Kisah Sholat Jum’at Pertama di Kampus Unika
Senin, 19 Agustus 2019 | 9:01 WIB

image

Oleh Dr Tedi Kholiluddin, Lakpesdam PWNU Jawa Tengah.

“Romo, karena pelaksanaannya hari Jum’at berarti dibuat sholat Jum’at saja”.

Saya mengirimkan pesan di atas kepada Romo Aloysius Budi Purnomo. Romo Budi, adalah Pastur yang ditugaskan untuk menjadi rohaniwan di Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) Semarang. Pada masa penerimaan mahasiswa baru, ia diberi tanggungjawab untuk mengelola satu sisi yang sesungguhnya hanya sejam lamanya. Religion Time, nama sesi tersebut. Inilah bagian yang menarik dan ditradisikan oleh kampus yang awalnya adalah kampus para calon arsitek pada tiga tahun terakhir.

“Sesi Agama” dijadwalkan berjalan di hari terakhir sebelum penutupan pada pelaksanaan pengenalan terpadu mahasiswa baru (PTMB) atau kita biasa menyebutnya ospek. Di hari itu, peserta dipisahkan berdasarkan preferensi agamanya; Katolik, Islam, Kristen, Buddha, Hindu dan Konghucu. Kata Romo, ada beberapa mahasiswa yang mengaku sebagai penghayat kepercayaan. Ke depan, Romo berjanji untuk turut memfasilitasi mereka di sesi religion time ini.

Unika mestinya tak perlu pusing-pusing membalut keragaman dengan memberi asupan spiritualitas pada mahasiswa baru ini. Membiarkan mereka dengan keyakinan masing-masing sebagai urusan personal, adalah pilihan yang sesungguhnya bisa diambil. Kampus bisa saja tak perlu menampilkan jatidiri mahasiswa yang beda agama itu dalam panggung terbuka.

Tapi, Unika tidak memilih jalan itu. Secara sadar, keragaman itu dihadirkan dengan benderang. Dengan begitu, mahasiswa akhirnya mengenali mereka yang berbeda. Meski tidak ada fakultas teologi, namun nilai-nilai spiritualitas hadir menggarami.

Berjumpa dengan yang lain menimbulkan konsekuensi-konsekuensi; jika ia eksklusif, maka yang lain akan diexclude, kalau ia inklusif, maka yang berbeda bisa menjadi partner, Kalaupun seseorang belum punya sikap, ruang perjumpaan bisa dibangun, pengalaman akan menjadi panglima.

Tahun 2019, ada sekitar 300-an lebih mahasiswa muslim dari sekitar 1700an mahasiswa baru. Di dua tahun terakhir, mahasiswa muslim ada di kisaran 20% seluruh jumlah mahasiswa. Sebenarnya, mencermati mahasiswa sebuah berdasarkan pilihan agama itu perkara penting dan mungkin juga tidak penting.

***

16 Agustus 2019, Panitia PTMB telah menyulap sport hall menjadi tempat sholat. Podium dan kursi untuk khotib jumat sudah disiapkan. Jika digunakan penuh, lapangan bisa dipakai untuk 1000-an jamaah sholat. Mahasiswa muslim berangkat dari masing-masing fakultas dan sudah berkumpul di hall sekitar pukul 11.30.

Karena perlu muroqqiy dan muadzin, saya membawa serta Jaedin. “Suara kamu bagus gak, Jed” saya bertanya untuk sebuah jawaban yang sudah saya ketahui. “Kalau suara sih pasti tidak bagus mas,” jawabnya. Sesuai dugaan. Saya datang agak terlambat karena harus mengikuti sebuah acara terlebih dahulu. Jaedin sendiri sudah menunggu di Unika. Kami pun berangkat menuju hall dengan diantar oleh seorang panitia.

Saya mencermati situasi. 180-an orang jamaah laki-laki sudah duduk tertib di tempat yang sudah disediakan. Sementara jamaah wanita duduk di kursi yang biasa digunakan oleh penonton kala menonton pertandingan. Saya mengambil mik dan menyampaikan informasi berkaitan dengan pelaksanaan sholat jumat dan sholat dluhur bagi mahasiswa perempuan.

“Untuk menjaga kekhusyu’an, harap semua yang hadir bisa mengikuti pelaksanaan ibadah sholat jumat dengan tertib. Jamaah perempuan bisa menyimak khotbah, kemudian melaksanakan sholat dluhur seusai pelaksanaan sholat jum’at,” saya menyampaikan rencana pelaksanaan sholat jumat siang itu.

Jaedin kemudian berganti mengambil mik. Ia mengumandangkan adzan dluhur dilanjut dengan sholat sunnah, adzan kedua dan kemudian penyampaian khotbah jum’at. Karena ada di momen kemerdekaan, maka tema khutbah jumat juga saya sesuaikan dengan tema tersebut.

Saya menukil kisah tentang Nabi Muhammad sebagai seorang yang amat mencintai tanah airnya serta pesan-pesan Khalifah Umar bin Khattab ihwal negara dan kebangsaan. Dengan merujuk pada praktik nabi dan penggantinya, umat Islam tak ragu lagi mencintai tanah airnya. Agar tak ada lagi yang berujar “nasionalisme tidak ada dalilnya”. Begitulah kurang lebih yang saya sampaikan.

Ada satu ruang di kampus ini yang biasa digunakan sholat, tetapi ruang itu tidak digunakan sholat Jum’at. Mahasiswa Unika biasa mengikuti sholat jumat yang letaknya hanya sepelemparan batu dari kampus.

Sepanjang sejarah perjalanan kampus Unika, mungkin inilah sholat jumat pertama yang diselenggarakan di kampus tersebut. Momen Sholat Jum’at pada pelaksanaan PTMB hari itu, amatlah bersejarah. Bersejarah bagi Unika, sekaligus bagi umat Islam yang menjalankan Sholat Jum’at di kampus Katolik tersebut.

https://bangkitmedia.com/kisah-sholat-jumat-pertama-di-kampus-unika/

Kategori: