Tantangan Industri Pangan 5.0
Jumat, 21 Juni 2019 | 8:33 WIB

SM 14_06_2019 Tantangan Industri Pangan 5.0 - Prof Budi W

“Konsumen pangan tidak akan terpuaskan oleh tampilan produk yang lezat, bergizi, aman, berpenampilan unik dan indah belaka – tetapi juga kritis terhadap aspek ketenangan pikiran (peace of mind), keadilan perdagangan (fair trade), beban lingkungan (jejak air dan jejak karbon) dan sebagainya”

ENTAH berapa ratus juta atau bahkan miliar foto – termasuk video – karya kuliner yang disebarkan oleh lebih dari 130 juta pengguna media sosial di Indonesia pada saat liburan, seperti pada masa libur panjang lebaran belum lama berselang.

Penyebaran foto kuliner ini bukan sekadar penegasan adagium “you are what you eat”, melainkan juga ungkapan perasaan suka cita. Membagikan gambar karya kuliner yang unik – dan seringkali juga indah – kepada sesama adalah salah satu buah ketergerakan nurani manusia yang paling mendasar.

Pada dasarnya setiap manusia memang terjebak dalam kerumitan sebagai mahluk egois dan altruis. Maka begitu ada kesempatan menemukan keindahan muncul ketergerakan untuk segera memamerkannya kepada teman, kerabat dan bahkan khalayak ramai melalui berbagai platform media sosial – seperti Instagram dan sebagainya.

Media sosial memang berhasil menggerakkan pameran kecintaan pada karya kuliner. Merebaknya ìkampanyeî kuliner dalam media sosial sebenarnya seiring dengan evolusi tentang hakikat pangan bagi kehidupan manusia.

Aspirasi manusia untuk menemukan kebahagiaan dalam dan melalui pangan mungkin menjadi ciri paradigma pangan terkini, yaitu Pangan 5.0.

Evolusi
Pergumulan manusia dalam mendapatkan pangan semula lebih dititikberatkan pada upaya pemenuhan pangan untuk mendukung survival manusia sejak manusia masih jadi pemburupengumpul (hunter and gatherer) hingga lahirnya revolusi pertanian pertama yang ditandai oleh munculnya budi daya pertanian sekitar 12 ribu tahun yang lalu. Paradigma pemenuhan pangan yang berorientasi survival dan lokal itu adalah Pangan 1.0.

Kelahiran revolusi industri pada abad 18 telah memicu revolusi pertanian kedua yang sangat bertitik berat pada produktivitas dan beragam rupa pengolahan pangan demi kemelimpahan.

Pada titik ini paradigma Pangan 1.0 bergeser menjadi Pangan 2.0 yang membuka ruang bagi industrialisasi dan perdagangan bahan pangan. Dalam Pangan 2.0 ini pangan bukan lagi dihasilkan sematamata untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan kerabat dalam komunitas kecil – melainkan sudah menjangkau pihak di luar komunitas, daerah dan bahkan negara. Kolonialisasi bangsa Eropa di benua Asia, Afrika dan Amerika terjadi dalam konteks Pangan 2.0 ini.

Keberhasilan pemulian tanaman dan ternak serta perkembangan industri kimia sejak paruh pertama abad 20 melahirkan revolusi hijau yang sangat terfokus pada intensifikasi produksi bahan pangan dan pengembangan industri pengolahan secara masif dalam skala raksasa.

Perkembangan teknologi permesinan yang sangat pesat ñ termasuk sistem kendali elektronik dan komputerisasi – yang berpadu dengan produksi bahan baku yang melimpah lantas melahirkan paradigma Pangan 3.0. Paradigma ini ternyata tidak mampu bertahan lama. Memasuki dekade terakhir abad 20 (1990an) muncul aspirasi baru dalam dunia pangan. Kemelimpahan kuantitatif belaka sudah dianggap tidak mencukupi.

Apalagi ketika dalam kemelimpahan bahan dan produk pangan itu terkandung ancaman (hazard) yang siap mengoyak kesehatan konsumen.

Kehadiran bahan tambahan pangan, cemaran agrokimia, kontaminan hayati seperti jamur, bakteri dan virus serta aneka kontaminan lain menyadarkan manusia pada kebutuhan pangan yang bermutu dan aman. Maka lahirlah paradigma Pangan 4.0 dengan titik berat pada upaya penjaminan mutu dan keamanan pangan ñ yang ditopang oleh sejumlah piranti pengelolaan yang khas Cara Budi Daya Pertanian yang Baik (GAP), Cara Produksi Pangan yang Baik (GMP), Praktik Higiene yang Baik (GHP), Analisis Bahaya dan Titik Kendali Kritis (HACCP), dan sejenisnya.

Ketika sistem pangan dunia belum sepenuhnya mampu mewujudkan ketahanan (akses), kedaulatan (kemandirian) dan keamanan (kesehatan) pangan, dalam kurun waktu yang hampir berimpit muncul tuntutan tambahan terhadap pangan. Pangan yang cukup, kaya gizi dan aman masih dianggap kurang.

Dituntut pula hadirnya pangan yang sekaligus punya khasiat kesehatan ñ seperti menegaskan doktrin Hyppocrates “Let food be thy medicine and medicine be thy food”. Maka Pangan 4.0 juga ditandai oleh merebaknya aneka produk suplemen, makanan dan minuman kesehatan, pangan fungsional, nutraceuticals (pangan yang sekaligus obat) , serta kebangkitan aneka produk herbal.

Belum lagi lepas dari dasawarsa kedua abad ke-21 telah muncul lagi aspirasi pangan yang baru.

Manusia mendambakan pangan yang melampaui sekadar memenuhi kebutuhan tubuh: cukup jumlah, bergizi, bermutu, aman dan sehat. Aspirasi ini melahirkan Pangan 5.0 yang bertujuan menyehatkan tubuh, ketenangan pikiran dan kedamaian jiwa ñ atau dapat disebut sebagai sebagai food for welness.

Kebahagiaan
Salah satu elemen utama dalam wellness adalah kebahagiaan (happiness).

Kegairahan warga untuk saling membagikan foto karya kuliner yang dianggap unik atau indah adalah wujud perayaan kebahagiaan. Tentu saja wellness tidak semata-mata bermakna kebahagiaan, tetapi lebih luas – yaitu kesehatan jiwa-raga dan sosial.

Wellness juga dimaknai sebagai sebuah proses aktif untuk sadar dan memilih cara hidup sehat dan penuh makna (fulfilling).

Dengan demikian wellness memiliki beberapa dimensi, seperti dimensi fisik, mental, spiritual dan bahkan lingkungan (environmental wellness). Pangan yang mampu memenuhi keempat dimensi wellness itu akan membangkitkan rasa suka cita – kebahagiaan ñ dalam diri penyantapnya.

Dalam ranah Pangan 5.0 setiap konsumen akan mempertimbangkan keempat dimensi tersebut sebelum menentukan pangan yang akan disantapnya. Konsumen pangan tidak akan terpuaskan oleh tampilan produk yang lezat, bergizi,  aman, berpenampilan unik dan indah belaka ñ tetapi juga kritis terhadap aspek ketenangan pikiran (peace of mind), keadilan perdagangan (fair trade), beban lingkungan (jejak air dan jejak karbon) dan sebagainya. Inilah tantangan dan sekaligus terkini peluang bagi industri pangan dan kuliner. Selamat datang Pangan 5.0!

Budi Widianarko, guru besar, Ketua Rumpun Kajian Food Safety and Integrity, Prodi Teknologi Pangan, UNIKA Soegijapranata.

Suara Merdeka 14 Juni 2019 hal. 6,

Kategori: ,