Pembudayaan Pancasila
Selasa, 11 Juni 2019 | 10:32 WIB

TRB 11_06_2019 Pembudayaan Pancasila

PADA 1 Juni ditetapkan sebagai hari lahir Pancasila. Karena pada tanggal 1 Juni 1945 tersebut kata Pancasila pertama kali diucapkan oleh Bung Karno di sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang saat itu belum diangkat menjadi Presiden. Dalam pidato yang sekarang dikenang sebagai Hari Lahir Pancasila, Sukarno berusaha menyatukan perdebatan yang meruyak di antara para anggota BPUPKI mengenai dasar negara merdeka. Sukarno menawarkan lima sila yang terdiri: Kebangsaan Indonesia; Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan; Mufakat atau Demokrasi; Kesejahteraan Sosial; dan Ketuhanan Yang Maha Esa. Selain Sukarno, Ketua BPUPKI Radjiman Wediodiningrat menyampaikan pandangan mengenai dasar negara. Ada juga M. Yamin dan Soepomo yang memaparkan pandangan mereka. Namun, pidato Sukarno yang dianggap paling pas dijadikan rumusan dasar negara Indonesia. Pidato itu disambut harnpir semua anggota dengan tepuk tangan riuh. Tepuk tangan yang riuh sebagai suatu persetujuan.

Negara Republik Indonesia tidak akan hidup dengan lestari dan aman apabila Pancasila hanya menjadi jiwa bagi bangsa dan negara Indonesia saja dan tidak meresap kedalam jiwa masyarakat Indonesia.

Pembudayaan Pancasila ke dalam masyarakat Indonesia kedengarannya agak ganjil oleh karena pada waktu persiapan serta perumusannya pada tahun 1945 senantiasa ditegaskan bahwa kelima sila tersebut merupakan hasil penggalian dari kebudayaan bangsa Indonesia. Dengan penjelasan tersebut maka orang mengira tidak perlu lagi usaha pembudayaan Pancasila ke dalam masyarakat.

Ada beberapa tantangan terhadap usaha usaha membudayakan Pancasila ditengah masyarakat terutama terhadap kebudayaan nasional atau identitas budaya nasional. Tantangan itu terutama datang dari proses globalisasi yang membawa relativisasi identitas diri dan homogenisasi atau universalisasi unsur-unsur budaya dengan mudah diadopsi.

Dalam membudayakan Pancasila ditengah masyarakat haruslah dilandasi dan diawali dengan penguatan "Pendidikan Wawasan Kebangsaan" dalam rangka mengkonstruksikan dan membudayakan Pancasila ditengah masyarakat yaitu
pertama, globalisasi dan kondisi nasional menjadi pokok keprihatinan yang mendesak untuk segera ditangani;
Kedua, wawasan kebangsaan perlu ditangani dalam kaitannya dengan dimensi lokal, regional dan global;
Ketiga, perubahan-perubahan yang terjadi dewasa ini dalam pelbagai dimensi mendorong perlu diadakan perumusan ulang wawasan kebangsaan, sehingga menjadi bermakna dan pantas untuk dibela dan dipertahankan nilai-nilai luhur dalam Pancasila, maka untuk itu diperlukan sikap rasional dan terbuka untuk menerima Pancasila sebagai satu satunya hasil budaya luhur yang lahir dari bumi pertiwi Indonesia;
Keempat, pendidikan wawasan kebangsaan dirasakan sebagai usaha yang mendesak untuk mengatasi kemrosotaan penghayatan dan pengamalan Pancasila terutama akibat proses sosial dan politik selama ini;
Kelima, pendidikan wawasan kebangsaan haruslah mampu menumbuhkan pemahaman, sikap dan tekad yang seimbang, antisipatif dan dialogis terhadap lingkungan alam, sosial-kultural dan diri sendiri melalui nilai-nilai luhur yang ada dalam Pancasila.

Selain itu dimensi kebangsaan dihayati sebagai nilai-nilai dalam membudayakan Pancasila, tentunya harus berorientasi dan menekan tiga dimensi :
pertama, dimensi kognitif, dimana nilai kebangsaan dalm pancasila yang terbuka menjadi visi kehidupan kolektif yang memberi arah masa depan bangsa Indonesia. ;
kedua, dimensi afektif, dimana nilai kebangsaan dihayati sebagai nilai-nilai lintas etnik, lintas agama dan lintas budaya yang seluruh nilai tersebut terkandung dalam Pancasila yang memberikan makna bagi individu dan kolektivitas;
ketiga, dimensi praksis, dimana kebangsaan menjadi prinsip politik untuk berpartisipasi aktif membetuk negara kesatuan Republik Indonesia yang sejahtera, plural dan bebas.

Pembudayaan Pancasila di tengah masyarakat akan menjadikan Manusia Indonesia berwatak : mampu menghargai perbedaan, manusiawi dan santun, mencintai tanah air , demokratis, adil dan solider. Maka nilai-nilai Pancasila akan menjadi orientasi dimasyarakat untuk mengkonstruksikan identitas bangsa dan negara Indonesia. Membudayakan Pancasila berarti menghidupkan dan merefleksikan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dalam kehidupan nyata, Pancasila ada roh yang membutuhkan raga agar bisa berjalan efektif, dan raga itu adalah pengaktualisasian Pancasila dalam kehidupan nyata sehari-hari.

–DRS. IGNATIUS DADUT SETIADI, MM  – Anggota The Soegijapranata Institute dan Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Unika Soegijapranata

â–ºTribun Jateng 11 Juni 2019 hal. 2

Kategori: ,