CSE Unika Bangun Wawasan Sociopreneur Anggotanya
Selasa, 21 Mei 2019 | 16:09 WIB

Reanes Putra Tito saat paparkan materinya di seminar Sociopreneur Unika

Sebuah agenda seminar yang dilaksanakan oleh Center for Student Entrepreneurship (CSE) Unika Soegijapranata telah terselenggara dengan sukses pada Selasa (21/5) bertempat di ruang Teater Thomas Aquinas.

Tema yang dibidik dalam kegiatan seminar tersebut adalah “Inspirasi Sociopreneurship Bagi Generasi Muda” dengan mengundang seorang CEO Sociopreneur Startup Semarang atau dikenal dengan Sampah Muda sebagai pembicara yaitu Reanes Putra Tito.

Dalam seminar ini juga tampil beberapa entrepreneur muda yang tumbuh dan berkembang di kampus Unika dalam lingkup CSE hingga bisa menghasilkan usaha yang bisa diandalkan dan bisa membuka peluang kerja bagi orang lain.

Dalam pengantarnya Kepala CSE Unika Dr Chatarina Yekti Prawihatmi SE MSi menginformasikan bahwa agenda seminar sociopreneurship yang digelar hari ini lebih bertujuan untuk memotivasi mahasiswa untuk berani berwirausaha.

“Di Unika Soegijapranata memang sudah cukup banyak mahasiswa yang berani untuk berwirausaha dan hampir di setiap fakultas itu ada usahawannya, tetapi sekarang ini kan tidak cukup berwirausaha yang profit oriented, tetapi diharapkan para wirausahawan ini juga peduli terhadap masyarakat dan lingkungan. Maka kita undang dan tampilkan sosok sociopreneur yang bisa dijadikan inspirasi untuk mahasiswa yang berwirausaha ini,” jelas Dr Yekti.

Sedang salah satu mahasiswa yang telah sukses membangun usahanya dan saat ini telah memiliki enam karyawan yang membantu di perusahaannya yaitu Noviana Purba Lestama dari Prodi Englishpreneurship, juga membagikan pengalamannya selama membangun usaha yang dirintisnya sejak tahun 2016.

“Studi saya di Prodi Englishpreneurship, dan dalam proses studi mulai semester satu mahasiswa dibimbing dan dibekali dengan kemampuan entrepeneur, sehingga saat itu pula muncul keinginan dalam diri saya untuk mengembangkan usaha secara mandiri dari skala yang kecil dan sederhana,” terang Novi.

“Produk usaha saya awalnya adalah keripik singkong, karena hasil pertanian di daerah saya yang menonjol adalah singkong dan jagung. Baru setelah cukup lama bergelut dengan usaha dan belajar selama membangun usaha keripik singkong ini, saya kembangkan lagi varian produk usaha baru dengan produk keripik jagung. Disamping itu berkat bantuan hibah dari kementerian koperasi, maka usaha saya jadi lebih berkembang hingga produk keripik yang tadinya diolah secara sederhana dan harus beli, tetapi sekarang bisa diproduksi sendiri dengan alat yang didesign sendiri sehingga bisa mengolah sendiri sejak dari bahan baku hingga jadi,” kata Novi.

Sementara dalam paparan materi seminarnya, Reanes Putra Tito yang dikenal sebagai founder startup sampah muda mengemukakan awal berdirinya sampah muda.

“Fokus dari sampah muda adalah social enterprise yaitu fokus pada usaha namun juga menyelesaikan masalah terutama masalah persampahan. Jadi yang kita kembangkan adalah membuat platform untuk mengembangkan pengolahan sampah, dengan menghubungkan antara penimbun sampah, pengelola sampah dan industri daur ulang sampah,” ucap Reanes.

Lebih lanjut Reanes juga memaparkan awal mula berdirinya sampah muda. “Sebenarnya awal mulanya kami melakukan usaha seperti trading atau jual beli, namun setelah ketemu dengan teman-teman komunitas dan aktifis pada Jambore Bebas Sampah dan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital yang diprakarsai oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika, wawasan kami semakin terbuka bahwa sampah adalah masalah yang lebih luas bukan hanya masalah jual beli atau trading. Hingga akhirnya kami dirikan Sampah Muda, yang tadinya fokus pada jual beli sekarang diperluas dengan bagaimana sampah muda ini bisa membantu mewujudkan program Indonesia Bebas Sampah,” pungkasnya. (fas)

Kategori: ,