Berawal dari Rasa Gengsi Akhirnya Membuahkan Hasil
Selasa, 23 April 2019 | 9:40 WIB

“Mengerjakan apa yang bisa dikerjakan sekarang.” Itulah moto yang dihidupi oleh Monica Rosari Putri, salah satu wisudawati terbaik Unika Soegijapranata periode I dari program studi arsitektur Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) dengan IPK 3,51. Perempuan yang biasa dipanggil Monica ini memegang teguh motto hidupnya untuk tidak menunda-nunda pekerjaan dan mengulur-ulur waktu. “Kalau bisa dikerjakan sekarang, maka dikerjakan sekarang. Aku tidak suka mengulur-ulur waktu, kalau ada pekerjaan yang bisa diselesaikan sekarang, maka selesaikan sekarang,” ungkap Monica. Dengan berpegang teguh pada motto hidupnya tersebut, perempuan kelahiran 8 September 1996 ini berhasil lulus dengan predikat Cum Laude.

Berkuliah di Unika Soegijapranata dan mengambil jurusan arsitek memang tidak pernah terpikirkan oleh Monica sebelumnya. “Motivasi awal aku memilih Unika tuh karena tidak diterima di universitas negeri. Awalnya aku memang tidak pernah kepikiran untuk masuk Unika, bahkan waktu tes di negeri aku ambil jurusan akuntansi,” kata Monica.

Alasan utama yang membuat Monica memilih jurusan arsitek ialah rasa gengsinya. Dia beranggapan bahwa jurusan arsitek merupakan jurusan yang bagus di Unika, oleh sebab itu dia memilih untuk kuliah jurusan arsitek di Unika Soegijapranata. Setelah menjalani masa kuliah di program studi arsitektur, Monica mengakui bahwa ia merasa nyaman dan merasa tidak salah jurusan, bahkan namanya kerap kali masuk dalam nominasi Best Of Studios (BOS).

Membahas mengenai skripsi, alumnus SMA Kolese Loyola ini mengangkat ‘Museum Permainan Tradisional Anak di Daerah Istimewa Yogyakarta’ sebagai judul skripsinya. Pemilihan judul tersebut tidak lepas kaitannya dengan rasa ketertarikan pada anak-anak. “Aku memilih skripsi ini karena rasa ketertarikan dengan anak-anak. Dalam arsitektur sendiri, anak-anak kan dalam ruang geraknya harus dilihat, baik itu dalam segi keamanannya, dan ruangannya itu sendiri dari segi psikologis harus dibuat sesuai kebutuhan anak-anak tersebut, misalkan kalau sedang bermain seperti apa, kalau sedang belajar seperti apa, itulah yang membuat aku tertarik membahas anak-anak,” paparnya.

“Skripsi aku ini lebih menjurus pada arsitektur ramah anak. Aku mengambil DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) sebagai lokasi skripsiku ini. Sebelumnya aku lihat dulu tempat apa sih yang dibutuhkan anak-anak di DIY ini, dan akhirnya aku melihat ada Kampung Dolanan Pandes di daerah Bantul. Kampung ini sangat bersejarah, karena dulu saat gempa di Jogja banyak korban anak-anak kecil yang merasa trauma dan akhirnya masyarakat sekitar menggunakan permainan tradisional untuk healing anak-anak tersebut agar tidak merasa bahwa mereka tidak sedang dalam suasana bencana, maka terbentuklah Kampung Dolanan. Karena sekarang kondisi kampung tersebut sudah mulai ditinggalkan,  dan banyak anak-anak zaman sekarang yang tidak paham tentang permainan tradisional, maka dari situ aku membuat museum tradisional anak dengan mendigitalisasikan permainan-permainan tradisional anak sehingga anak-anak zaman sekarang mampu memainkan permainan tradisional secara digital,” ungkap Monica dalam penjelasan skripsinya tersebut.

Dalam skripsinya tersebut, cara ia mendigitalisasikan permainan tradisional anak ialah dengan penggunaan teknologi modern seperti VR (Virtual Reality), sehingga museum yang dia buat bukanlah museum yang baku atau tradisional, melainkan museum yang lebih modern.

Dalam proses pembuatan skripsi, Monica mengaku tidak ada hambatan, karena selama proses pembuatan skripsi ini dia merasa senang dan lebih banyak suka daripada duka. “ Kalau aku sih merasa lebih banyak sukanya daripada dukanya. Kalau hambatan sepertinya tidak ada karena aku senang menjalaninya,” ungkapnya.

Keberhasilan Monica kuliah arsitektur di Unika Soegijapranata tidak lepas dari sosok Ibu. “Sosok penyemangatku adalah Ibuku. Beliau sudah mengorbankan banyak hal buat aku, dan memberikan yang terbaik untukku sampai aku bisa kuliah, sehingga aku ingin memberikan hasil yang terbaik untuk ibuku,” kata Monica. Setelah berkuliah di Unika Soegijapranata, kini Monica sudah bekerja menjadi junior arsitek di sebuah perusahaan.

Selama berkuliah di Unika Soegijapranata, ia merasa sangat terbantu karena Unika memberikan fasilitas belajar sekaligus dosen-dosen yang luar biasa untuknya. Bukan dosen yang datang lalu kasih tugas, melainkan dosen yang sungguh-sungguh membimbing dirinya dari nol. Tidak hanya memberi kesan, Monica juga memberikan pesan bagi para mahasiswa Unika untuk tidak menjadi mahasiswa yang kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang), dan menjalin banyak relasi karena itu akan sangat berpengaruh di kedepannya nanti. (CBL)

Kategori: ,