Merawat Nusantara Kita
Jumat, 23 Agustus 2019 | 14:56 WIB

SM 23_08_2019 Merawat Nusantara Kita

Oleh: Aloys Budi Purnomo Pr

MENCERMATI situasi sosial kemasyarakatan dan kondisi semesta alam negeri ini, saya teringat dan terkesan secara mendalam syair lagu yang dibuat oleh musisi kita, Aloysius Riyanto atau yang akrab dikenal ARiyanto. Musisi yang lahir di Surakarta, 23 November 1943 dan meninggal di Jakarta, 17 Juni 1994 pada umur 50 tahun itu adalah seorang komposer dan penyanyi Indonesia pada zamannya.

A Riyanto banyak menciptakan lagu populer bagi grupnya, Favourite Group. Banyak penyanyi yang membawakan lagunya seperti Tetty Kadi, Grace Simon, Rafika Duri, dan Dian Mayasari.

Salah satu lagu yang masih relevan dan signifikan hingga hari ini, bahkan kian memiliki urgensi untuk digemakan lagi adalah lagu berjudul “Nusantara(ku)”. Syairnya sangat bagus, mendalam, kontemplatif, dan memberikan kebahagiaan nasionalis dan ekologis (eco-nasionalism eco-happiness).

Mari kita coba resapkan selengkapnya syair lagu “Nusantara” seraya mensyukuri bahwa kita boleh menjadi bagian dari entitas kebangsaan ini. Sebaiknya kutipan syair berikut ini jangan hanya dibaca dengan mata fisik, melainkan dengan mata batin keindonesiaan. Maka kita akan menemukan daya energi kebangsaan, kerukunan, dan keberkahan sebagai warga Nusantara.

Bahkan, mengontemplasikan syair lagu ini akan menumbuhkan dalam diri kita kebanggaan dan komitmen menjaga keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup yang dengan mudah sudah dan sedang dieksploitasi oleh keserakahan industri berjubah kapitalisme ekonomi demi keuntungan sesaat lalu melupakan generasi mendatang. Beginilah, A Riyanto mewartakan Nusantara dengan segala keunggulan, keindahan, dan keberkahannya.

//Tiada lagi negeri seindah persada Nusantara, hutan rimba menghijau, tempat bersemayam burung margasatwa, gunung api yang tinggi megah, menambah semarak persadaku, lembah ngarai dan sungai-sungai, mengukir keindahan abadi, tanah pusaka aku pun dilahirkan di sana// Penduduknya gagah tampan, cantik molek tiada bandingnya, terkenal manis budi bahasa dan lemah lembut perangainya, mereka saling menghormati, saling menghargai hak asasi, mereka bernaung di bawah pusaka Garuda Pancasila, dan Sang Saka Merah Putih lambang Indonesia// Jagalah kelestarian sejarah budaya, semua rahmat Tuhan Yang Maha Esa, mari bersama-sama menjaga lingkungan hidup ini, hutan dan rimba, burung margasatwa sebagainya//

 

Relevansi dan Urgensi
Apa relevansi dan urgensi syair lagu itu dalam kondisi bangsa kita saat ini? Dalam kontemplasi saya menyerap dan mencermati syair lagu tersebut penuh kedalaman semangat kebangsaan. Setiap pilihan kata, frasa, dan kalimat yang membentuk bait-bait lagu itu penuh makna. Mestinya, siapa saja yang mengaku warga bangsa Indonesia memiliki kebanggaan yang sama sebagai bagian dari Nusantara.

Nusantara tak lain adalah kita yang hidup dalam naungan Garuda Pancasila yang Bhinneka Tunggal Ika di seluas negara kesatuan Republik Indonesia atas dasar Undang-Undang Dasar 1945. Nusantara itu adalah Nusantara kita bersama yang saat ini kian membutuhkan perhatian dan kepedulian kita untuk merawat dan menjaga keutuhannya.

Pertama, dengan rasa bangga mari kita syukuri bahwa kita hidup di Nusantara kita. Tiada negeri seindah persada Nusantara yang dilimpahi hutan rimba menghijau, tempat bersemayam burung margasatwa. Bahkan, negeri ini dikaruniai gunung api yang tinggi megah yang kian menambah semarak persada kita. Masih diperkaya oleh lembah ngarai dan sungai-sungai yang mengukir keindahan abadi. Inilah tanah pusaka kita, tempat kita dilahirkan tumbuh dan berkembang menggapai keadilan dan kesejahteraan.

Kedua, dengan lagu ini, yang memuji kita sebagai penduduk yang gagah tampan, cantik molek tiada bandingnya, membuat kita terusik dan bertanya, masihkan kita terkenal manis budi bahasa dan lemah lembut perangainya? Masihkah kita saling menghormati, saling menghargai hak asasi di antara kita dalam naungan pusaka Garuda Pancasila dan Sang Saka Merah Putih lambang Indonesia?

Ketiga, melalui syair lagu ini, A Riyanto jauh hari sebelumnya sudah mengingatkan bahkan menantang kita untuk merawat Nusantara. Pesannya jelas:
Jagalah kelestarian sejarah budaya. Semua ini adalah rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Maka, mari kita bersama-sama menjaga lingkungan hidup ini, hutan dan rimba, burung margasatwa dan sebagainya. Inilah pesan ekologis untuk menjaga harmoni, bukan mengeruk alam semesta hanya demi kepentingan ekonomi. Semoga kita semua mau menjaga Nusantara. Jangan pernah mau terjebak dalam sikap diskriminatif, apalagi ulah separatif.
Aloys Budi Purnomo Pr, The Soegijapranata Institute, Pastor Kepala Campus Ministry, mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata.

Suara Merdeka 23 Agustus 2019 halaman 6

Kategori: ,