Jembatani Gap dengan Harmonisasi Kurikulum KKNI
Senin, 29 Juli 2019 | 18:22 WIB

Salah satu narasumber seminar,  Titi Agustina SE CMT CPHRM saat menyampaikan paparannya

Harmonisasi Kurikulum KKNI menjadi hal yang penting untuk menjembatani antara dunia industri dengan perguruan tinggi, demikian pernyataan tersebut disampaikan oleh Titi Agustina SE CMT CPHRM, tatkala menjadi narasumber pada sebuah seminar pada hari Sabtu (27/7) di ruang Teater gedung Thomas Aquinas Unika Soegijapranata.

Seminar yang bertemakan “Harmonisasi Kurikulum KKNI berstandar SKKNI” selain mengundang narasumber Titi Agustina SE CMT CPHRM selaku Ketua Perhimpunan Sumberdaya Manusia DPD Jawa Tengah sekaligus Direktur Area Gerakan Nasional Indonesia Kompeten Jawa Tengah, juga mengundang narasumber lain yaitu Dr Suharnomo SE MSi sebagai perwakilan akademisi dan Megawati Santoso PhD dari Dikti.

Lebih lanjut Titi Agustina menjelaskan bahwa Kualifikasi Kerja Nasional Indonesia (KKNI) menjadi kerangka acuan yang dipergunakan oleh industri, oleh karena itu perlu standar supaya tidak terjadi gap diantara perguruan tinggi dengan industri.

“Kebutuhan sumber daya manusia di industri dipenuhi dari yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Maka perlu harmonisasi antara industri dengan perguruan tinggi supaya para lulusan perguruan tinggi  bisa berkompeten dan siap berdaya saing. Sedangkan kompeten dimaksud adalah dalam skill, knowledge dan attitude,” ungkap Titi.

“Ketika kita berbicara KKNI maka kita akan membahas kualifikasi. Seperti misalnya kualifikasi yang dibutuhkan oleh seorang manager HR (Humas Resource), dia harus mampu manajemen talenta, mampu sebagai recruiter, mampu membuat manpower planning, tahu bagaimana mendevelop  personnel development-nya, itu adalah kualifikasi jabatan untuk level manager tadi,” tegasnya.

“Sedangkan keluaran dari perguruan tinggi (S-1) itu oleh perguruan tinggi dipandang berada pada level enam (manager). Sebaliknya di industri, lulusan perguruan tinggi levelnya masih dianggap lima atau empat (supervisor) atau dikatakan belum siap pakai kecuali memiliki usaha sendiri. Sehingga antara harapan perguruan tinggi dan industri ini belum match atau sesuai. Disinilah kita akan harmonisasikan kurikulum perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan industri,”tandas Titi.

Lebih lanjut Titi Agustina juga menambahkan bahwa kelemahan dari para mahasiswa sebagai calon lulusan perguruan tinggi saat ini adalah pada mentalnya. Artinya jika dilihat dari kompetensinya, mungkin dari sisi skill dan knowledge sudah terpenuhi tetapi yang masih harus ditingkatkan adalah mentalnya, daya tangguhnya, culture atau attitude-nya. Di sini industri membutuhkan orang-orang yang kreatif problem solving, orang yang bisa berkolaborasi dan komunikasi aktif.

Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC selaku Rektor Unika Soegijapranata yang membuka acara seminar juga menyampaikan beberapa catatan terkait KKNI.

“Saat kita membicarakan tentang link and match antara pendidikan dengan industri, memang bukan hal yang mudah. Maka masing-masing, baik pendidikan maupun industri perlu positive thinking dan menyesuaikan realita, supaya antara harapan dan realita tidak terlalu jauh,” pesan Prof Ridwan.

“Saat ini kita masuk era disruptif, maka muncul terminologi-terminologi baru seperti industri 4.0 kemudian society 5.0, bahkan orang-orang pun dibuat salah paham bahwa pergerakannya terlalu cepat, padahal sebetulnya tidak. Sebenarnya kita sedang pada masa yang sama. Industri 4.0 berbicara tentang teknologi informasi yang sekarang sudah maju, society 5.0 meskipun angkanya berbeda juga berbicara tentang hal yang sama, cuma yang satu sudut pandangnya dari industri dan yang satunya lagi dari sudut pandang pemerintah yang berbicara tentang society atau penduduk atau masyarakat, tetapi intinya adalah sama, hanya butuh jembatan saja,” terang Prof Ridwan.

“Jadi sama dengan acara seminar hari ini, hanya butuh jembatan yang akan dirumuskan bersama supaya levelnya saling mendekati atau sama. Dan acara seperti ini pada prinsipnya sebagai kemajuan, artinya jika sejak awal itu terus bersinggungan, lama-lama akhirnya akan mencapai titik temu,” tambahnya.

“Hal lain, tantangan ke depan juga selalu berubah sesuai perkembangan zaman. Maka berbagai hal perlu dipertimbangkan bersama antara dunia industri, dunia pendidikan bersama pemerintah, supaya apa yang kita bicarakan bersama hari ini bisa menjadi pencerahan dan pemantik untuk berbuat lebih baik bagi negara ini, sehingga para mahasiswa ataupun tenaga kerja bisa membuat negara ini lebih maju,”pungkas Prof Ridwan.(fas)

Kategori: ,