Berkah CSR Ramadhan
Jumat, 31 Mei 2019 | 11:39 WIB

Bisnis Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, pada setiap bulan Ramadhan banyak perusahaan di Tanah Air, entah karena kesadaran sendiri atau “dipaksa” oleh regulasi, mulai berlomba-lomba melakukan kegiatan amal baik kepada sesama. Ada yang berbuat amal kepada para karyawan atau pekerjanya via pemberian THR (tunjangan hari raya) dalam jumlah yang layak. Ada juga yang menyedikan fasilitas mudik gratis Lebaran kepada para karyawan dan pekerjanya, serta kepada masyarakat luas yang berjasa membesarkan perusahaan. Ada juga yang berbuat amal dengan menyantuni fakir miskin dan anak-anak terlantar, panti asuhan dan para difabel, dan masyarakat luas (kaum dhuafa) yang memerlukan perhatian khusus.

Beragam program khusus corporate social responsibility (CSR) pun dirancang perusahaan untuk kepentingan beramal tersebut. Sejumlah perusahaan ternama bahkan secara konsisten telah melaksanakan CSR Ramadhan jauh sebelum pemerintah meregulasi CSR sebagai kewajiban korporasi sejak 2007. PT Sido Muncul, misalnya. Perusahaan milik keluarga besar Irwan Hidayat ini konsisten melakukan CSR “Mudik Lebaran” kepada para penjual jamu di Jagotabek sejak tahun 1990 hingga saat ini. Program CSR yang unik tersebut kemudian menginspirasi banyak perusahaan melakukan hal yang sama.

Pertanyaannya, apakah perbuatan amal baik melalui program-program CSR Ramadhan mendatangkan berkah ekonomi bagi perusahaan atau justru sebaliknya?

Dalam sejumlah forum diskusi dengan para pebisnis, pertanyaan bernunsa meragukan tersebut seringkali ditujukan kepada saya. Sejumlah pebisnis bahkan meragukan pernyataan saya bahwa pengorbanan CSR mendatangkan berkah berlimpah buat perusahaan. Menurut mereka, CSR adalah beban karena menguras dana, sumberdaya dan energi perusahaan. Juga, berdampak mengurangi laba dan ekuitas pemilik serta nilai aset perusahaan.

Pertanyaan itu muncul karena dalam sejumlah forum diskusi, saya acapkali menegaskan bahwa komitmen dan pengorbanan perusahaan melaksanakan CSR, termasuk CSR Ramadhan, tidak bakal berakhir sia-sia. Pengorbanan itu akan mendatangkan berkah berlimpah, baik secara ekonomi maupun nonekonomi. Berkah itu akan menjadikan perusahaan bertumbuh kian subur dan bermakna.

Berkah CSR

Dalam perspektif bisnis kapitalis yang berfokus kepada kepentingan pemilik perusahaan (shareholder), pernyaatan sejumlah pebisnis di atas memang ada benarnya. Beal (2014) juga menyatakan hal yang sama. Perspektif tersebut menyebabkan banyak pemilik dan pimpinan perusahaan di Indonesia berupaya menekan dan bahkan menghindari perbuatan amal baik kepada sesama dan lingkungan melalui CSR.

Namun, pandangan konservatif tersebut jusru menyesatkan dan bisa menjadi bumerang bagi perusahaan. Dalam perspektif bisnis modern (green business) yang berfokus pada kepentingan para pemangku kepentingan (stakeholder), pelaksanaan CSR oleh suatu korporasi sesungguhnya merupakan suatu investasi strategis yang dapat meningkatkan laba dan nilai perusahaan dalam jangka panjang (Chandler dan Werther, 2014).

Dalam perspektif teori stakeholder (Lako, 2015), kepedulian korporasi pada CSR juga merupakan strategi jitu untuk meningkatkan loyalitas, etos kerja, efisiensi, produktivitas dan efektivitas kinerja karyawan kepada perusahaan. CSR juga berdampak positif meningkatkan citra dan reputasi perusahaan, memperkuat kohesi sosial dan ekonomi dengan para stakeholder, dan menurunkan risiko perusahaan. Pada akhirnya, CSR akan meningkatkan penjualan, laba, nilai aset dan ekuitas pemilik serta nilai pasar perusahaan.

Bukti-bukti empiris juga menunjukkan bahwa korporasi yang enggan melaksanakan CSR atau melaksanakannya tidak sepenuh hati akan mengalami dampak-dampak negatif. Kinerja laba dan nilai asetnya bakal menurun atau tidak mengalami kemajuan berarti dari waktu ke waktu. Korporasi tersebut juga seringkali mengalami peristiwa-peristiwa buruk tak terduga yang merugikan. Sebaliknya, korporasi yang peduli mengelola secara baik karyawan dan para relasi bisnisnya, peduli pada masyarakat luas dan ramah lingkungan dengan melaksanakan CSR secara sistematis dan berkelanjutan menikmati berkah ekonomi dan nonekonomi berlimpah dan terus bertumbuh. Pangsa pasar, penjualan, laba, nilai aset dan ekuitas pemilik, serta kinerja saham perusahaan terus bertumbuh. Implikasinya, kesejahteraan pemilik dan para stakeholder kian meningkat (Spitzeck dan Hansen, 2010).

Selain itu, korporasi peduli CSR tersebut juga seringkali mengalami banyak mujizat bisnis yang sulit dijelaskan oleh logika bisnis. Berkah ekonomi dan nonekonomi yang dinikmati korporasi yang peduli CSR bahkan terus meningkat dan jauh lebih besar dibanding korporasi yang kurang atau tidak peduli CSR (Lako, 2011 & 2015).

Spiritual CSR

Saya mencermati, fakta-fakta empiris tersebut di atas tampaknya juga sudah mulai mengilhami sejumlah perusahaan di Tanah Air kian peduli CSR, termasuk CSR Ramadhan. Hasil studi saya menunjukkan bahwa pertimbangan utama sejumlah perusahaan kian peduli CSR tidak hanya didasarkan pada aspek-aspek yuridis, etika bisnis dan filantropis. Tapi, juga didasarkan pada pertimbangan spiritual, yaitu CSR sebagai investasi strategis untuk meraih “cinta-kasih” dari para stakeholder dan agar diberkati oleh Allah sehingga CSR akan mendatangkan “berkah berlimpah” di masa datang.

Karena itu, banyak korporasi mulai mengelola CSR secara spiritual (spiritual CSR). Mereka menggunakan pendekatan CSR sebagai white ocean strategy untuk meraih kasih-sayang dari pemerintah dan masyarakat setempat serta para relasi usahanya (Chanchaochai, 2012). Mereka mengelola CSR secara baik untuk memperkuat pilar dasar dan fondasi bisnis, memperluas akses bisnis dan pangsa pasar, dan agar perusahaan bisa bertumbuh kembang secara berkelanjutan. Strategi tersebut ternyata sangat ampuh karena semua pihak yang berinteraksi dengan perusahaan sama-sama mendapatkan berkahnya.

Berdasarkan paparan di atas, kesimpulan dan rekomendasi utama yang dapat saya sampaikan adalah: Pertama, kepada para pebisnis yang masih mengganggap CSR, termasuk CSR Ramadhan, merupakan beban periodik yang merugikan perusahaan sehingga harus dihindari atau ditekan hendaknya segera insyaf. Anggapan itu keliru dan bisa menjadi bumerang.

Kedua, hendaknya segera disadari bahwa CSR merupakan investasi strategis yang bakal mendatangkan berkah belimpah bagi perusahaan. Berkah itu diperoleh karena lingkungan (planet) dan masyarakat (people) dimana perusahaan berpijak dan berinteraksi mendapatkan berkah ekonomi dan nonekonomi dari keberadaan perusahaan yang beraktivitas untuk meraup laba (profit). Interaksi yang harmonis via program-program CSR yang relevan dan bermakna akan memperkokoh fondasi bisnis dan kinerja perusahaan secara berkelanjutan.

Ketiga, CSR Ramadhan dalam beragam bentuk merupakan Spiritual CSR yang sangat strategis. Secara empiris, perusahaan-perusahaan yang peduli dan konsisten melaksanakan CSR Ramadhan menikmati berkah berlimpah dalam beragam bentuk. Berkah tersebut sulit dijelaskan secara logika bisnis kapitalis. Berkah tersebut hanya bisa diuraikan secara iman atau dengan logika spiritual bisnis.

Andreas Lako, Guru Besar Akuntansi; Ketua Program Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Unika Soegijapranata Semarang

►Bisnis Indonesia, 31 Mei 2019

Kategori: ,