Kenali Toxic Relationship dan Antisipasinya
Selasa, 9 April 2019 | 15:24 WIB

Dr Y Bagus Wismanto MS saat memaparkan materinya dalam acara talkshow “No more Toxic Relationship”

Teman-teman Sahabat Psikologi Unika Soegijapranata mengadakan talkshow yang mengangkat tema “No more Toxic Relationship” pada hari Sabtu (6/4) di Ruang Teater, Gedung Thomas Aquinas, Unika Soegijapranata.

Hadir sebagai narasumber dalam acara talkshow ini yaitu Dr Y Bagus Wismanto MS yang merupakan salah satu dosen Fakultas Psikologi Unika, serta Monika Windriya Satyajati SPsi MPsi Psikolog sebagai narasumber sekaligus Wakil Dekan Fakultas Psikologi Unika bidang kemahasiswaan.

Dalam paparannya, Dr Y Bagus Wismanto MS sebagai salah satu narasumber dalam acara talkshow tersebut menerangkan pengertian dari toxic relationship. ” Toxic relationship terdiri dari dua kata yakni toxic artinya racun dan relationship yang berarti keterhubungan. Maka toxic relationship merupakan hubungan antar individu atau kelompok yang meracuni. Dan racun itu bersifat merusak dan membunuh. Sehingga toxic relationship berarti hubungan yang merusak tidak hanya merusak hubungan individunya sendiri tetapi juga antar individu yang lain,” katanya.

“Orang yang toxic adalah orang yang mengambil sesuatu bukan orang yang memberi sesuatu,” sambungnya.

Terkait toxic relationship, Dr Bagus menyampaikan pesannya kepada kaum muda. “Anak-anak jaman sekarang cenderung individualistik. Mereka terpaku pada keasyikan diri sendiri dan kurang membangun hubungan interpersonal. Mereka berteman tapi melalui handphone. Maka saran saya, kembangkanlah hubungan interpersonal secara langsung dan kurangi berteman melalui  handphone.”

Sedangkan Monika W Satyajati SPsi MPsi Psikolog, lebih mendorong dan mengajak kaum muda untuk berperan menanggulangi toxic relationship.

“Kemajuan teknologi  jaman sekarang sudah lebih baik, jadi ketika menemui sesuatu yang toxic jangan cuma diam, apalagi hanya membicarakan toxic di sosial media. Sebaiknya ketika kita mempunyai sebuah masalah, kita bisa berbicara langsung kepada orangnya atau kita bisa refleksi pada diri kita sendiri,” ucapnya.

“Terkadang kita merasa, kita adalah korban dari toxic. Padahal kita adalah toxic itu sendiri. Maka kita perlu berkaca dengan cara melihat perilaku kita pada orang lain,” tambahnya.

Menelusuri latar belakang diselenggarakannya takshow dengan tema toxic relationship, Shabrina Aprillita Ismawan, selaku ketua panitia talkshow menjelaskan.Talkshow ini diadakan karena Sahabat Psikologi melihat bahwa di masyarakat sekarang, banyak terjadi fenomena toxic relationship dan menurut saya fenomena toxic banyak terjadi karena orang-orang masih banyak yang tidak paham mengenai toxic relationship. Maka dari itu, kami mengadakan talkshow ini dengan harapan akan semakin banyak orang yang mengenal toxic relationship dan antisipasinya,” jelas Shabrina. (AAT-AS)

Kategori: ,