Refleksi 82 Tahun Ngesti Pandawa
Selasa, 9 Juli 2019 | 8:38 WIB

SM 9_07_2019 Refleksi 82 Tahun Ngesti Pandawa

Oleh Ridwan Sanjaya

“Kebudayaan warisan leluhur tidak selalu harus direpresentasikan dalam wajah yang lama dan suram”

MERAYAKAN usianya ke-82 tahun, Ngesti Pandawa masih mampu menyuguhkan pertunjukan wayang orang yang menarik untuk ditonton dan diikuti oleh masyarakat dari berbagai lapisan. Hal ini terlihat dari banyaknya penonton yang memenuhi kursi di lantai satu sampai dengan tribune di lantai dua.

Penonton pun bertahan menyaksikan pertunjukan sampai usai. lni bisa dimaknai sebagai petunjuk bahwa sebetulnya pertunjukan seni dan budaya seperti wayang orang masih diminati dan disukai oleh masyarakat, terutama warga Kota Semarang.

Namun keterlibatan berbagai sanggar tari juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari antusiasme masyarakat untuk menonton pertunjukan sampai larut malam. Setiap sanggar sari tampil cantik dan menarik ketika mengawali acara. Artinya, pertunjukan wayang orang bisa menjadi lebih diminati dan menarik antusiasme masyarakat jika menggabungkan keterlibatan sanggar tari yang ada di sekitar masyarakat. Kesempatan untuk tampil di hadapan masyarakat secara luas di Ngesti Pandawa merupakan bagian dari prinsip saling menguntungkan yang dapat diolah.

Satu hal yang tidak kalah penting adalah keterlibatan tokoh masyarakat di atas panggung, dari unsur birokrat pernerintah, dosen, tenaga kependidikan, dokter, sampai polisi. Tokoh-tokoh masyarakat yang umumnya juga pencinta seni dan budaya itu juga secara langsung ataupun tidak langsung menghadirkan keluarga, kolega. dan teman-teman di lingkungannya.

Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Dr Sri Puryono KS bahkan menekankan, keterlibatannya dalam pentas di berbagai acara sejenis tidak perlu dihargai secara finansial tetapi dengan kehadiran masyarakat. Artinya, kesediaan tokoh masyarakat untuk terlibat dapat menjadi bagian dari ramuan pertunjukan yang dapat dijadwalkan jauh-jauh hari. Meski bukan profesinya, tokoh-tokoh masyarakat yang terlihat di sana dapat dilihat bermain dengan baik.

Dukungan teknologi cahaya dan komputer cukup menguatkan kesan pertunjukan yang profesional. Narasi cerita di kedua sisi panggung banyak membantu penonton dari generasi muda dalam mengikuti kisah dan nama-nama tokoh wayang orang yang sedang dimainkan di panggung. Meskipun pemain sering menggunakan Bahasa Jawa halus, penonton yang tidak cukup menguasainya tetap dapat mengikuti cerita dan tidak sekadar menikmati adegan demi adegan di panggung.

Jaring Wisatawan
Pertunjukan yang rutin dilaksanakan setiap Sabtu malam merupakan modal untuk menjaring wisatawan yang datang ke kota Semarang. Dalam forum group discussion (FGD) yang diadaluat tahun lalu di Unika Soegijapranata, pengelola perjalanan wisata belurn banyak yang tahu jika pentas diada secana rutin setiap Sabtu tanpa terkecuali. Padahah sejak 2017, beberapa hotel seperti Novotel, Ciputra, Grand Candi, Patra Jasa, dan Grand Arkenso (dulu Horison) dengan dukungan Dinas Pariwisata Jawa Tengah juga membantu menginforrnasikan melalui stand banner di ruang lobi.

Meskipun dalam beberapa tahun ini masyarakat Kota Semarang makin akrab dengan Ngesti Pandawa dan berbagai media sosial secara rutin menginformasikan, selalu ada ruang untuk perbaikan yang dapat dilakukan untuk membuat penonton makin mencintai ikon Kota Semarang ini. Sarana dan prasarana di Taman Budaya Raden Saleh merupakan sesuatu yang punting untuk diperhatikan. Dan pintu masuk, parkir, loket, kamar kecil, ruang penonton sampai panggung pertunjukan perlu menjadi agenda revitalisasi.

Kebudayaan warisan leluhur tidak selalu harus direpresentasikan dalam wajah yang lama dan suram. Penonton bisa saja di bawa dalam suasana nostalgia ketika menonton pertunjukan rakyat pada zaman dahulu, namun juga perlu diajak kembali menonton karena lingkungannya nyaman untuk keluarganya atau bahkan memungkinkannya mengajak tamu-tamu yang dibanggakan, baik domestik maupun mancanegara.

Saat ini adalah momentum yang tepat untuk mengangkat kembali pertunjukan kesenian wayang orang yang hanya tersisa tiga di Indonesia. Wisata yang membahagiakan semakin dibutuhkan oleh masyarakat yang makin kompetitif perlu didukung oleh lokasi yang nyaman dan fasilitas yang mendukung. Generasi muda masih menginginkan pertunjukan seperti ini. Pentas 82 Tahun Wayang Orang Ngesti Pandawa pada 6 Juli 2019 oleh generasi muda telah membuktikannya.

Selamat ulang tahun ke-82 Wayang Orang Ngesti Pandawa! Semoga makin menjadi kebanggaan warga Kota Semarang dan masyarakat Indonesia.

 
— Prof Dr Ridwan Sanjaya, Rektor Unika Soegtjapranata, Guru Besur Sistem Informasi, dan peneliti keseniun wayang orank

►Suara Merdeka 9 Juli 2019

Kategori: ,