Unika Percepat Strategi Inovasi
Minggu, 12 Mei 2019 | 22:46 WIB

Narasumber Dr Ir Ophirtus Sumule DEA saat memaparkan materinya dalam acara Workshop Strategi Percepatan Inovasi

Pada Jumat (10/5) bertempat di ruang Seminar LPPM Unika Soegijapranata telah diadakan Workshop Strategi Percepatan Inovasi dengan mengundang narasumber Dr Ir Ophirtus Sumule DEA sebagai Direktur Sistem Inovasi Kemenristek Dikti serta dihadiri pula para pejabat struktural Unika mulai wakil rektor hingga sekretaris program studi, pejabat LPPM maupun para peneliti.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Bidang Akademik Dra Cecilia Titiek Murniati MA PhD menyampaikan pesan tentang penyelenggaraan workshop kali ini. ” Inovasi merupakan salah satu kebijakan ristek dikti saat ini. Inovasi juga merupakan salah satu kriteria yang harus kita penuhi dalam pemeringkatan perguruan tinggi yaitu sebesar 12% menurut informasi terbaru dan akan ditingkatkan. Mengingat pentingnya hal tersebut maka Unika Soegijapranata berkepentingan untuk mengetahui bagaimana arah kebijakan dikti dan bagaimana kita menyikapinya,” tutur Cecilia.

Lebih lanjut Cecilia juga menegaskan perlunya Unika Soegijaprnata bisa lebih berperan dalam pengembangan inovasi terlebih dalam menjawab tantangan pendidikan tinggi di era revolusi 4.0.
“Kebijakan dikti akan sangat berpengaruh pada kita sebagai seorang dosen dan peneliti. Tidak bisa dipungkiri, inovasi bisa menjadi hal yang penting dalam proses pembelajaran, kurikulum, pengabdian masyarakat dan penjaminan mutu. Dan untuk menjawab itu maka Unika sebagai PTS mengadakan kegiatan ini, untuk menyikapi bagaimana arah kebijakan dikti dalam bentuk kelembagaan, sumber daya manusia, keuangan maupun aspek lainnya supaya bisa kita perbaiki atau tingkatkan sejalan dengan arah kebijakan ristek dikti terkait inovasi.”

Sementara Dr Ophirtus Sumule sebagai narasumber dan pemateri menyampaikan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyikapi arah kebijakan dikti terkait inovasi.
“Kita memiliki sumber daya yang sangat luar biasa sementara di sisi lain kita menyiapkan diri untuk meloncat masuk di dalam revolusi industri 4.0, dimana nanti pasti akan banyak merubah banyak hal terkait kebiasaan-kebiasaan atau paradigma yang selama ini ada, sehingga kita bisa memberikan kontribusi yang signifikan dalam rangka mendorong daya saing kita baik secara regional maupun internasional.”

Ada suatu acuan ideal bagi perguruan tinggi dalam merespon dan menyiapkan diri supaya bisa memenuhi apa yang diharapkan ristek dikti utamanya dalam strategi percepatan inovasi, seperti yang disampaikan oleh Dr Ophirtus Sumule.
“Yang ideal untuk dipersiapkan antara lain adalah (1) Sistem pembelajaran yang selama ini ada di perguruan tinggi harus dinamis sifatnya supaya dapat melakukan terobosan-terobosan dimana nantinya output learning outcome dari sistem pembelajaran itu bisa memenuhi kebutuhan pasar, untuk itu perlu dirubah paradigma lulusan-lulusan kita sehingga menjadi aktor inovator yang bisa masuk ke pasaran kerja, (2) sistem riset kita harus mulai diarahkan supaya apa yang mulai kita gagas itu nanti bisa nasuk ke pasar industri supaya hasil riset kita tidak hanya berhenti pada prototype tetapi nanti akan trrus menerus di dorong untuk nanti bisa menjadi sebuah input baik itu bagi pemerintah maupun industri, (3) perguruan tinggi harus membangun kolaborasi antar berbagai stake holder dengan bersinergi dan kolaborasi untuk membangun bersama-sama apa yang dibutuhkan oleh industri dimana peran perguruan tinggi, pemerintah dan industri sangat dibutuhkan, (4) regulasi yang dibutuhkan oleh masyarakat harus datang dari perguruan tinggi dalam rangka pengembangan ekonomi daya saing, jadi tidak hanya semata-mata dari pemerintah karena yang mengetahui perkembangan keilmuan adalah perguruan tinggi (5) kita harus mendorong semua kebijakan apakah itu dalam bentuk kegiatan atau program, harus berbasis pada data-data penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya (6) perguruan tinggi harus memiliki misi khusus dalam rangka mengembangkan wilayah dimana perguruan tinggi itu berada, seperti misalnya menyelesaikan masalah kesehatan, penguasaan bahasa asing, dsb. Dan misi khusus ini harus didesign sedemikian rupa sehingga nanti ada output yang terukur melalui roadmap yang disusun untuk fakultas dan jurusan.” (fas)

Kategori: ,