Tantangan Kesehatan Keluarga di Era Dokter 5.0
Jumat, 21 Juni 2019 | 16:02 WIB

TRB 21_06_2019 Tantangan Kesehatan Keluarga di Era Dokter 5

MENJADI sehat adalah harapan tidak hanya bagi individu tetapi juga keluarga dan masyarakat. Kesehatan seringkali erat kaitannya dengan seorang dokter sebagai sosok yang bisa menyembuhkan penyakit.

Hal tersebut tidak sepenuhnya salah, namun sebetulnya dalam teori klasik Hendrick L.Blum dinyatakan bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan secara berturut-turut, yaitu gaya hidup (life style), lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya) pelayanan kesehatan, dan faktor genetik (keturunan). Keempat determinan tersebut saling berinteraksi dan mempengaruhi status kesehatan seseorang, sehingga dibutuhkan pelayanan kesehatan yang baik untuk mewujudkan keadaan sehat itu.

Pengertian pelayanan kesehatan melingkupi cakupan yang sangat luas, artinya tidak bisa dilakukan oleh dokter seorang diri tetapi harus diselenggarakan secara bersama-sama dalam suatu organisasi, untuk tujuan meningkatkan dan memelihara kesehatan secara keseluruhan. Pengelolaan secara bersama ini disebut sebagai pelayanan kesehatan masyarakat (public health service).

Demi tercapainya pelayanan yang menyeluruh, maka dokter tidak hanya menyembuhkan penyakit (curative) dan pencegahan (preventive) saja tetapi juga harus memulihkan kesehatan secara komprehensif (rehabilitative). Untuk mencapai se-mua tujuan tersebut, dibutuhkan seorang dokter yang mempunyai wawasan luas dan mempunyai Inter Personal Educationyang baik, sehingga bisa berpikir secara bijaksana, punya empati, hati nurani yang luhur serta punya sifat humanis terhadap sesama dan lingkungan.

Tantangan di Era Dokter 5.0
Kondisiyang tidak sehat seringkali menjadi sebab dari berbagai permasalahan yang dialami individu dan lingkungan sekitarnya. Padahal, kesehatan merupakan modal awal bagi perkembangan potensi individu dalam karir maupun perannya sehari-hari di masyarakat. Di zaman yang bergerak serba cepat ini seorang dokter tidak hanya be-peran memberi resep serta menyuntik atau sebatas menyembuhkan suatu penyakit saja, tetapi perannya termasuk menyembuhkan lingkungan serta mencegah penyebaran yang mungkin timbul dari suatu penyakit dari lini terkecil suatu komunitas yaitu keluarga. Hadirnya dokter seperti ini akan memberikan pelayanan menyeluruh dalam pelayanan kesehatan di era Dokter 5.0.

Cara berpikir "Dokter 5.0" harus dimulai dari bangku kuliah, dimana Fakultas Kedokteran mengemban tanggung jawab dalam melaksanakan pendidikan untuk mencapai kompetensi-kompetensi bagi lulusan tersebut. Seorang mahasiswa kedokteran seyogyanya dibentuk dalam program pendidikan Community and Family Health Care with Inter Profesional Education (CFHC-IPE) yang merupakan upaya untuk membangun dan mengembangkan kompetensi terkait dengan etik, komunikasi, bekerja dalam tim, serta peran dan tanggung dalam sebuah tim sejak hari pertama di bangku kuliah. \

Pada setiap mata kuliah di dalam program studi, seorang mahasiswa kedokteran harus selalu ditekankan pemikiran secara menyeluruh sehingga mendorong mahasiswa untuk berpikir secara lateral dan mempraktikkannya dalam keterampilan profesi yang didapat pada masing-masing program studi secara lebih nyata. Para mahasiswa kedokteran diharapkan dapat langsung berinteraksi dengan keluarga atau masyarakat, serta bekerja sama dengan profesi yang berbeda-beda.

Untuk Itu, sejak tahun pertama kuliah kedokteran, para mahasiswa sudah harus diterjunkan ke masyarakat dan keluarga. Keluarga sebagai unit terkecil di masyarakat menjadi wahana yang tepat bagi mahasiswa untuk mempertajam kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama yang merupakan komponen dari Inter Personal Education (IPE).

Dengan metode pembelajaran Fakultas Kedokteran terkini, mahasiswa kedokteran akan berusaha mengenal anggota keluarga mitra dan membina hubungan baik dengan keluarga tersebut sehingga akan terbentuk pemikiran sejak awal bahwa menyembuhkan suatu penyakit harus dari hulu yaitu keluarga. Dan keluarga yang sehat akan tercipta lingkungan yang sehat pula, sehingga pada saat suatu komunitas hidup dalam lingkungan yang sehat maka akan tercipta suatu manusia yang sehat pula.

Dengan konsep tersebut, kekhawatiran akan menurunnya peran dokter dan tergantikan dengan teknologi informasi menjadi tidak perlu terjadi. Sisi humanisme dokter yang telah dibangun sejak dari hulu akan menciptakan ikatan emosional yang lebih dalam dan memperbesar peluang terpeliharanya kesehatan sehingga dapat mencegah dampak penyakit yang lebih berat.

Teknologi informasi justru dapat menjadi pendukung untuk terciptanya komunikasi antara dokter dan keluarga yahg lebih baik, serta mendorong terwujudnya kesehatan pribadi dan keluarga secara preventif. Untuk itu literasi terhadap teknologi informasi menjadi suatu hal yang tidak terhindarkan. Pada akhirnya humanisme dan teknologi informasi dapat berdampingan menciptakan layanan kesehatan masyarakat yang optimal.

dr. Indra Adi Susianto, MSI.MEDT, SPOG, Dekan Fakultas Kedokteran Unika Soegijapranata

Tribun Jateng, 21 Juni 2019 hal. 2

Kategori: ,