Sinergi Teknologi dan Pendidikan Masyarakat
Jumat, 9 Agustus 2019 | 13:50 WIB

image

Konsep revolusi industri 4.0 telah mengubah banyak paradigma, tidak hanya dunia industri, namun juga dunia pendidikan. Kini, sudah disusul oleh konsep baru, Society 5.0. Inovasi sosial didalamnya, tidak hanya memiliki fokus pada teknologi informasi, tapi menggunakan teknologi informasi agar seluruh anggota masyarakat memiliki respek satu dengan yang lain, dan setiap orang dapat aktif dan menikmati kehidupan.

Konsep ini merupakan pengembangan dari revolusi industry 4.0, yang dinilai berpotensi mendegradasi peran manusia. Dalam Society 5.0, nilai baru yang diciptakan melalui inovasi akan mengeliminasi kesenjangan regional, usia, gender dan bahasa.

Hal tersebut diulas dalam Seminar Pendidikan Tinggi Menuju Society 5.0, ‘Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Mandat Kemanusiaan’, yang digelar Forum Doktor LPPM Unika Soegijapranata Semarang, di kampus Bendan Dhuwur, Kamis (8/8).

“Big data atau algoritma menjadi ciri dalam revolusi industri 4.0. Persoalannya, bagaimana kita bisa mengolah data besar ini untuk menyejahterakan masyarakat. Budaya harus mampu menjadi semacam benteng, sehingga kita tidak menjadi kapitalisme atau sosialis, namun mampu berdiri ditengah,” papar Chief Technology Officer Inovator 4.0 Indonesia, Irendra Radjawali, yang hadir sebagai pembicara.

Innovator 4.0 merupakan kelompok yang memiliki kepedulian membangun Indonesia, saling berhubungan satu dengan yang lain, memimpikan Indonesia sebagai bangsa digital, yang berkedaulatan dalam data, dan berkeadilan dalam akses informasi.

Dalam kesempatan tersebut, lulusan doktor dari Jerman ini memaparkan materi tentang konsep Industry 4.0 menuju ke Society 5.0 ,terutama dalam pengembangan generasi muda yang berkarakter,  memiliki nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Selain itu juga hadir, Direktur Penjaminan Mutu Direktorat Penjaminan Mutu, Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Prof Aris Junaidi, yang membahas mengenai Dinamika Pendidikan Tinggi dalam menghadapi Society 5.0.

Sementara, Rektor Unika Prof Ridwan Sanjaya menjelaskan, Society 1.0 ditandai dengan masyarakat berburu, Society 2.0 bertani, Society 3.0 industri, Society 4.0 informasi, dan Society 5.0 berupa masyarakat cerdas.

“Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, keduanya menekankan pada Internet of Things (IoT), big data, kecerdasan buatan dengan sudut pandang masing-masing pembuat konsep.Keduanya juga seakan menjadi bagian dari perubahan jaman, karena inovasiinovasi yang mengganggu (disruptive),” terangnya.

Meskipun semuanya dirancang demi kebaikan, ada sisi-sisi yang dinilai kelam seperti pertanyaan akan konsep manusia di masa datang, pekerjaan yang hilang, keamanan data pribadi, dan masih banyak lagi. 

“Unika Soegijapranata sendiri sedang berjalan di atasnya. Terus menyempurnakan melalui pendekatan kebijakan, perubahan-perubahan konsep, dan penyesuaian teknologi informasi. Melalui kegiatan ini, diharapkan memantik daya kritis, dan memberikan sumbangan pemikiran kepada masyarakat,”pungkasnya.

►Wawasan 9 Agustus 2019 halaman 3

Kategori: