Tantangan Pendidikan Katolik
Jumat, 10 Mei 2019 | 13:16 WIB

Sakam Damai 115 - Tantangan Pendidikan Katolik

 

Pendidikan merupakan suatu usaha menyangkut hidup masyarakat, karena lewat pendidikan betapapun sederhana bentuknya kelangsungan hidup manusia dimasa mendatang pasti terjamin. Melalui pendidikan nilai-nilai yang menjamin kehidupan seseorang di masyarakat dapat memainkan perannya dalam mempertahankan masyarakat (social maintenance) dan mengembangkan (development maintenance). Pendidikan perlu dikelola secara profesional, manajemen pendidikan adalah suatu sistem dengan fungsinya dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang diterapkan dalam dunia pendidikan oleh para penyelenggara dan pengambil keputusan dalam bidang pendidikan.

Dalam dokumen ”Gaudium et Spes” (GS) dan ”Gravissimum Educationis” (GE) Konsili Vatikan II menjelaskan tentang pendidikan kristen yang dimaklumatkan pada 28 Oktober 1965 di Gereja Santo Petrus Roma oleh Paus Paulus VI. Dokumen GE terdiri atas 12 artikel yang membicarakan tentang pendidikan pada umumnya, dan pendidikan kristiani pada khususnya.

Dokumen ini menegaskan beberapa asas dasar pendidikan kristiani yang harus dikembangkan oleh komisi-komisi pendidikan di lingkungan keuskupan-keuskupan. Bertitik tolak dari hal tersebut seharusnya gereja dalam hal ini yang turut bertanggung jawab terhadap pendidikan katolik harus dapat mewujudkan panggilan dan memberikan pelayanan di tengah masyarakat yang majemuk.

Bagi gereja Katolik, pendidikan merupakan suatu hal yang menjadi perhatian istimewa. karena melalui pendidikan, gereja dapat menjalankan tugas perutusannya untuk memajukan perkembangan manusia secara seutuhnya dan masyarakat secara menyeluruh. Gereja Katolik mengakui dan secara serentak menghormati hak setiap orang untuk mendapatkan pendidikan sebagaimana dalam Deklarasi tentang Pendidikan Kristen, art 1 Konsili Vatikan II : “ Semua manusia dari bangsa, lapisan dan usia manapun memiliki martabat pribadi, karena itu mempunyai hak yang tak tergugat akan pendidikan”.

Mendidik itu ibarat menabur benih, kita berharap benih yang ditabur itu akan tumbuh dan berkembang dengan baik. Tentu disana-sini tetap muncul kecemasan dan ketakutan dalam proses pendidikan. Namun hal itu dapat kita kurangi dengan berani membuat terobosan-terobosan baru untuk mencapai hal yang lebih baik.

Mendidik pada hakekatnya adalah memberikan kebebasan dan kemerdekaan kepada anak didik. Maka pendidikan karakter haruslah mendapatkan perhatian khusus karena pendidikan harus menghasilkan orang-orang yang berkarakter. Pendidikan tidak boleh menjejali generasi muda dengan sebanyak mungkin informasi tentang ilmu pengetahuan. Pendidikan harus bisa memfasilitasi peserta didik untuk mampu melihat permasalahan jaman.

Pilar Pendidikan Katolik
Pendidikan katolik adalah bagian dari misi gereja, maka alangkah baiknya kalau menjadi gerakan dan tanggung jawab seluruh umat. Terlalu besar peran pemerintah dalam pendidikan maka akan muncul tantangan tersendiri bagi penyelenggara pendidikan sekolah katolik dewasa ini. Campur tangan yang berlebihan dapat membelenggu dunia pendidikan dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kurikulum yang kreatif dan menjawab kebutuhan masyarakat. Pendidikan katolik dewasa ini amatlah sentral dan esensial dalam kehidupan kita. Karena mengemban misi gereja yakni mewartakan kabar gembira Yesus Kristus kepada semua orang untuk memperoleh keselamatan. Sekolah katolik hendaknya menampilkan ketiga pilar yang masing-masing tidak boleh terpisah yaitu pengembangan iman, ilmu pengetahuan dan budaya, seperti ungkapan dari pahlawan nasional dan Uskup pribumi Indonesia Mgr. Alb. Soegijapranata, SJ saat berpidato di depan mahasiswa Katolik “pengetahuan kita perihal igama sekurang-kurangnya harus paralel, seimbang dan selaras dengan pengetahuan umum kita, dan merupakan dasar, pedoman dan pendorong pelaksanaan hidup kita sehari-hari.” (Theodorus Sudimin dan Yohanes Gunawan, Pr, 2015) Ungkapan tersebut mengajak sekolah Katolik agar membantu peserta didik untuk tidak hanya semakin memahami berbagai konsep ilmu pengetahuan melainkan juga semakin mengagumi kemahabesaran Allah dan semakin pula mendorongnya untuk terlibat dalam membangun kualitas kehidupan masyarakat.

Penghayatan iman kristiani juga mempunyai wujud sekular dengan tanpa label agama, dalam memperjuangkan perubahan sosial demi kesejahteraan hidup bersama dengan mendahulukan kaum lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Perubahan sosial semacam itu mengikuti paradigma Kerajaan Allah dan melawan paradigma anti Kerejaaan Allah. Karya dan lembaga pendidikan merupakan pilihan politis yang menjalankan peran ganda, yakni sebagai pelaku perubahan sosial sekaligus memunculkan pelaku-pelaku perubahan sosial. Sangatlah perlu bagi karya lembaga pendidikan formal mengusahakan unsur-unsur pendidikan informal dan non-formal yang dijalankan dengan analisis ilmiah yang bertanggungjawab.

Pendidikan Kontekstual
Pendidikan kontekstual ditandai dengan pembinaan kepedulian dan ketrampilan analisis sosial secara lintas ilmu (analisis sosial ekonomi, sosial politis, sosio kultural dan personal) yang bertitik tolak dari pengalaman hidup nyata dan nilai-nilai yang muncul dari inspirasi iman. Pendidikan ini sering juga disebut sebagai pendidikan partisipatif. Kemandirian dan kreativitas sangat dituntut dari pelaku-pelakunya. Pendidikan yang kontekstual dilaksanakan dengan sikap kritis terhadap arus dari luar untuk menyongsong perubahan-perubahan yang terjadi (pendidikan antisipatoris). Pelaksanaan pendidikan yang kontekstual haruslah mempunyai makna dan ciri dalam bentuk pembinaan kepedulian sosial dan ketrampilan analisis sosial. Penghayatan hidup beriman yang terwujud dalam dunia pendidikan dengan keprihatian perubahan sosial dapat disebut sebagai gerakan mistik dan politik.

Mgr. Alb. Soegijapranata, SJ dalam surat Gembala Prapaskah 6 Februari 1956 mengatakan : “Bapak-bapak dan ibu-ibu yang terhormat, didiklah anak-anakmu secara Katolik dan Nasional, supaya mereka itu terus maju dalam lapangan rohani dan jasmani dengan mengindahkan agama dan kebangsaannya, siap untuk meluluskan tugasnya sebagai rohaniawan atau awam yang boleh dipercaya. Gemblenglah mereka (anak-anakmu) dengan teladanmu, dengan perkataan dan tingkah-lakumu, supaya mereka itu bertabiat dan berperangai yang kukuh dan teguh.

Dalam surat gembala tersebut Mgr. Alb. Soegijapranata, SJ mengajak kita semua untuk memberikan pendidikan anak-anak kita secara Katolik karena dalam pendidikan Katolik diharapkan anak-anak sebagai generasi penerus memiliki kepribadian yang menghormati agama dan kebangsaan yang teguh dan kukuh sehingga menjadi kader-kader yang menghormati hubungan Allah dengan manusia dan manusia dengan Allah sesuai dengan semangat kristiani.

_______________
Di tulis oleh :
Ignatius Dadut Setiadi
Anggota The Soegijaparanata Institutute
Pengajar Progdi Ilmu Komunikasi
Unika Soegijapranata

 

►Salam Damai Edisi 115 | Volume 11, Mei 2019

Kategori: ,