Peneliti Etnografi Setidaknya Harus Setahun Ikuti Fenomena
Minggu, 23 Juni 2019 | 18:03 WIB

Pakar dari Arizona State University Amerika Serikat James Edmonds mengungkapkan, pada metode etnografi negaranya, jika seseorang ingin melakukan penelitian etnografi, maka dia harus ikut dalam fenomena selama satu tahun. Sebaliknya jika itu dilakukan di Indonesia, banyak peneliti yang tidak punya waktu selama itu, biasanya hanya beberapa minggu saja. Jadi solusinya adalah mencari fenomena yang ada sekitar kampus atau kota sehingga masalah tersebut dapat teratasi.

Dia menegaskan, studi etnografi penting untuk menjaga kesadaran akan kesatuan tempat, manusia, dan lingkungan sebagai kesatuan yang hidup. Hal tersebut yang cukup menarik untuk dikaji dan diperhatikan jika dibandingkan dengan penelitian virtual etnografi yang memiliki keterbatasannya sendiri karena tidak on the spot di lapangan.

“Dalam penelitian etnografi kita perlu mengetahui sejarah, artinya dibelakang metode etnografi ada sejarah. Jadi sebelum melakukan penelitian etnografi virtual kita harus keluar dari stereotip atau pikiran kita supaya kita bisa mendapatkan apa yang ada di riset lapangan,” ungkap James saat menjadi pembicara kuliah umum dengan tema “Introduction to Etnographic Research” di Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unika Soegijapranata.

Dia lantas mengungkapkan, etnografi gabungan antara observasi dan wawancara.

“Jadi etnografi sebagai gabungan konsep pengorganisasian antara observasi dan teknik wawancara untuk merekam dinamika perilaku masyarakat. Sehingga etnografi memiliki kemampuan untuk melakukan eksplorasi dalam hubungan digital,” lanjutnya dikutip dari situs resmi Unika Soegijapranata.

Dekan Fakultas Bahasa dan Seni B Retang Wohangara SS MHum berharap momen perjumpaan dan kehadiran James Edmonds bisa menjadi ajang transfer keilmuan sehingga akan menambah wawasan dan pengetahuan tentang metode-metode yang bisa digunakan dalam penelitian etnografi.

“James Edmonds meskipun studinya di Amerika, namun sudah cukup lama di Indonesia sehingga juga cukup fasih berbahasa Indonesia, sedikit belajar bahasa Jawa serta bahasa Arab. Penelitian yang dilakukannya juga sudah cukup banyak salah satunya adalah mengenai penelitian etnografi dan metodenya yang pada hari ini akan dipaparkannya,” jelas Retang pada acara yang digelar di ruang Nottingham gedung Henricus Constance, Kamis (20/6) lalu.

https://semaranginside.com

Kategori: