Abdikan Ilmu Untuk Kemajuan Daerah Kampung Halaman
Senin, 9 September 2019 | 9:59 WIB

“Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. “Segala sesuatu diperbolehkan.” Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun” Itulah motto hidup dari seorang Naomi Yuliana Clara Palekahelu  sebagai salah satu wisudawan terbaik dari Program Studi Magister Lingkungan dan Perkotaan Unika Soegijapranata dengan IPK 3,97. Wanita kelahiran 21 November  1990 di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, mengambil motto hidupnya dari Alkitab tepatnya di bacaan  1 Korintus 10:23.

Naomi yang katanya  mempunyai hobi membaca ini, sebelumnya juga pernah kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana untuk mengambil program studi S1 Sains Biologi. Ternyata ketika studi S1 Ia lulus dengan nilai yang terbaik pula. Sehingga ini sudah kedua kalinya Ia lulus sebagai wisudawan terbaik. “Penghidupan Berkelanjutan berbasis aset masyarakat Wunga Kabupaten Sumba Timur “, itulah judul tesis yang Ia ambil di program studi Magister Lingkungan dan Perkotaan (PMLP).

Putri dari Bapak Benyamin Wallang Setia Budi Palekahelu  dan Ibu Maria Olivia Nuch  ini diam-diam ternyata sekarang sudah bekerja di Dinas Lingkungan Hidup kabupaten Sumba Timur. Tempat Ia tinggal adalah di Waingapu, Sumba Timur, maka Ia pun kembali ke kampung halamannya untuk membangun daerahnya. “Bukan tidak mau keluar dari zona nyaman, selain karena lebih nyaman, saya merasa dengan ilmu yang ada kalau bisa menjadi sumbangsih untuk kemajuan Sumba (yang memang termasuk daerah tertinggal)”, itulah alasan lengkapnya  untuk bekerja kembali di daerah asalnya.

Harapannya setelah lulus dari S2 adalah kembali lagi ke Dinas Lingkungan Hidup kabupaten Sumba Timur. Terutama di daerah kampungnya termasuk ke dalam kampung yang adalah daerah terkering di sana. Dengan tesis yang Ia buat dapat menjadi rujukan untuk pemerintah agar desa-desa di daerah Sumba Timur tidak kering lagi. Karena memang daerah itu adalah daerah terkering.

Untuk mencapai sebuah kesuksesan tentunya pasti ada hambatan yang dialami. “Hambatannya karena penelitian saya jauh dari Semarang karena tuntutan pekerjaan”.  Tetapi  karena dosen di Unika terutama dosen pembimbing saya berkualitas dan rendah hati, maka saya bisa menulis dan bimbingan melalui e-mail. Dinas tempat Ia bekerja juga sangat mengerti sehingga dapat diizinkan untuk pulang-pergi Semarang-Sumba untuk ujian proposal sampai ujian tesis.

“Berusaha lakukan yang terbaik yang bisa kalian berikan. Lalu, mintalah pada Tuhan supaya dapat dibukakan jalan ketika kalian merasa sudah tidak ada jalan. Karena memang pada saat kuliah hambatan itu pasti ada. Tuhan beserta kalian”, itulah pesan dari Naomi untuk adik tingkat yang sedang mengenyam pendidikan di Unika Soegijapranata. (AAT-AS)

Kategori: ,