Fakultas Hukum Dan Kontras Gelar “Ngabuburit” Film Dokumenter
Senin, 13 Mei 2019 | 17:23 WIB

Para pembicara dalam ‘ngabuburit’ film dokumenter saat paparkan materinya

Berawal dari gagasan KontraS untuk mengadakan kegiatan’Ngabuburit’ dalam rangka masa puasa maka momentum ini digunakan untuk berbuka puasa bersama sambil menonton film novum dan diskusi bersama, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Fakultas Hukum Unika Soegijapranata.

Acara yang berlangsung pada hari Jumat (10/5) di Gedung Albertus lantai 2 kampus Unika ini,  diawali dengan pemutaran film dokumenter yang menceritakan tentang pengungkapan ketidakadilan di balik proses penjatuhan hukuman mati terhadap Yusman Telaumbanua, anak di bawah umur.

KontraS sendiri merupakan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan yang berlokasi di Jakarta. Bersama dengan Benny Danang Setianto SH LLM MIL selaku Wakil Rektor IV Unika Soegijapranata sekaligus dosen Fakultas Hukum Unika, Arif Nur Fiktri selaku Kadiv Advokasi KontraS dan Zaenal Arifin selaku Direktur LBH Semarang, kegiatan ngabuburit ini menyasar mahasiswa Fakultas Hukum dan masyarakat umum yang dapat mengikuti kegiatan ini.

Nisrina Nadhifah Rahman selaku perwakilan dari KontraS di bagian biro kampanye dan jaringan juga menyatakan bahwa kegiatan kerjasama KontraS dengan Fakultas Hukum Unika Soegijapranata Semarang sudah untuk kedua kalinya, yang semuanya dilaksanakan di lingkungan kampus Unika.

“Walau pemilu sudah selesai, namun masih banyak hal yang harus kembali kita fokuskan pada masalah-masalah keseharian rakyat tentang ketidakadilan, rekayasa kasus dan masih banyak ketidakadilan lain yang belum terselesaikan, salah satunya seperti kasus hukuman mati,” ucap  Ninis sapaan Nisrina Nadhifah.

“Sehingga kita harus mempunyai kepekaan dan penting bagi teman-teman FH yang nantinya sebagai calon pembaharu hukum dan diharapkan mempunyai prespektif tentang HAM terutama bila dihadapkan dengan dilematis praktek hukuman mati,” tutur Ninis.

Film dokumenter ini berdurasi selama 27 menit yang selanjutnya dibuka diskusi bersama oleh ketiga pembicara tersebut. Arif selaku Kadiv Advokasi KontraS turut menjelaskan mengenai proses awal Yusman Telaumbanua menjadi tersangka kasus pembunuhan hingga harus mendapatkan vonis hukuman mati. Begitu banyak perjuangan yang harus dilakukan untuk membuktikan bahwa Yusman Telaumbanua yang pada tahun 2013 masih berumur 15 tahun harus menerima hukuman mati. Sebenarnya Yusman hanyalah seorang saksi dari aksi pembunuhan yang dilakukan tetangganya terhadap majikannya.

Dengan banyaknya dukungan dari lembaga terkait baik dalam dan luar negeri, proses pembuktian hingga mengundang dokter ahli forensik akhirnya Yusman mendapat banding tidak di vonis hukuman mati.

Sayangnya Yusman harus tetap menjalankan hukuman penjara selama 5 tahun, yang bagi Arif rasanya ‘kenapa majelis memutuskan hal tersebut?’. Menarik kasus ini sehingga banyak mahasiswa yang diberi kesempatan untuk bertanya mengenai tema diskusi ini.

“Ada banyak masalah selama prosesnya hingga vonis hukuman mati, yang akhirnya terbukti tidak bersalah. KontraS yang juga bergerak di bidang Hak Asasi Manusia, terus giat berkeliling kampus memutarkan film dokumenter ini. Penerapan hukuman mati di Indonesia ini sebenarnya masih pro kontra. Sehingga harapannya sebagai generasi millenial yang kebanyakan kurang mengetahui pergerakan reformasi dan hukum dengan forum diskusi ini dapat dijadikan sebagai bahan penyadaran bahwa hukuman mati itu tidak gampang,” tegas Benny. (lid)

Kategori: ,