The Java Institute Unika akan Bahas Seni Pertunjukan Jawa dalam Seminar Nasionalnya
Jumat, 14 Juni 2019 | 18:03 WIB

Dr Ekawati Marhaenny Dukut MHum dengan di dampingi Yosaphat Yogi Tegar Nugroho SSn MA, saat memberikan penjelasan tentang Seminar Nasional TJI 28 Juni mendatang

Dalam suatu rencana kegiatan besar tentu salah satu yang dipertimbangkan adalah persiapan yang perlu  dilakukan  sebelum pelaksanaan kegiatan, salah satunya adalah publikasi. Dan dalam rangka hal tersebut pada hari Jumat (14/6) bertempat di ruang Merah gedung Mikael Unika Soegijapranata, telah diselenggarakan konperensi pers tentang Seminar Nasional TJI (The Java Institute) 2019 Unika Soegijapranata yang akan mengangkat tema “Kebudayaan, Ideologi, Revitalisasi dan Digitalisasi Seni Pertunjukan Jawa dalam Gawai”.

Hadir memberi keterangan dalam acara konperensi pers tersebut, Ketua TJI Unika Soegijapranata Dr Ekawati Marhaenny Dukut MHum dengan di dampingi salah satu pembicara dalam seminar nasional tersebut yaitu Yosaphat Yogi Tegar Nugroho SSn MA.

“The Java Institute tidak hanya mengkaji dan mengelola budaya Jawa tetapi budaya apa pun yang sudah masuk di pulau Jawa dan mempengaruhi masyarakat yang tinggal di pulau Jawa, seperti misalnya : jalan raya daendels di pantura Jawa yang membawa dampak secara ekonomis maupun psikologis kepada masyarakat di pulau Jawa,” ungkap Dr Eka.

“Tahun sebelumnya TJI juga sudah menerbitkan buku dengan judul “050 Fakta Jawa”. Dalam buku tersebut kami menelaah dari berbagai disiplin ilmu, mulai dampak psikologinya, dampak arsiteknya baik desain secara visual maupun kontekstual, demikian juga dari sisi bahasa dan lainnya. Sedangkan pada judul tema seminar nasional yang akan diselenggarakan pada tanggal 28 Juni mendatang ini, unsur Jawa dimaksud tidak tertutup pada etnis Jawa saja, tetapi juga dari berbagai macam etnis yang tinggal di pulau Jawa.”

Lebih lanjut Dr Eka menyampaikan bahwa dalam seminar nasional mendatang lebih memfokuskan diri pada seni pertunjukan, baik seni pertunjukan yang beberapa waktu lalu  sempat digandrungi masyarakat yaitu musik campur sari, tarian Jawa, permainan gamelan, maupun opera Van Java. Bagi yang ingin berpartisipasi di seminar masih ditunggu pendaftarannya di http://bit.ly/TJIUNIKA dalam satu minggu ini.

“Pada zaman dulu masyarakat menikmati pertunjukan itu secara langsung, namun sekarang ini dengan adanya generasi Centennial atau generasi Z, apa pun yang mereka lakukan harus berurusan dengan digital teknologi, sehingga kehidupan masyarakat baik yang muda maupun dewasa seakan-akan sangat bergantung pada handphone. Karena didalamnya ada internet yang menjadi sesuatu yang tidak bisa ditinggalkan. Oleh karena itu kami melihat seni pertunjukan sekarang itu  ada di dalam gawai atau handphone,” jelasnya.

“Karena perubahan tersebut, ada dampak pada masyarakat yang bisa dianalisa dari sisi psikologis, juga dari sisi bisnis dan politik. Maka kami lihat seni pertunjukan sekarang ini ada di gawai,”imbuhnya.

Sedang Yosaphat Yogi yang akan menjadi salah satu pembicara dalam seminar nasional mendatang juga menuturkan topik yang dibidiknya.

“Anak-anak generasi Centennial atau generasi Z  ini kan memang tidak bisa meninggalkan gawai, karena sedikit-sedikit handphone. Bahkan untuk keluar menonton seni pertunjukan,  generasi ini juga sudah malas kalau pertunjukan itu tidak indoor. Semua yang ingin ditonton hampir semuanya dari gadget atau YouTube. Maka melihat itu, kita menyadari bahwa melalui YouTube ini bisa menjadi sarana revitalisasi budaya yang ada di Jawa untuk dikenalkan tidak hanya di ranah lokal tetapi hingga global,” ulasnya.

“Hal lain, untuk generasi sekarang ini mendengarkan dan bermain gamelan Jawa dengan tempo lagu yang pelan kurang digemari, yang ada justru cenderung mengarah pada budaya barat misalnya yang sekarang ini disenangi adalah musik dansa elektronik atau electronic dance music (EDM). Oleh karena itu muncul ide kreatif dengan menggabungkan dua unsur tersebut yaitu yang tradisional dengan yang modern (hybrid),” pungkasnya. (fas)

Kategori: ,