selama ini Pemkot Semarang lebih mengutamakan pembangunan drainase.

Hal tersebut memang baik, namun menurutnya tidak bisa maksimal apabila pencegahan banjir di Kota Semarang tidak melibatkan masyarakat di kota tersebut.

"Artinya pembangunan yang non stuktural ini yang perlu keterlibatan masyarakat Kota Semarang," lanjutnya.

Ada beberapa sebab mengapa banjir di Kota Semarang tak kunjung terselesaikan.

Menurut Budi, yang paling menonjol ialah pembangunan di Kota Semarang yang semakin tak terkendali.

Bahkan di kawasan yang semestinya menjadi ruang terbuka hijau malah dibangun perumahan.

Misal di daerah Gunungpati, Banyumanik, Ungaran, juga BSB.

"Dari data yang kami pegang, RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kota Semarang di daerah tersebut semestinya tidak menjadi pembangunan yang tak terkendali."

"Tetapi kenyataan di lapangan ternyata berbeda," lanjutnya.

Jika dibiarkan berlarut-larut, menurutnya banjir di Kota Semarang akan terus menjadi-jadi.

"Intinya tata kelola lahan harus sesuai dengan rencana.

Jika memang untuk daerah hijau, jangan sampai menjadi perumahan atau bangunan-bangunan lain," kata dia.

Lebih jauh, menurutnya banjir rob di Kota Semarang menjadi salah satu penyebab abrasi di pantai Kota Semarang.

Cara penanggulangan yang efektif bisa dilakukan ialah dengan penanaman mangrove.

Di Kota Semarang, menurut Budi beberapa wilayah semisal Mangunharjo, Tugu, Semarang sudah terbebas dari abrasi laut yang merusak karena penanaman beberapa jenis tanaman mangrove.

"Hal tersebut mestinya ditiru di tempat-tempat lain, semisal di kawasan Sayung Demak, dan daerah perbatasan Semarang-Demak, bisa ditumbuhi mangrove," terang dia.

Th. Wahyu Harso Prakoso, Kasi Pemulihan Lingkungan dan Perubahan Iklim Dinas Lingkungan Hijau (DLH) Kota Semarang menuturkan pihaknya terus melakukan segala upaya agar banjir di Semarang mereda, termasuk pembuatan daerah tangkapan air.

"Misalnya di kawasan Plalangan, Gunungpati Semarang kami jadikan daerah tangkapan air saat ini," imbuhnya.

https://jateng.tribunnews.com/2019/09/10/budi-sebut-kota-semarang-harus-perbanyak-daerah-resapan-air?page=all.

Kategori: