Retno Ingin Lulusan Bisa Mendesain Perkotaan Tanpa Merusak Alam
Senin, 22 Juli 2019 | 11:01 WIB

image

Unika Katolik( (Unika) Soegijapranata membuka prodi Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan. Prodi baru ini menjadi yang keempat di Indonesia.

Kaprodi Rekayasa Infrastruktur Lingkungan Retno Susilorini mengatakan, prodi tersebut dlharapkan bisa menghasilkan lulusan yang dapat mendesain dan menganalisis perkotaan tanpa merusak alam.

"Fokus kami mencetak lulusan Rekayasa Infrastruktur Perkotaan dan Lingkungan," kata Retno dalam pembukaan prodi tersebut di kampus Unika Soegijapranata Semarang, Rabu (17/7) siang.

Menurutnya, dl Indonesia, prodi serupa lebih dulu ada di ITB, Universitas Haluoleo, dan Institut Teknologl Trisaktl. Kini ditambah Unika Soegijapranata. Namun, keempatnya, menurut Retno, memiliki fokus berbeda.

Di antaranya, ITB berfokus di infrastruktur Limbah, Universitas Haluoleo fokus di infrastruktur sipil umum, Institut Teknologl Trisakti fokus di lnfrastruktur perkeretaapian, dan Unika Soegijapranata mengambil fokus infrastruktur perkotaan.

"Ini relevan dengan misi Unika Soegijapranata yakni eco pemukiman. Atau, menciptakan pemukiman yang ramah alam," terang dia.

Menurutnya prodi rekayasa infrastruktur dan lingkungan menggabungkan tiga hal penting, yakni rekayasa sipil, pembangunan perkotaan, dan teknik lingkungan. Maka, kompetensi lulusannya adalah sarjana teknik.

"Kompetisinya seorang engineer. Merekayasa, merancang, mendesain dan analisis terkait perkotaan yang berslfat eco pemukiman," ujarnya.

Di dalam prodi ini, ada program khusus bagi peminat yakni program S1 -S2 smart city. Para mahasiswanya dapat menempuh studi S1 dan S2 secara terusan selama 5 tahun.

Angkatan pertama prodi ini Retno tak menarget jumlah mahaslswa. Pihaknya membuka pintu lebar bagi calon mahasiswa yang berminat. Sementara, Rektor Unika Soegijapranata Ridwan Sanjaya mendorong lulusan prodi ini bisa membantu menyelesaikan permasalahan pemukiman kumuh yang masih ada di sejumlah wilayah di Indonesia. “Karena ini masalah urgent. Kami berharap besar, lulusan program ini bisa menyelesaikan permasalahan pemukiman kumuh," harapnya.

►Tribun Jateng 18 Juli 2019  

Kategori: