Hambatan Bertumbuh 7%
Selasa, 20 Agustus 2019 | 11:20 WIB

 SM 20_08_2019 Hambatan Bertumbuh 7%
Oleh: Andreas Lako

Secara historis, kenaikan pertumbuhan investasi tidak selalu berbanding lurus dengan tren pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi RT dan pengeluaran pemerintah

DALAM artikel "Bumerang Pertumbuhan Tinggi" (Suara Merdeka, 15/7/2019), saya mengingatkan bahwa permintaan khusus dari  Menteri Keuangan dan Presiden Jokowi kepada Gubernur Ganjar Pranowo agar pertumbuhan ekonomi Jateng bisa bertumbuh di angka 7% pada 2019 dan seterusnya tidak realistis. Alasannya, selain karena selama 20 tahun terakhir perekonomian Jateng belum pemah bertumbuh di atas 7%, keseimbangan pertumbuhan ekonomi antara sisi permintaan dan penawaran ekonomi juga bergerak secara moderat.

Dalam delapan tahun terakhir, ekonomi Jateng bahkan hanya bertumbuh di bawah 5,5%. Karena itu, memacu pertumbuhan ekonomi di angka 7% adalah sesuatu yang mustahil.

Selain itu, kalaupun investasi berhasil dipacu dan pertumbuhan 7% tercapai, permasalahan sosial dan lingkungan bakal kian meningkat. Risiko dan biaya yang ditanggung masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah dari meningkatnya komplikasi permasalahan tersebut akan sangat serius pula. Risiko dan biaya tersebut pada akhirnya akan mendegradasi kualitas ekologi, sosial, dan ekonomi. Tujuan utama dari pertumbuhan ekonomi itu untuk menciptakan kesejahteraan dan kedamaian masyarakat dan bangsa.

Bukti-bukti empiris dari sejumlah provinsi (termasuk Jateng) dan negara yang pemah mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi tapi juga diikuti pula dengan meningkatnya krisis sosial dan lingkungan yang kompleks memperkuat kekhawatiran saya di atas. Bukti-bukti historis tersebut hendaknya ‘juga menjadi alarm bagi Pemprov dan semua pemangku kepentingan di Jateng agar ekstra hati-hati dalam merespons permintaan Presiden Jokowi dan mendesain peta jalan menuju pertumbuhan ekonomi 7%. Tulisan ini membahas hambatan utama untuk bertumbuh 7%.

Hambatan Utama 
Sedikit berbeda dengan opini Prof FX  Soegiyanto  dalam artikel “Roadmap Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen” (Suara Merdeka, 22/7/2019) yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi 7 persen masih bisa dicapai asalkan kombinasi dari lima faktor berikut yaitu (1) modal dasar yang cukup tersedia, (2) alokasi sumber daya yang tepat, (3) kelembagaan yang memadai, (4) lingkungan strategis yang mendukung, dan (5) kepemimpinan yang efektif bisa dikelola secara efektif,  saya justru berpandangan sebaliknya. Saya pesimis bahwa Jateng bisa mencapai pertumbuhan 7% yang berkualitas dalam lima tahun ke depan. Mengapa?

Dalam hasil studi saya (2019), penghambat  utama perekonomian Jateng bisa bertumbuh 7% adalah karena pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan (konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, ekspor dan impor) dan sisi penawaran (sektor-sektor lapangan usaha) selalu bergerak dan bertumbuh secara moderat dari tahun ke tahun.

Dari sisi permintaan ekonomi,  konsumsi rumah tangga (RT) yang memberi kontribusi 61% dalam PDRB Jateng dalam lima tahun terakhir, pertumbuhannya ternyata hanya berkisar 4,3% (2014) hingga 4,7% (2018). Investasi yang berkontribusi 30%-33% untuk PDRB, pertumbuhannya berkisar  4,5% hingga 7,7%. Sementara pengeluaran pemerintah yang berkontribusi sekitar 8% untuk PDRB, hanya memiliki tingkat pertumbuhan sekitar 3%. Sementara itu, kontribusi impor dibanding ekspor selalu lebih besar dengan selisih sekitar 3%.

Dari tingkat pertumbuhan itu, pertanyaannya apakah memacu investasi dan membenahi birokrasi seperti diharapkan Presiden Jokowi akan memacu pertumbuhan ekonomi dari konsumsi RT sebagai lokomotif perekonomian Jateng dari sisi pemintaan? Jawabnya, belum tentu!

Secara historis, kenaikan pertumbuhan investasi tidak selalu berbanding lurus dengan tren pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi RT dan pengeluaran pemerintah. Kenaikan investasi juga tidak meningkatkan pertumbuhan ekonomi ekspor. Malah yang terjadi justru sebaliknya. Yaitu, kenaikan investasi justru meningkatkan impor sehingga menyebabkan keseimbangan ekonomi dari sisi permintaan dan penawaran kian timpang. Akibatnya, implikasi positifnya terhadap peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat dan daerah menjadi melambat. 

Dari sisi penawaran, pencapaian pertumbuhan ekonomi Jateng berkisar 5,2%-5,3% dalam lima tahun terakhir tenyata bukan dipacu oleh sektor primer dan sekunder. Tapi, lebih banyak dipacu oleh sektor-sektor usaha tersier atau pendukung seperti jasa pendidikan, informasi dan komunikasi, penyediaan akomodasi dan makanan-minuman, transportasi dan pergudangan, jasa kesehatan dan kegiatan sosial, dan sektor-sektor lainnya. Sektor-sektor pendukung yang dalam  struktur nilai PDRB hanya memberi kontribusi sebesar 1%-4% tersebut ternyata memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi di atas 7% hingga 16%.

Sementara itu, sektor-sektor primer dan sekunder yang menjadi basis perekonomian Jateng yaitu industri pengolahan, pertanian, kehutanan dan perikanan, perdagangan dan konstruksi tingkat pertumbuhannya kecil. Selama lima tahun terakhir, indusutri pengolahan yang memberi kontribusi 35% untuk PDRB, tingkat pertumbuhannya hanya 4-5 persen. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan yang kontribusi nilainya terus menurun,  pertumbuhannya hanya berkisar 2-3 persen. Sektor perdagangan sebagai kontributor terbesar ketiga PDRB, tingkat pertumbuhannya terus naik dari 4% menjadi 6%.  Sementara itu, tingkat pertumbuhan sektor konstruksi berkisar 6-7 persen.

Dari tingkat pertumbuhan tersebut, maka memacu tingkat pertumbuhan dari sektor industri pengolahan dan sektor pertanian, kehutanan dan perikatan untuk mencapai pertumbuhan 7% dalam lima tahun ke depan adalah misi yang sangat sulit tercapai. Yang masih bisa dipacu bertumbuh lebih tinggi adalah sektor perdagangan, kontruksi dan sektor-sektor usaha tersier lainnya karena masih prospektif.

Namun, apakah memacu pertumbuhan sektor-sektor usaha (sisi penawaran) dengan cara memacu investasi secara otomatis akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi ke level 6% hingga 7%?  Jawabnya, belum tentu! Alasannya, karena pertumbuhan sebesar itu masih akan sangat tergantung pada kekuatan permintaan dari sisi konsumsi RT  dan ekspor. Apabila pertumbuhan konsumsi RT dan ekspor dalam lima tahun ke depan masih bergerak secara moderat maka upaya-upaya memacu investasi untuk mendongkrak pertumbuhan dari sisi penawaran ekonomi hanya akan menciptakan  ketimpangan baru serta  komplikasi permasalahan baru sosial, ekonomi dan lingkungan yang serius.

Pertumbuhan Berkualitas
Hambatan lain yang akan menahan laju pertumbuhan ekonomi Jateng mencapai 7% adalah diterapkannya model pembangunan daerah berbasis Sustainable Development Goals (SDGs). Seperti diketahui, sejak 2016 Jateng telah mengadopsi model pembangunan SDGs yang mengintegrasikan aspek-aspek ekonomi, sosial dan lingkungan secara terpadu dalam tatakelola pembangunan. Pada 2019-2024, pembangunan berbasis SDGs tersebut akan diimplementasikan secara konsisten di Jateng  dan seluruh daerah di Indonesia.

Penerapan model pembangunan berbasis SDGs tersebut tentu akan meningkatkan secara signifikan costs ekonomi dari sisi permintaan. Sementara dampaknya terhadap sisi penawaran ekonomi juga akan signifikan. Namun, implikasi dari hasil pembangunan  berbasis SDGs  tersebut terhadap kenaikan tingkat pertumbuhan ekonomi sangat kecil. Sementara dampak positifnya terhadap penurunan kemiskinan, kesenjangan dan pengangguran  serta kenaikan tingkat pendapatan dan kesejahteraan ekonomi masyarakat cukup besar.

Dalam artikel “Memacu Pembangunan Berkeadilan” (Suara Merdeka, 31/1/2019), saya telah memaparkan bahwa  penerapan model  pembangunan berbasis SDGs yang dilakukan Jateng sejak 2016 telah menghasilkan pertumbuhan ekonomi berkualitas. Meski dampak positifnya terhadap pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun relatif kecil, namun dampaknya terhadap peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat cukup besar. Secara umum, dampaknya terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi dan kehidupan sosial serta kelestarian lingkungan semakin membaik.

Berdasarkan uraian di atas, maka bisa disimpulkan bahwa target terpenting dalam pembangunan suatu daerah (negara) bukanlah bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tapi, bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, berkeadilan dan berkelanjutan. Pertumbuhan tersebut, selain mampu memperkuat keselarasan dan keberlanjutan lingkungan, sosial dan lingkungan secara terpadu, juga mampu menghasilkan kesejahteraan, kebahagiaan dan kedamaian hidup bersama umat manusia.

Menurut amatan saya, tujuan pembangunan Jateng dalam lima tahun terakhir telah mengarah pada pertumbuhan berkualitas tersebut. Karena itu, pertumbuhan tersebut hendaknya terus dilanjutkan dan diakselerasi agar dampak-dampak positifnya terhadap kesejehateraan sosial dan ekonomi, serta kelestarian lingkungan kian membesar.

_________________
Andreas Lako,
Guru Besar Akuntansi Hijau; Ketua Program Doktor Ilmu Lingkungan Unika Soegijapranata

Suara Merdeka 20 Agustus 2019 hal. 6

Kategori: ,