Ekologi Kebahagiaan
Senin, 24 Juni 2019 | 8:50 WIB

Kompas 24_06_2019 Ekologi Kebahagiaan

Di masa libur panjang Lebaran ini media sosial terbukti bukan hanya menjadi penyalur hoaks dan ujaran permusuhan. Media sosial telah menjadi pengantar pesan-pesan persaudaraan berupa tulisan, foto, atau  video yang menawarkan kesejukan.

Entah berapa miliar foto yang dipertukarkan oleh lebih dari 130 juta pengguna media sosial di Indonesia selama libur panjang ini. Seolah-olah menegaskan ungkapan aku berfoto maka aku ada, sangat boleh jadi sebagian besar dari miliaran foto yang dipertukarkan itu berupa swafoto, baik perseorangan maupun kelompok. Hampir bisa dipastikan pula banyak swafoto itu merekam pemandangan alam yang indah dari berbagai sudut negeri.

Memang penyebaran gambar keindahan alam melalui media sosial sangat jamak dilakukan segenap warga dunia. Rupanya membagikan citra nan indah kepada sesama adalah salah satu ketergerakan nurani manusia yang paling mendasar.

Terjebak dalam kerumitannya sebagai makhluk egois yang sekaligus altruis, maka begitu punya kesempatan mereguk keindahan alam, setiap orang tergerak segera memamerkan kepada teman, kerabat, bahkan khalayak ramai. Hal inilah yang menjelaskan begitu merebaknya lokasi-lokasi wisata yang menawarkan sudut dan bentang keindahan alam untuk dibagikan melalui media sosial.

Media sosial, sebagai produk teknologi digital yang digandrungi segenap umat manusia, berhasil menggerakkan pameran kecintaan pada keindahan alam. Media sosial memang ”sekadar” sarana pamer. Namun, ada yang lebih hakiki di balik kecintaan manusia pada keindahan alam: kebahagiaan. Disadari atau tidak, setiap orang—siapa pun dia—pasti menemukan rasa bahagia saat terpapar pada suatu keindahan alam.

Koevolusi dengan alam
Tanyaan yang serta-merta akan menyergap kita adalah apakah kebahagiaan benar-benar dapat menyelamatkan lingkungan hidup. John Cairn Jr, tokoh penganjur etika ekologi, mengungkapkan bahwa manusia senantiasa berkoevolusi dengan alam, dan tidak ada bukti yang cukup bahwa manusia dapat terus ada tanpa hubungan yang saling menguntungkan dengan alam. Kesintasan manusia seratus persen masih dan akan terus bergantung pada alam.

Demi menggapai apa yang dianggap sebagai sumber kebahagiaan, manusia mengembangkan suatu bentuk peradaban yang banyak mengubah dan merusak alam sekitarnya. Akibatnya, koevolusi manusia dan alam sering kali berlangsung secara keras—bahkan sudah mengarah pada bunuh diri ekologis—seperti ditulis Jared Diamond dalam Collapse.

Pemikir lingkungan Jepang, Junko Edahiro, memandang bahwa akar dari kerusakan alam adalah kegagalan manusia dalam menemukan jawaban tentang sumber kebahagiaan. Manusia cenderung berpikir bahwa kebahagiaan hanya bisa digapai melalui pertumbuhan ekonomi. Dan untuk ekonomi bisa bertumbuh, alam harus dikuasai dan dipaksa menjadi ”mesin” produksi, konsumsi, dan penampung limbah. Jelaslah bahwa untuk menggapai kebahagiaannya, manusia harus menoleh pada alam.

Namun, sayangnya, dalam kurun waktu yang sangat panjang, manusia gagal memahami alam. Alih-alih menemukan kebahagiaan yang didambakan, manusia justru mengalami berbagai penderitaan akibat kerusakan lingkungan, pencemaran, perubahan iklim, serta tergerusnya flora dan fauna keanekaan hayati.

Naluri manusia untuk menemukan kebahagiaan dalam keindahan alam seharusnya menjadi bekal optimisme kita pada kelestarian alam. Meminjam ungkapan Dirk Willem Postma (2006): Why care for nature? Because we are human. Karena kita adalah manusia, sebuah keniscayaan bahwa kita selalu mencintai alam. Kegagalan berbagai prakarsa perlindungan dan pelestarian lingkungan selama ini justru karena kita melupakan salah satu unsur paling hakiki: kebahagiaan.

Jika keindahan alam adalah sumber kebahagiaan manusia, sejatinya alam tak memerlukan peraturan dan pengawasan, tata kelola, penilaian ekonomi, pembelaan, dan berbagai peranti pengelolaan lainnya.

Prinsip ”atur diri sendiri” yang digaungkan mendiang Otto Soemarwoto belasan tahun lalu sebenarnya sudah mengandung spirit cinta lingkungan yang dilandasi kepedulian. Seseorang mencintai lingkungan bukan hanya karena ”sekadar” patuh hukum, manfaat ekonomi, kepentingan politik, dan keselarasan sosial. Manusia peduli karena alam adalah sumber kebahagiaannya.

Kepedulian inilah yang menjelaskan mengapa para pengelola wisata alam di desa yang paling sederhana sekalipun tentu sangat peduli pada titik-titik indah nan instragramable mereka agar bebas dari sampah.

Tanpa kepedulian itu, tentu lokasi mereka akan ditinggalkan pengunjung. Sepintas terkesan bahwa kepedulian itu didorong oleh motif ekonomi belaka. Namun, perhatikanlah, perubahan wujud (transformasi) desa dan kampung wisata yang sedang bertumbuh pesat di pelosok negeri ini.

Melalui pengamatan yang jujur, kita harus mengakui banyak perubahan menakjubkan terjadi di desa-desa dan kampung-kampung itu. Mereka tidak hanya menawarkan kebersihan, tetapi juga kreativitas estetika yang menguatkan modal keindahan alam.

Singkatnya, bersama para pengunjungnya, para pengelola desa dan kampung wisata berlomba-lomba merayakan keindahan alam. Semakin indah, semakin membahagiakan.

Demokratisasi kebahagiaan
Menariknya, kesempatan merayakan keindahan alam ternyata tak lagi menjadi hak istimewa para pemilik dan pengunjung resor mewah. Pertumbuhan desa dan kampung wisata yang begitu hebat belakangan ini telah melahirkan gelombang ”demokratisasi” kebahagiaan.

Siapa pun dia, berbekal telepon genggam berkamera, boleh dan bisa mereguk kebahagiaan atas keindahan alam. Inilah saat gerakan pelestarian lingkungan mengubah haluan ”perjuangannya” tidak lagi menekankan pada prinsip atur dan awasi, peranti ekonomi, tata kelola, hak dan kewajiban; tetapi kembali ke aspirasi kemanusiaan yang hakiki: kebahagiaan.

–Budi Widianarko, Guru Besar di Unika Soegijapranata

Kompas 24 Juni 2019 hal. 7

Kategori: , ,