Profesor Amerika Bahas Gamelan dan Wayang di Seminar Nasional TJI Unika
Sabtu, 29 Juni 2019 | 13:53 WIB

Prof Sumarsam BA MA PhD saat paparkan materinya di acara Seminar Nasional TJI Unika

Gamelan dan wayang sudah menjadi mata kuliah yang ditawarkan di setiap semester dan diikuti oleh sekitar 30 sampai 40 mahasiswa di Wesleyan University, United States of America. Demikian diungkapkan oleh Prof Sumarsam BA MA PhD sebagai salah satu narasumber dalam Seminar Nasional The Java Institute Unika Soegijapranata yang diselenggarakan pada hari Jumat (28/6) bertempat di ruang Teater gedung Thomas Aquinas Unika Soegijapranata.

Dalam pembahasannya lebih lanjut, Prof Sumarsam juga menyatakan bahwa seni gamelan dan wayang menjadi matakuliah yang ditawarkan di perguruan tinggi di Amerika dan pada akhir perkuliahan dalam satu semester biasanya akan ditampilkan dalam suatu pagelaran yang akan dinikmati oleh khalayak umum termasuk mahasiswa dari perguruan tinggi lain.

“Memang seni itu universal jadi siapa pun dan darimana pun pasti akan tertarik untuk mengenal dan menikmati seni budaya yang bukan berasal dari daerahnya, termasuk Indonesia yang diwakili oleh seni gamelan dan wayang,” jelas Prof Sumarsam yang sudah tinggal dan mengajar sebagai dosen di Wesleyan University, United States of America sejak tahun 1970-an.

“Maka tidak dipungkiri banyak minat dari para mahasiswa yang studi di Wesleyan University tertarik untuk belajar dan mendalami seni gamelan dan wayang, meskipun mata kuliah ini ditawarkan di setiap semester namun peminatnya selalu penuh bahkan kami sampai membatasi jumlah karena terbatasnya kursi kuliah,” sambungnya.

Saat ditanya tentang pandangannya terkait pagelaran seni wayang kulit di tanah air dewasa ini, Prof Sumarsam mengungkapkan bahwa ada perbedaan dan perkembangan dalam olah rasa bagi penikmat wayang. Karena jika dulu menonton wayang kulit itu dari balik layar sehingga ada imajinasinya, sedangkan yang sekarang dilakukan lebih banyak melihat langsung pada wayang yang dimainkan dalang sehingga yang dilihat adalah wujud asli wayang itu, sehingga hampir tidak ada imajinasinya sama sekali.

“Hal lain, yang dinikmati dalam pagelaran wayang kulit itu sebenarnya ada dua yaitu imajinasi dan musiknya. Jadi jika salah satu diubah pasti akan merubah cita rasa yang pada awalnya dirasakan oleh para pecinta wayang,” papar Prof Sumarsam.

Berbeda dengan paparan materi Prof Sumarsam, narasumber lain yang diundang dalam acara seminar tersebut yaitu Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC dalam penelitiannya di tahun 2017 tentang perkembangan wayang orang, justru menggunakan kemajuan teknologi digital untuk melestarikan budaya wayang orang yang ada di Ngesti Pandawa.

“Mengelola pertunjukan wayang orang di era sekarang ini dirasakan tidak mudah. Disamping harus bersaing dengan pertunjukan yang lebih modern seperti televisi dan bioskop, ternyata dukungan dari pemerintah masih tetap diharapkan. Maka dampak akan hal tersebut, hanya tiga perkumpulan wayang orang professional yang sanggup bertahan di tiga kota di Indonesia yaitu Sri Wedari di Surakarta, Ngesti Pandawa di Semarang dan Bharata di Jakarta,” ungkap Prof Ridwan.

“Untuk mengatasi perubahan itu, maka teknologi digital dipandang mampu menguatkan performa pertunjukan seni, Untuk itu revitalisasi seni pertunjukan wayang orang perlu dilakukan agar dapat bertahan, diminati dan menjadi potensi pariwisata di Indonesia,” lanjutnya.

Demikian pula dua narasumber lain yaitu Yosaphat Yogi Tegar Nugroho SSn MA yang merupakan dosen Fakultas Bahasa dan Seni Unika, serta A Arif Setiawan dari radio JFM Semarang. Keduanya juga mencoba mengangkat dan mengenalkan seni gamelan dan wayang yang dikombinasikan dengan media yang saat ini masih digandrungi oleh generasi centennial yaitu melalui media sosial youtube dengan kombinasi Electro Dance Music (EDM) bersama gamelan dan media siaran radio melalui Wayang Kapsulnya.

Sementara itu Ketua The Java Institute (TJI) Unika Soegijapranata Dr Ekawati Marhaenny Dukut MHum juga berharap Seminar Nasional yang bertajuk “ Kebudayaan, Ideologi, Revitalisasi dan Digitalisasi Seni Pertunjukan Jawa dalam Gawai”, dapat merangkul segala umur, dan tingkat pendidikan sehingga wawasan tentang Pulau Jawa mempunyai kesempatan untuk selalu diasah, didiskusikan dan direvitalisasi untuk membentuk identitas atau ideologi yang istimewa dengan hadirnya digital teknologi dalam pembentukan masyarakat lokal dan global sehingga dapat saling memberi manfaat bagi sesama. (fas)

Kategori: ,