Spirit Paskah Tanpa Kekerasan
Senin, 22 April 2019 | 9:18 WIB

image

Oleh: Aloys Budi Purnomo Pr,

Di Indonesia, perayaan Paskah tahun ini sangat unik, sebab dirayakan dalam suasana pasca pemilihan presiden dan wakil presiden RI 2019-2024, juga pemilihan para legislatif secara serentak tanggal 17 April 2019. Dua hari sesudah pelaksanaan pemilu, umat Kristiani mengenang sengsara dan wafat Yesus Kristus, 19 April. Dua hari sesudah itu, umat Kristiani merayakan Minggu Paskah (21/4), yang sudah dilaksanakan sejak Malam Paskah (20/4).

Dalam kondisi ini, apakah yang masih bisa direnungkan tentang spirit Paskah dalam konteks sosio-politik sekarang ini? Kita tentu menghendaki agar suasana panas selama persiapan menuju pemilihan presiden dan wakil presiden serta para wakil rakyat mulai reda. Kita tinggalkan semua kecenderungan untuk menyerang lawan dan pihak-pihak yang berbeda demi merajut kerukunan dan persaudaraan kembali sebagai warga bangsa Indonesia.

Tanpa Kekerasan

Sengsara dan wafat Yesus adalah puncak segala aksi kekerasan yang diterima-Nya. Namun, peristiwa itu diubah menjadi berkah berbuah Paskah. Paskah adalah kebangkitan. Spiritnya tak lagi dengan kekerasaan melainkan kelemahlembutan dan kegembiraan.

Karena itu, perlulah kita kembangkan spirit Paskah tanpa kekerasan. Terutama, dalam konteks sosialpolitik di Indonesia saat ini, spirit Paskah tanpa kekerasan menjadi sangat relevan dan signifikan untuk dikembangkan.

Belajar dari semangat Paskah, apa yang bisa kita renungkan untuk bangsa ini? Pertama-tama, mari kita katakan tidak kepada setiap bentuk kekerasan baik secara verbal dengan kata-kata penuh kebencian maupun apalagi secara actual dengan tindakan yang adil dan beradab.

Kita ingin menjunjung tinggi kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan Indonesia demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Singkatnya, jangan ada lagi kekerasan! Mari kita katakan tidak untuk kekerasan.

Kita lawan kebohongan. Kita tolak setiap berita dan provokasi yang memecah belah masyarakat kita. Kita memiliki presiden dan wakil presiden yang dipilih oleh rakyat melalui mekanisme Pilpres 2019. Yang terpilih adalah pilihan rakyat.

Suara rakyat adalah suara Tuhan. Kita terima dan kita dukung secara elegan. Tidak usah mencari-cari kesalahan hanya karena kekalahan. Apalagi dengan menggalang people power hanya karena kekalahan sebagaimana pernah diwacanakan beberapa hari menjelang Pilpres. Ini bukan soal kalah menang, melainkan semua demi kemajuan hidup bersama sebagai bangsa yang adil dan sejahtera.

Dalam spirit Paskah tanpa kekerasan, sikap-sikap positif ini perlu dan harus dikembangkan. Pertama, pihak yang diberi mandat oleh rakyat untuk memimpin bangsa ini harus mengutamakan semangat kebangsaan dalam keberagaman. Mandat itu bukan kemenangan yang bersangkutan dan kelompoknya, melainkan merupakan kemenangan rakyat.

Maka, alih-alih larut dalam euphoria yang bisa menyakiti pihak lain yang selama ini menjadi “lawan”, lebih baik mengembangkan sikap inklusif dengan merangkul semua pihak sebagai saudara sebangsa dan se-Tanah Air Indonesia sebagai “kawan”.

Tak perlu merayakan kemenangan secara berlebihan yang melampaui batas-batas kemanusiaan yang adil dan beradab agar tetap menjaga persatuan Indonesia dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kedua, bagi pihak yang belum diberi mandat oleh rakyat, tak perlu merasa kalah. Ini bukan soal kalah menang, melainkan rutinitas demokrasi lima tahunan yang tak perlu disikapi dengan emosi dan provokasi apalagi dengan kekerasan.

Mengerahkan masa dalam aksi people power karena tidak bisa menerima kekalahan adalah bagian dari kekerasan faktual bukan gagasan verbal. Hal yang seperti ini harus dihindarkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara yang santun dan bermartabat. Pengerahan massa demi melampiaskan rasa kecewa karena merasa kalah hanyalah sebentuk infantilisme politik yang licik dan penuh intrik. Ini bukan sikap dan perilaku bijak.

Semangat Rekonsikiasi

Dalam spirit Paskah tanpa kekerasan, yang diutamakan adalah semangat rekonsiliasi. Paskah adalah puncak dari rekonsiliasi, yakni pendamaian manusia dengan Allah. Rekonsiliasi sosial bisa menjadi ungkapan penghayatan spirit Paskah tanpa kekerasan.

Beberapa langkah bisa ditempuh. Pertama, jernihkan hati, beningkan budi, heningkan jiwa. Inilah sikap dasar untuk memulai langka saling mengampuni sebagai langkah kedua. Dengan pengampunan, kita bangun semangat baru untuk maju bersama sebagai bangsa yang adil dan makmur untuk semua. Akhirnya, rekonsiliasi harus dimulai dalam semangat hidup bersama bukan lagi kau dan aku, kami dan mereka, melainkan menjadi kita sebagai bangsa.

Cukup sudah kekerasan. Mari kembali sebagai anak-anak bangsa yang bermartabat sebagai manusia. Hentikan stigma cebong dan kampret, sebab itu hanyalah stigma hewani yang tak mencerminkan martabat kemanusiaan yang adil dan beradab. Bahkan, stigma itu hanyalah bagian dari hatred production yang hendak merendahkan martabat anak-anak bangsa ini, yang pada gilirannya nanti lalu menghalalkan segala cara untuk saling menghabisi.

Mari kita rajut peradaban kasih bagi bangsa Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaan kita; apa pun latar belakang kepentingan politik kita. Wujudkan Indonesia maju dan adil makmur sebagai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia! Selamat merayakan Paskah tanpa kekerasan.

_____________________
Aloys Budi Purnomo Pr,
Budayawan Interreligius, Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata, Andurohkat Kwarda Pramuka dan Anggota FKUB Jateng

https://investor.id

Berita serupa:

https://id.beritasatu.com/home/spirit-paskah-tanpa-kekerasan/187680

Kategori: ,