PICASO 2019 Bahas Gen Z sebagai Manusia Pelintas Batas
Selasa, 16 Juli 2019 | 10:19 WIB

Pauline Pantauw SPsi MPsi Psikolog saat paparkan materinya dalam seminar PICASO 2019

Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata kembali mengadakan kegiatan PICASO (Psychology Soegijapranata Academic Competition) yaitu semacam lomba debat yang memiliki rangkaian mulai dari seminar, lomba debat itu sendiri, dan city tour.

Kegiatan yang diadakan rutin setiap tahun ini berlangsung selama tiga hari mulai dari tanggal 11 Juli 2019 hingga 13 Juli 2019, dan diikuti oleh para peserta yang berasal dari perwakilan mahasiswa fakultas psikologi dari universitas se-Pulau Jawa.

Kegiatan PICASO 2019 diawali dengan seminar dengan tema “Gen Z : Menjadi agen  perubahan dalam dunia digital”, juga merupakan tema keseluruhan picaso pada tahun ini dan diselenggarakan di ruang Teater gedung Thomas Aquinas kampus Unika, pada Kamis (11/7).

Hadir sebagai narasumber dalam seminar tersebut yaitu Pauline Pantauw SPsi MPsi Psikolog yang dikenal memiliki keahlian di bidang anak-anak, remaja, addiction dan sexology.

Dalam paparannya Pauline lebih menitikberatkan pada tiga poin mengenai karakteristik generasi Z. Poin pertama adalah mengenai digital, yaitu generasi Z ternyata hampir rata-rata sulit membedakan mana yang dunia fisik dan mana yang dunia digital. Poin berikutnya adalah mengenai DIY (Do it yourself), yang berarti bahwa generasi Z lebih mempunyai jiwa kewirausahaan, selalu ingin berkreasi dan mengembangkan hal-hal yang perlu untuk kemajuan diri sendiri dan orang lain. Dan poin yang ketiga adalah mengenai FOMO (Fear of missing out) atau timbulnya kecemasan di antara pribadi generasi Z karena tidak mau melewatkan sesuatu.

Masih menurut Pauline menambahkan, generasi Z ini mempunyai kekhasan tersendiri. “Banjirnya informasi dan budaya sudah campur aduk. Semua informasi dapat dengan mudah diketahui melalui internet dengan gawai atau smartphone. Maka generasi Z harus siap untuk senantiasa mampu menyesuaikan dirinya,” tuturnya.

“Karena memang negara luar yang kita lihat di internet belum tentu budayanya sesuai dengan negara Indonesia,” tambahnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa misalnya seperti gerakan LGBT. Mungkin sebagian orang di Indonesia sudah mulai tidak masalah terhadap hal itu. Namun sekali  lagi memang perlu difilter untuk budaya yang memang tidak sesuai dengan budaya Indonesia sendiri.

Pauline juga berpesan kepada generasi Z bahwa tidak semua nila-nilai generasi sebelumnya itu bersifat old school. Jadi sangat penting untuk memegang nilai-nilai keluarga atau pun agama. Sebab hal itu dapat menjadi bekal kita untuk menghadapi dunia digital, revolusi industri.

“Kita memang tidak bisa membatasi segala informasi yang masuk. Maka nilai itu perlu dipegang meskipun dunia berubah, revolusi berubah, teknologi berubah, tetapi nilai-nilai keluarga dan agama  jangan sampai berubah”, tutupnya. (AAT-AS)

Kategori: ,