Pembicara dari Amerika Serikat Bahas Etnographic Research di Unika
Jumat, 21 Juni 2019 | 12:10 WIB

James Edmonds PhD Cand saat memaparkan materinya

Sebuah kegiatan kuliah umum dengan tema “Introduction to Etnographic Research” telah diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unika Soegijapranata pada hari Kamis (20/6) bertempat di ruang Nottingham gedung Henricus Constance Unika.

Dalam acara yang mengundang narasumber seorang pakar dari Arizona State University Amerika Serikat ini dihadiri pula oleh Dekan Fakultas Bahasa dan Seni B Retang Wohangara SS  MHum, para dosen dari Unika dan luar Unika, serta para mahasiswa FBS Unika.

Dalam pengantar sambutannya, Retang Wohangara selaku Dekan FBS berharap momen perjumpaan dan kehadiran James Edmonds PhD Cand selaku pakar peneliti etnografi ini bisa menjadi ajang transfer keilmuan sehingga akan menambah wawasan dan pengetahuan tentang metode-metode yang bisa digunakan dalam penelitian etnografi.

“James Edmonds meskipun studinya di Amerika, namun sudah cukup lama di Indonesia sehingga juga cukup fasih berbahasa Indonesia, sedikit belajar bahasa Jawa serta bahasa Arab. Penelitian yang dilakukannya juga sudah cukup banyak salah satunya adalah mengenai penelitian etnografi dan metodenya yang pada hari ini akan dipaparkannya,” jelas Retang.

Sedang dari James Edmonds sebagai pemateri acara kuliah umum, tampak memulai paparannya dengan menjelaskan tentang penelitian etnografi.

“Dalam penelitian etnografi kita perlu mengetahui sejarah, artinya dibelakang metode etnografi ada sejarah. Jadi sebelum melakukan penelitian etnografi virtual kita harus keluar dari stereotip atau pikiran kita supaya kita bisa mendapatkan apa yang ada di riset lapangan,” ungkap James.

“Jadi etnografi sebagai gabungan konsep pengorganisasian antara observasi dan teknik wawancara untuk merekam dinamika perilaku masyarakat. Sehingga etnografi memiliki kemampuan untuk melakukan eksplorasi dalam hubungan digital,” lanjutnya.

James juga menerangkan jika di metode etnografi Amerika seseorang jika ingin melakukan penelitian etnografi harus ikut dalam fenomena selama satu tahun, sebaliknya jika itu dilakukan di Indonesia banyak peneliti yang tidak punya waktu selama itu, biasanya hanya beberapa minggu saja. Jadi solusinya adalah mencari fenomena yang ada sekitar kampus atau kota sehingga masalah tersebut dapat teratasi.

Jadi adanya kesadaran akan kesatuan tempat, manusia dan lingkungan adalah kesatuan yang hidup. Hal tersebut yang cukup menarik untuk dikaji dan diperhatikan jika dibandingkan dengan penelitian virtual etnografi yang memiliki  keterbatasannya sendiri karena tidak on the spot di lapangan. (fas)

Kategori: ,