Mengenang dan Meneladan Mbah Moen
Selasa, 13 Agustus 2019 | 11:02 WIB

image

MBAH Moen, sapaan akrab KH Zubair Maimoen, wafat (6/8/2019) di Mekkah. Jenazah Mbah Moen dimakamkan di Mekkah pula sesuai dengan pesan wasiatnya. Saat mendengar dan membaca kabar duka wafat Mbah Moen, saya langsung membuat refleksi pribadi dalam konteks NKRI.

Fokusnya adalah kharisma Mbah Moen sebagai pemimpin yang dengan gigih merawat dan mewartakan Pancasila dan NKRI harga mati dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Refleksi itu saya kirim dan dimuat keesokan harinya di sebuah Harian Suara Merdeka (7/8/2019, pada kolom "Wacana", h. 6 berjudul  Pemimpin Kharismatis Keindonesiaan). Kini, melalui tulisan ini. Ijinkan saya menyampaikan gagasan lain dari sisi kehidupan Mbah Moen sebagai sosok religius-nasionalis yang layak segera ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional bagi bangsa kita agar kita bisa selalu mengenang dan meneladan keutamaan Mbah Moen.

Menjelang tujuh hari Mbah Moen wafat, saya tergerak untuk mengenang dan meneladan Mbah Moen sebagai salah satu tokoh dan ulama beragama Islam yang selama ini saya kagumi. Caranya bagaimana? Saya menyelenggarakan “Doa Memule 7 Hari Wafat Mbah Moen” di Pastoran Johannes Maria Unika Soegijapranata, tempat saya tinggal saat ini.  Hal-hal inilah yang menurut hemat saya harus selalu dikenang, dicontoh dan dikembangkan ke depan dari keutamaan Mbah Moen.

Menjaga NKRI

Bagi Mbah Moen, NKRI harga mati. NKRI bagi Mbah Moen adalah NKRI sejati yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia. Maka, pasti bukan NKRI beryariah. Bukan pula Negara “Khilafah” Republik Indonesia.

Bagi Mbah Moen, NKRI tak berlawanan dengan keislaman. Keislaman dan Keindonesiaan adalah laksana sepasang tangan yang merajut dan merawat keberagaman dan kebersatuan. Semua diberi ruang setara sebagai warga bangsa. Mbah Moen tak pernah diskriminatif. Menerima dan merangkul siapa saja.

Itulah sebabnya, tanpa ragu, saya sebagai Pastor Katolik mengajak bersinergi Pelita (Persaudaraan Lintas Agama) dan Gusdurian Semarang untuk menyelenggarakan "Doa Memule 7 Hari Mbah Moen" pada hari Senin (12/8/2019, pukul 18.00 – selesai), meski sebenarnya, Mbah Moen tak membutuhkan doa kita sebab saya yakin Mbah Moen sudah bahagia di surga. Bahkan Mbah Moen-lah yang berdoa bagi kita semua yang masih berziarah di dunia ini. Pasti, Mbah Moen mendoakan kita semua agar kita rukun, bersatu dan bersaudara sebagai warga bangsa Indonesia, apa pun agama dan kepercayaan kita.

Maka, "Doa Memule 7 Hari Mbah Moen" lebih merupakan peristiwa sosial-religius untuk mewarisi spirit Mbah Moen sebagai pribadi religius dan nasionalis sekaligus. Saya mengajak siapa saja yang hadir untuk berdoa bersama Mbah Moen. Mbah Moen berdoa dari surga. Kita berdoa dari dunia tempat kita masih berziarah seraya menjaga keberagaman dalam kebersatuan.

Dengan itu, kita menghormati Mbah Moen dan bertekad melanjutkan spirit Mbah Moen dalam menjaga, merawat dan mewartakan NKRI sebagai rumah kita bersama berdasakan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Ulama religius-nasionalis

Bagi saya, Mbah Moen adalah sosok Ulama yang religius nasionalis dalam menjaga keindonesiaan. Beliau sangat gigih dalam mewartakan NKRI sebagai harga mati, tak bisa ditawar lagi dalam rangka visi kebangsaan yang bersatu dalam keberagaman. Itulah yang selalu ditegaskan Mbah Moen dalam berbagai kesempatan tausiyah kebangsaan dalam bingkai ke-Islam-an.

Saya mengenang dan mengagumi Mbah Moen adalah sosok religius (Islami) dan sekaligus nasionalis (NKRI sejati). Mbah Moen adalah pribadi yang berjiwa religius sekaligus nasionalis. Mbah Moen adalah sosok agamawan dan negarawan sejati. Kobaran jiwa dan semangat religius-nasionalis itu selalu membara dan membakar para pendengarnya dalam setiap tausiyah kebangsaan yang dilakukannya. Jiwa religius nasionalis itu bergelora dengan semangat yang menyala sepanjang usia Mbah Moen juga ketia Mbah Moen sudah sepuh (lanjut usia), gelora itu tetap menyala dan terwartakan dalam nada suara beliau yang tetap menggelegar.

Maka, dalam rangka mengenang dan mengoptimalkan dampak pengaruh aura Mbah Moen bagi generasi masa depan, saya tidak ragu-ragu menyerukan agar segeralah Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia menetapkan Mbah Maimoen sebagai Pahlawan Nasional. Mungkinkah?

Mengapa tidak? Sejarah bangsa ini telah mencatat, bahwa seorang Presiden Republik Indonesia memiliki otoritas dan hak untuk menetapkan sosok penting bagi bangsa ini menjadi Pahlawan Nasional tanpa harus menunggu lama. Itulah yang terjadi ketika Presiden Soekarno menetapkan Mgr. Albertus Soegijapranata sebagai Pahlawan Nasional, hanya dalam beberapa hari sesudah Uskup Agung Semarang pertama itu wafat di Belanda.

Mgr. Albertus Soegijapranata yang wafat tanggal 22 Juli 1963 ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno dengan mengeluarkan Surat Keputusan Presiden (Keppres) No. 152 tahun 1963 tertanggal 26 Juli 1963. Tak hanya itu, Presiden Soekarno menganugerahkan penghormatan kepada Mgr. Albertus Soegijapranata dengan pangkat Jenderal TNI Kehormatan sebagaimana tertuang dalam Kepres/Panglima Tertinggi ABRI No. 223/AB-AD tertanggal 17 Desember 1964 dan berlaku sejak tanggal wafatnya Mgr. Soegijapranata, 22 Juli 1963.

Karena itu, agar bangsa ini bisa selalu mengenang dan meneladan sosok Mbah Moen, sebagai warga bangsa Indonesia dan NKRI, saya berharap dan memberanikan diri mengusulkan kepada Presiden Jokowi agar berkenan segera menetapkan KH Maimoen Zubair sebagai Pahlawan Nasional. Saya yakin, dengan penetapan itu, pesan-pesan kebangsaan yang selama ini selalu disampaikan Mbah Maimoen akan tetap dapat diwariskan dan dilanjutkan secara otoritatif bagi generasi masa depan.

*Aloys Budi Purnomo Pr, Anggota FKUB Jateng, Anggota The Soegijapranata Institute, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata

https://investor.id/opinion/mengenang-dan-meneladan-mbah-moen

Kategori: ,