CAS Fakultas Psikologi Bahas Adiksi Gadget dalam Seminarnya
Jumat, 19 Juli 2019 | 17:34 WIB

Dr Christin Wibhowo SPSi MSi, sebagai narasumber seminar saat memaparkan materinya

Kemajuan teknologi yang saat ini sedang berkembang telah mendisrupsi banyak bidang dan kalangan, termasuk dampak dari perubahan itu sendiri tentu secara langsung maupun tidak langsung akan menimbulkan hal-hal baru termasuk salah satu diantaranya adalah kebiasaan anak-anak muda sekarang (generasi milenial) yang memang sudah sejak lahir mengenal yang namanya internet.

Menanggapi perubahan tersebut, maka pada hari Jumat (19/7) Center for Addiction Studies (CAS) Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata telah menyelenggarakan seminar dengan tema :”Kupas Tuntas Adiksi Gadget, Apa dan Bagaimana Solusinya?” dengan mengundang narasumber Dr Christin Wibhowo SPSi MSi yang merupakan dosen Fakultas Psikologi Unika yang  juga seorang Psikolog.

Acara seminar yang dilaksanakan di ruang  204 B gedung Antonius Unika Soegijapranata ini dihadiri oleh kalangan pendidik baik itu guru atau dosen, departemen pemerintah  seperti BNN (Badan Narkotika Nasional), Departemen Pendidikan, LSM, dan sebagainya.

Ketua Center for Addiction Studies (CAS) Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Kuriake Kharismawan SPsi MSi Psikolog dalam penjelasannya mengemukakan perlunya menjalin komunikasi yang baik antara lembaga pendidilan tinggi dengan sekolah sebagai tempat belajar anak terutama dalam hal mencoba saling bertukar pikiran dan mencari solusi terbaik terkait pendidikan dan masa depan anak didik.

“Fakultas Psikologi dalam kegiatannya sering melibatkan para guru dalam dua bulan terakhir. Kegiatan tersebut diadakan oleh CAS Psikologi dua minggu sekali. Tentunya dengan banyak topik dan sasaran utamanya adalah para guru,” terang Kuriake.

“Khusus hari ini kita memilih topik tentang adiksi, karena saat ini banyak anak-anak yang kecanduan menggunakan handphone. Namun harapan kami anak-anak ini bisa menggunakan sarana handphone dengan pengertian yang positif, misalnya untuk literasi pelajaran sekolah, mengembangkan bisnis wirausaha, dan sebagainya,” sambungnya.

“Untuk bisa mendalami tema seminar kami mengundang Dr Christin Wibhowo yang akan mengulas lebih dalam tentang adiksi dan macam solusinya, supaya para peserta seminar akan mendapatkan sesuatu yang akan mereka bawa dan kembangkan dalam lingkungan mereka untuk menangkal efek negatif dari gadget,” ucap Kuriake.

Dr Christin Wibhowo dalam paparan materinya kembali mengungkap kondisi kekinian dari generasi milenial yang tidak bisa lepas dari internet.

“Anak milennial sudah dikepung internet sejak mereka lahir, maka itu sudah hal wajar apabila mereka harus sangat akrab dengan internet melalui gawai atau gadget mereka. Sehingga adanya anggapan anak-anak kecanduan gadget menurut para ahli psikologi masih pro dan kontra, maka penting untuk melihat kembali apa yang mendasari anak-anak ini menggunakan internet dalam gadget mereka, dan yang penting kualitas hidup mereka tidak turun,”jelas Dr Christin.

“Hal penting lainnya adalah mengendalikan bukan melarang. Pola pengasuhan dan pola  pendidikan itu mempunyai rumusan yang dasar yaitu ayah harus berperan utama sebagai pendidik karakter, pencari nafkah serta mencintai ibu dari anak-anaknya, dan sosok ibu sebagai pendamping. Sedangkan para guru adalah pendamping ayah dan ibu. Sehingga dengan memberikan teladan yang baik kepada putra-putrinya, ibarat sebuah kapal penggunaan gadget bisa dikendalikan dan membawa kita ke masa depan yang lebih baik,” tambahnya.

Dr Christin juga menambahkan, menurut dr Vladimir Poznyak, anggota Departemen Kesehatan Mental dan Penyalahgunaan Obat-obatan WHO, ada tiga ciri utama untuk mendiagnosis seseorang mengalami kecanduan game, yang pertama adalah adanya kecenderungan mengutamakan game dibanding aktifitas lain.  Ciri yang kedua adalah tidak bisa mengendalikan waktu, dan yang ketiga yaitu adanya gangguan dalam pribadi.

Maka untuk mengantisipasinya bagi orangtua atau para guru harus selalu update dan upgrade dengan teknologi digital, serta menggunakan teknologi untuk mempercepat parentingnya, dan memanfaatkan teknologi dalam cara komunikasi dengan anak-anak seperti misalnya instagramable.  (fas)

Kategori: ,