Berprestasi Dalam Keterbatasan
Selasa, 23 April 2019 | 10:27 WIB

Totally Blind semenjak usia 16 tahun,  membuat Richard Kennedy tidak mau terus menerus menyerah menjalani fase itu. Salah satu calon wisudawan alumnus SMA ST Bonaventura Madiun ini, sangat termotivasi dengan berani. Pasalnya, mahasiswa berkebutuhan khusus ini tetap mampu menelurkan karya terbaiknya melalui penelitian dengan judul “Diskursus Hukum dan Etika tentang Praktek Ibu Pengganti Sebagai Perwujudan Hak Reproduksi” mengantar Richard yang akrab disapa koko ini mendapat hasil yang maksimal dengan menjadi salah satu wisudawan terbaik Prodi Hukum Fakultas Hukum dan Komunikasi Unika Soegijapranata Periode I tahun 2019, dengan IPK 3,98.

Bermula dari ketertarikan studi tentang kemanusiaan terutama yang berkaitan tentang gender, Richard mengatakan  mengenai Surrogate Mother, yang  secara tidak sengaja dibahas pada saat mata kuliah hukum tentang perjanjian sewa rahim, dan Richard tertarik dengan hak perempuan,  sehingga itu menjadi awal pondasi pada latar belakang penelitian seperti yang sudah diteliti. Dalam pembuatan skripsi Richard mengatakan Ada dua pertimbangan yang ingin dikaji yaitu tentang sterilisasi terhadap penyandang disabilitas lalu tentang hak Ibu pengganti.

Hasil dari penelitian yang Richard lakukan mengungkapkan bahwa rahim adalah arena pertempuran kuasa antara agama, negara, dan filsafat moral melalui etika. Rahim perempuan sangat penting dan menjadi wadah generasi berikutnya serta pendukung demografi Indonesia. Namun masih dibatasi, karena aturannya belum diatur jelas oleh negara lalu masih timbulnya pertentangan di agama masng-masing, dan pertentangan moralitas etika tentang sewa rahim ini di masyarakat pada umumnya.

Richard sendiri menyimpulkan,  perempuan ternyata tidak semerdeka kelihatannya. Hak atas rahimnya, hak atas reproduksinya itu bukan perempuan sendiri yang menentukan.  Perempuan masih tidak bisa menentukan haknya sendiri.

“Saya mengusulkan untuk Republik ini melalui pemerintahan yang ada, sebagai Negara  yang mengakui menjunjung tinggi HAM,  haruslah kooperatif  mengakomodasi lebih rinci tentang ibu pengganti ini  sebagai pilihan bebas, dan  sebagai perwujudan manifestasi hak atas tubuh perempuan, dan juga saya  mengajukan usulan mekanisme hukum yang bisa memberikan  perlindungan hukum melalui pengajuan permohonan ke pengadilan, dengan hasil penetapan pengadilan”tegas Richard.

Rencana kedepannya mengenai kelanjutan karier kerja atau kuliah, Richard memilih keduanya,  namun juga masih mencari arah dan peluang. “Kalaupun saya memilih kerja dan  tidak melanjutkan  studi, saya takut spirit saya untuk belajar berkurang, tapi kalau saya melanjutkan kuliah dulu tanpa bekerja ya dilema juga, untuk apa saya studi tinggi tapi pengalaman di lapangan Nol,  jadi  harus balance”, jelas Richard.

Terkait dengan pembelajaran di kampus, Richard merasa dosen Unika sudah seperti keluarga. “Bukan hanya mampu dalam hal keilmuan, namun dosen Unika terutama di fakultas hukum juga mampu menerima keterbatasan saya. Menyambut saya sangat welcome, hak-hak yang saya dapatkan juga tidak dibeda-bedakan, saya diberikan apa yang menjadi kebutuhan dan semua hal yang umum tetap diberikan.  Saya beruntung bisa belajar di Unika “, tambahnya.

Mendaftar dengan status mahasiswa disabilitas, Richard menyematkan lagi tentang  kalimat Talenta Pro Patriat Et Humanitate itu bukan hanya semboyan atau jargon semata, tapi memang terimplementasikan dikampus ini. Melalui pembimbing dan seluruh rekan-rekan, Richard mampu bertahan dan menyelesaikan skripsi dengan semaksimal mungkin.

“Sejauh ini saya sangat-sangat berterimakasih kepada pembimbing saya Pak P Donny Danardono SH Mag Hum, dengan bantuan dan arahan dari beliau saya mampu menyelesaikan semua ini dengan maksimal dengan kondisi saya seperti ini. Beliau sangat sabar dan pengertian sekali dan itu membuat saya juga semangat. Dan saya juga  sadar, untuk kondisi kampus dengan kontur tanah yang terjal dan penataan ruangnya memang gak ramah disabilitas, tapi saya berani jamin bahwa kampus ini punya semangat terbaik untuk mendidik, dan memberikan pendidikan ke semua kalangan tanpa membeda-bedakan dengan memberikan seluruh kebaikan dan kemampuan mereka”ucap Richard.

Motivasi sejauh ini yang selalu Richard terapkan ialah  Penerimaan yang Tulus dari Keluarga tentang apapun itu baik dari segi  kekurangan kita dan kelebihan kita adalah kunci utama yang penting dan landasan untuk memudahkan sosial interaksi di masyarakat. “Berani memulai berani mengakhiri” jawab pria berzodiak cancer ini lagi.

Untuk kendala yang ditemui hampir semuanya ada dan sesuai porsinya masing-masing. Mengatasi kendala tidak terlalu sulit, karena semuanya adalah pilihan sendiri. “Untuk melakukan perubahan dan untuk  melakukan social movement, mari  kita tumbuhkan sama-sama pemikiran yang peduli akan perempuan sama halnya dengan disabilitas. Tidak perlu menjadi anggota parlemen agar terlihat seperti terlindungi.  Yang perlu kita lakukan adalah memperjuangkan itu bersama-sama,” Tutup Richard. (celiz)

Kategori: ,