Pusat Studi LMB Unika Bahas Bahaya Mikro dan Nano Plastik Dalam Seminarnya
Jumat, 3 Mei 2019 | 11:37 WIB

Drs Hartana Subekti MSi sebagai Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang pada saat memaparkan materi seminarnya

Pusat Studi Lingkungan Manusia dan Bangunan (LMB) LPPM Unika Soegijapranata mengadakan Seminar Lingkungan Hidup dengan tema “Bahaya Polutan Mikro dan Nano Plastik pada Kehidupan Manusia” pada Kamis (2/5) bertempat di ruang Theater Gedung Thomas Aquinas Unika Soegijapranata.

Dalam seminar ini hadir beberapa narasumber antara lain Drs Hartana Subekti MSi sebagai Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Dr Ir Djoko Suwarno MSi yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknik Unika Soegijapranata, Inneke Hantoro STP MSc selaku dosen Fakultas Teknologi Pertanian Unika Soegijapranata, serta dr Phenny Pariury M Med Ed sebagai Kepala Program Studi Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Unika Soegijapranata.

Dalam penjelasannya, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Hartana Subekti menyampaikan beberapa upaya yang dilakukan oleh Pemerintah untuk mengantisipasi problem sampah, khususnya sampah plastik yang ada di Kota Semarang. Pertama, Pemerintah telah menggerakkan bank-bank sampah untuk memilah sampah rumah tangga sebelum dibuang ke TPS, yang dipilah berdasar kelompok sampah plastik, sampah organik, sampah kardus, dan lain sebagainya. Kedua, Pemerintah Kota Semarang juga telah membuat aplikasi lapor sampah yang bernama SILAMPAH yang bertujuan agar masyarakat dapat membantu Pemerintah membersihkan kota ini dengan melaporkan sampah-sampah yang berada di Kota Semarang yang belum dibersihkan dengan melampirkan foto, kemudian oleh petugas akan ditindaklanjuti untuk dibersihkkan dan akan dilaporkan kembali hasil tindak lanjut kepada pelapor. Pemerintah juga telah membangun PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) dan ke depannya juga akan dibangun PSEL (Pengelolaan Sampah Energi Listrik), dimana gas metan yang dihasilkan oleh sampah akan digunakan untuk menggerakkan turbin sehingga menghasilkan listrik.

Dalam penjelasan lanjutan, Hartana Subekti juga menyampaikan bahwa ke depannya akan dikembangkan ‘Sapi Sehat’ yang bekerja sama dengan Dinas Pertanian, dengan di sekitar TPA akan ditanami rerumputan yang bertujuan agar warga sekitar TPA dapat menernakkan sapi dengan sehat. Namun, semua program kerja yang telah dilakukan belum seberapa bila kita tidak mengurangi sampah plastik. “Selain melakukan daur ulang sampah, kita juga harus mengurangi plastik dengan cara menerapkan kantong plastik berbayar di supermarket dan minimarket dengan harga yang tinggi, agar masyarakat bisa beralih dan mulai menggunakan tas belanja sendiri,” imbuh Hartana.

Sementara itu Dekan Fakultas Teknik Sipil Unika Soegijapranata Dr Ir Djoko Suwarno MSi dalam paparannya mengungkapkan bahwa perjalanan plastik dari daratan menuju ke laut dapat melalui sungai, darat, dan udara. “Terdapat 160 sungai besar di Indonesia yang menjadi pintu gerbang sampah plastik menuju ke laut, bahkan sumber sampah plastik yang terdapat di lautan Indonesia tidak hanya dari Indonesia saja, namun juga negara lain. Makanya perlu ada penelitian lebih mendalam supaya Indonesia tidak dianggap negara penghasil sampah plastik nomor 2 di dunia setelah China,”terang Djoko.

Dua pembicara seminar dari sebelah kiri dr Phenny Pariury M Med Ed dan Inneke Hantoro STP MSc bersama moderator seminar Drs Hermawan Pancasiwi BA MSi

Kepala Program Studi Sarjana Kedokteran Fakultas Kedokteran Unika Soegijapranata dr Phenny Pariury M Med Ed menjelaskan pula pengaruh senyawa mikroplastik jika masuk ke dalam tubuh manusia. “Salah satu senyawa kimia yang digunakan dalam unsur pembuatan plastik adalah phthalates yang jika masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan disrupsi endokrin yang akan mengganggu sistem hormonal. Phthalates akan memimik reseptor hormon dan akan diikat oleh hormon yang akan merubah fungsi dari sistem dalam tubuh bahkan dapat bersifat karsinogenik,” terangnya.

 Banyak bahan pangan yang berada di laut yang sebagian besar pasti sudah tercemar oleh mikroplastik, namun tidak bisa dihindari bahwa manusia membutuhkan nutrisi juga dari sumber laut. dr Phenny menerangkan, “Cara paling optimal dalam mencegah atau mengurangi mikroplastik masuk ke dalam tubuh melalui bahan pangan yaitu dengan mengolah dan menyimpan dengan benar, misalnya membuang bagian perut ikan atau seafood sebelum diolah, sekalipun itu tidak akan menghilangkan 100%,” pungkasnya. (tata)

Kategori: ,