Satu Jiwa Indonesia
Rabu, 20 Maret 2019 | 5:11 WIB

Oleh Aloys Budi Purnomo Pr

TULISAN ini merupakan refleksi atas peristiwa kebangsaan dan kerukunan yang terjadi di Solo pada akhir Februari lalu, tepatnya pada Sabtu, 23 Februari 2019. Apa yang terjadi di Solo memberi inspirasi tentang semangat kebangsaan dan kerukunan dalam keberagaman.

Peristiwa itu ada dalam bingkai ”Mengenang Presiden Ke-4 Republik Indonesia”, yakni KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur. Hajatan Haul Ke-9 Gus Dur itu menjadi peristiwa unik ketika diekspresikan dalam spirit kebangsaan. Berbagai peristiwa pun dikemas dalam spirit Bhinneka Tunggal Ika. Yang paling menonjol dalam rangka menebarkan spirit nasionalisme dari Solo untuk Indonesia adalah dua hal.

Pertama, terjadinya Kirab Kebangsaan yang dilaksanakan dari Stadion Manahan Solo menuju Stadion Sriwedari. Ribuan peserta dari berbagai kalangan, komunitas, dan agama turut serta. Bahkan, tak ketinggalan, komunitas disabilitas pun turut bergerak meski harus duduk di kursi roda.

Hujan deras yang mengguyur tak membuat semangat kebangsaan mereka meluntur. Antusiasme masyarakat warga dan warga masyarakat yang menyaksikan Kirab Kebangsaan memberi indikasi positif lain bahwa masyarakat Solo memang cinta damai dalam semangat kerukunan.

Mereka menyemangati para peserta Kirab Kebangsaan yang bayah kuyup oleh keringat yang berpadu dengan air hujan. Yel-yel kebangsaan seperti ”NKRI Harga Mati”, ”Pancasila Jaya”, dan ”Bhinneka Tunggal Ika Kaya” terus menggema di sepanjang perjalanan kirab itu.

Bagi saya, ini menjadi praktik kreatif dalam bingkai seni dan budaya untuk meretas sikap keras yang terkadang meletup di Kota Solo namun sejatinya itu bukan DNA watak masyarakat Solo yang cinta damai dan selalu mengedepankan hidup rukun dalam keberagaman.

Masyarakat warga tidak terprovokasi oleh sentimen politik yang suhunya memanas. Sebaliknya, mereka tetap tenang, teduh dalam mengutamakan sikap cinta damai dan kerukunan dalam semangat kebangsaan.

Untuk Indonesia

Yang terjadi di Solo atau Surakarta itu adalah pesan damai untuk Indonesia. Tak berlebihan, tema ”Berjuta Warna Satu Jiwa Indonesia” yang diangkat dalam Kirab Kebangsaan tersebut pun menjadi pesan dari Solo untuk Indonesia. Kendati titik pijaknya adalah Haul Ke-9 Gus Dur yang di Solo mendapat gelar Kanjeng Raden Ario Kiai Haji Abdurrahman Wahid, ekspresi dan praksisnya adalah berjuta warna keberagaman.

Namun, tetaplah semua dalam satu jiwa Indonesia. Jiwa Indonesia yang satu dalam Pancasila, dihayati dalam keberagaman yang kaya berjuta warna. Tentu ini memberi inspirasi dan motivasi tersendiri bagi siapa saja untuk tetap rukun kendati berbeda, untuk tetap damai dalam keberagaman

. Bahkan, puncak dari rangkaian acara itu, yang diperkaya oleh KH Mustofa Bisri yang akrab disapa Gus Mus, memancarkan cahaya beragam warna di tengah kegelapan malam demokrasi yang sedang dibahayakan oleh hoaks, fitnah, dan kebohongan. Pesan utama Gus Mus malam itu, menjadi salah satu yang terpenting dan mengesankan saya.

Pesan itu adalah: ”Kita harus menjadi pemberani melawan segala ancaman dan ketakutan! Warga Indonesia yang sejati adalah warga yang berani berpihak pada kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan. Bukan sebaliknya, yang mudah percaya pada kebohongan dan ancam-mengancam.

Bahkan, mengancam Tuhan!” Pesan yang disampaikan di hadapan ratusan ribu warga masyarakat Solo dan sekitarnya yang hadir, baik di dalam maupun di luar Stadion Sriwedari itu, menurut hemat saya amat dahsyat dalam menggelorakan semangat hidup rukun sebagai warga bangsa Indonesia.

Satu jiwa untuk Indonesia digemakan dari Solo untuk Nusantara. Mari menjadi warga Indonesia yang berani berpihak pada kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan. Maka, ”Indonesia Pusaka” pun akan terus bergema di hati bangsa Indonesia.

Aloys Budi Purnomo Pr, Kepala Campus Ministry Unika Soegijapranata, Andurohkat Pramuka Kwarda dan anggota FKUB Jateng.

SM 18_03_2019 Satu Jiwa Indonesia

Suara merdeka 18 Maret 2019 hal 4, https://www.suaramerdeka.com/smcetak

Kategori: , ,