Ulas Peraturan Surogasi
Senin, 24 Juni 2019 | 15:04 WIB

TR Ulas Peraturan Surogasi
ATURAN undang-undang tentang surogasi atau ibu pengganti di Indonesia, diulas oleh penulis tunanetra, Richard Kennedy, dalam bukunya bertajuk "Ibu Pengganti: Hak Perempuan atas Tubuhnya".

Pria yang buta total sejak umur 16 tahun ini, mengusulkan agar negara membuat peraturan tentang ibu pengganti, sebagai hak perempuan atas tubuhnya dan hak reproduksi.

Terdapat dua jenis surogasi yakni gestasional dengan progamnya bayi tabung dan surogasi tradisional. Bayi tabung merupakan metode pembuahan yang dilakukan di luar rahim. Sel telur dan sel sperma, dipertemukan dalam piring kaca berbentuk tabung, yang disebut cawan petri.

"Dalam tulisan saya, negara sudah seharusnya mengakui surogasi dengan memberikan aturan. Selain atas perwujudan hak asasi manusia, fakta lapangan menunjukkan bahwa pasangan suami istri di Indonesia telah banyak memanfaatkan ibu pengganti. Tetapi mereka melakukannya di luar negeri, karena di Indonesia belum ada aturan hukumnya," kata Richard.

Buku salah satu wisudawan terbaik program studi Hukum, Fakultas Hukum dan Komunikasi, Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) pada April 2019 dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,98, diterbitkan oleh Unika setebal 132 halaman. Dalam penelitiannya, ada empat pasangan suami istri yang melakukan surogasi. "Mereka berada tidak jauh dari sini (Semarang), di dua kota. Melakukan secara sembunyi-sembunyi," tuturnya.

Richard mengalami buta lantaran penyakit mata akibat retina lepas. Usai menamatkan sekolahnya di SMA ST Bonaventura Madiun, Jawa Timur, pada 2014, Richard masuk Unika Soegijapranata melalui jalur prestasi. "Waktu SMA itu, sempat hendak dikembalikan ke orang tua, karena sekolah merasa tidak mampu. Saya merasa mampu. Saya masih bisa melanjutkan hidup tanpa penglihatan," ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Koko ini mulai tertarik membahas ibu pengganti ketika menjalani kuliah tentang perjanjian sewa rahim. Dia mulai meneliti dan mengumpulkan data.

"Menjadi atau tak menjadi ibu pengganti, merupakan pilihan perempuan, yang seharusnya dijamin oleh aturan negara. Otoritas atas tubuh adalah hak perempuan," kata dia.

Kategori: