Mencintai Papua sebagai Indonesia
Jumat, 23 Agustus 2019 | 8:45 WIB

image

Oleh: Aloys Budi Purnomo Pr

Mencermati situasi dan kondisi sosial kebangsaan yang sedang “ditimpakan” kepada masyarakat Papua, kita semua sedih, prihatin dan berduka. Ada oknum yang lupa diri dan tidak menyadari bahwa masyakat Papua adalah kita. Masyarakat Papua adalah Indonesia. Indonesia adalah kita.

Maka, melukai masyarakat Papua dan memprovokasi kerusuhan yang menumbalkan masyarakat Papua merupakan tindakan yang bengis antinasionalis. Melukai masyarakat Papua sama dengan melukai Indonesia. Pelaku dan oknum-oknumnya merupakan orang-orang yang raja tega tanpa nurani, tanpa akal budi!

Di saat Pemerintahan Joko “Jokowi” Widodo sedang gencar memberikan perhatian dan pemerataan pembangunan bagi masyarakat Papua, ada pengecut-pengecut yang memuntahkan api diskriminasi demi membakar perdamaian dan menghanguskan kemanusiaan yang adil dan beradab. Mereka menyemburkan laknat pemecah belah demi kepentingan sesaat yang dirasuki oleh iblis berwajah dendam kesumat untuk memorakporandakan bangunan kebangsaan yang selama ini membingkai kita sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika atas dasar Pancasila dan UUD 1945.

Silaturahmi karena cinta
Atas nama cinta dan kerinduan untuk tetap menjaga perdamaian negeri ini, pada hari Rabu (21/8/2019), sebagai Pastor Kepala Campus Ministry, saya bekerjasama dengan para Sahabat GP Ansor Jawa Tengah merajut silaturahmi dengan mahasiswa dari Papua yang saat ini sedang studi di Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang. Tindakan sederhana ini bertajuk silaturahmi karena cinta. Kami mencintai Papua, sebab Papua adalah Indonesia!

Kita semua tidak rela bahwa masyarakat kita dijebak dalam arus provokasi destruktif yang rasis. Sikap rasis diskriminatif di mana pun harus dilawan dengan keras namun tanpa menggunakan cara-cara kekerasan. Sikap rasis diskriminatif tak boleh mendapat ruang di negeri yang berspirit Bhinneka Tunggal Ika!

Alih-alih menggunakan kekerasan yang destruktif dalam melawan sikap rasis yang disemburkan oleh para pengecut bangsa ini, kami menempuh jalur silaturahmi karena cinta. Meski awalnya tidak mudah, oleh sebab situasi dan kondisi yang masih dianggap sensitif, namun kami tidak mau permisif dan lamban dalam merespon keadaan yang dicabik-cabik kebencian.

Itulah sebabnya, dengan serba spontan karena cinta, fasilitasi kami lakukan. Menyambut seruan dan gerakan para Sahabat saya dari GP Ansor baik pusat maupun daerah, maka, saya merespon positif dan secepatnya sebab kemendasakan yang tak boleh tertunda untuk membangun silaturahmi sebagai lawan dari persekusi, perdamaian daripada permusuhan, kerahiman daripada kebencian.

Bersama dengan Patris, anggota Campus Ministry Unika, kami bisa mempertemukan sejumlah pengurus Ansor dengan mahasiswa Unika asal Papua. Meski tidak sesuai harapan dari sisi kuantitas, namun yang terpenting adalah kualitas silaturahmi karena cinta bisa terjadi. Dengan ramah dan rasa syukur, Risto dan Abi menerima pengurus Ansor Jawa Tengah bersama saya dan Patris.

Maksud dan kehendak baik kawan-kawan GP Ansor bertekad menjaga dan melindungi masyarakat Papua yang ada di seluas Nusantara, khususnya yang di Semarang dan Jawa Tengah patut diapresiasi. Keterbukaan dan kerahaman perwakilan mahasiswa Papua yang kuliah di Unika Soegijapranata pun bernilai tinggi dari sisi kebangsaan. Kemanusiaan dan keindonesiaan pun saling berpelukan demi mencintai Papua sebagai Indonesia.

Mewujudkan perdamaian
Mewujudkan perdamaian adalah panggilan semua orang tanpa diskriminasi baik dari sisi agama, suku, budaya, bahasa maupun kelompok. Sikap eksklusif mengutamakan kelompok atau komunitas menjadi tak hanya kerikil tajam namun bongkahan batu penghalang mewujudkan perdamaian.

Perjuangan mewujudkan perdamaian sudah terjadi bahkan sejak masa Perjanjian Lama (dalam perspektif Alkitab Injil) sebagaimana diserukan oleh Pemazmur, “Cukup lama aku tinggal bersama-sama dengan orang-orang yang membenci perdamaian. Aku ini suka perdamaian, tetapi apabila aku berbicara maka mereka menghendaki perang!” (Mazmur 120:6-7). Karenanya, mewujudkan perdamaian merupakan perjuangan panjang dan untuk segala zaman sepanjang masa seluas dunia.

Namun, dalam diri kawan-kawan GP Ansor dan perwakilan mahasiswa Papua yang mengadakan silaturahmi karena cinta, saya melihat upaya nyata mewujudkan perdamaian. Mewujudkan perdamaian bukan sikap reaktif atas keadaan yang lalu berbondong-bondong menyatakan sikap atas peristiwa yang terjadi atau sekadar memberikan seruan-seruan kata-kata hampa tanpa perbuatan nyata. Saling bertemu dengan pihak-pihak terkait terutama yang menjadi korban adalah bagian nyata dari upaya mewujudkan perdamaian.

Keraguan saya untuk membawa perdamaian melalui dunia kampus Unika Soegijapranata dalam konteks peristiwa Papua diretas oleh apresiasi spontan yang disampaikan Prof Dr Ir Y Budi Widianarko, Rektor Unika dua periode yang lalu. Tanpa sengaja kami saling berjumpa di parkiran, dan dengan wajah sumringah Prof BW – sapaan akrabnya – memberikan ucapan selamat karena momen silaturahmi antara GP Ansor dan unsur mahasiswa asal Papua yang kuliah di Unika Soegijapranata. Apresiasi itu menjadi siraman yang menyuburkan semangat mewujudkan perdamaian di tengah kehidupan kita yang ternyata secara diam-diam masih terancam oleh oknum-oknum egois penentang perdamaian sebagaimana dialami oleh Sang Pemazmur.

“Cukup lama aku tinggal bersama-sama dengan orang-orang yang membenci perdamaian. Aku ini suka perdamaian, tetapi apabila aku berbicara maka mereka menghendaki perang!”

Meski demikian, mari tetap dengan penuh semangat, kita bersama-sama bergandengan tangan demi mewujudkan perdamaian. Cara sederhana melalui silaturahmi karena cinta bisa menjadi ekstrapolasi untuk mencintai Papua dan bahkan siapa saja di negeri ini sebagai Indonesia!

*Aloys Budi Purnomo Pr, Budayawan Interreligius; anggota FKUB Jateng; Tim The Soegijapranata Institute; Pastor Kepala Campus Ministry; Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata, Semarang

https://investor.id/opinion/mencintai-papua-sebagai-indonesia

Kategori: ,