PRODI ARSITEKTUR GELAR EXTERNAL EXAMINATION
Rabu, 20 Maret 2019 | 9:42 WIB

Talkshow dengan narasumber dari tiga juri yang akan menilai EE 2019

 

Kegiatan Best of Studio Architecture 4.0 yang diselenggarakan Senin lalu oleh Program Studi (Prodi) Arsitektur Unika Soegijapranata, telah berlanjut ke hari kedua dengan kegiatan External Examination atau sering disebut EE, pada Selasa (19/3) di ruang Teater Thomas Aquinas Unika.

Kegiatan External Examination yang dilangsungkan sejak pagi hingga malam hari ini, diisi dengan talkshow dan penilaian juri atas enam karya Tugas Akhir (TA) para mahasiswa prodi Arsitektur angkatan 73 dan 74. Sedangkan tim penilai atau juri dalam kompetisi EE tersebut adalah Erick Budhi Yulianto dari BE Studio Jakarta, D.Eng Agus Hariyadi ST MSc yang merupakan salah satu dosen Arsitektur dari Universitas Gajah Mada, serta Fajar Setiawan dari Arsitektur Denton Corker Marshall.

Ketua acara External Examination 2019, Candra Adi Sugiharto mahasiswa prodi Arsitektur angkatan 2017 menerangkan perihal kegiatan yang diselenggarakan setahun sekali ini.

External Examination sebenarnya merupakan evaluasi tugas akhir mahasiswa (PAA) Perencanaan dan Perancangan Arsitektur yang baru lulus dan dinilai oleh tim juri yang memiliki latar belakang akademisi, praktisi dan alumni yang sudah berkarya, sebagai evaluasi bagi mahasiswa yang PAA pada periode berikutnya,” jelas Candra.

“Adapun latar belakang dipilihnya tema BOS dan EE Arsitektur 2019 tentang post-digital architecture 4.0 adalah untuk memperkaya dan menambah wawasan pengetahuan serta keahlian para mahasiswa arsitektur Unika supaya lebih siap menghadapi perkembangan kemajuan teknologi di bidang arsitektur yang bisa digunakan dalam tugas-tugas mahasiswa maupun saat berkarya pada saat lulus nanti,” imbuhnya.

Dalam penjurian kompetisi EE kali ini ada lima kriteria yang menjadi penilaian yaitu estetika, kekayaan fungsi, teknologi, green architecture, dan kelayakan pasar. Demikian penjelasan salah satu juri EE dari BE Studio Jakarta Erick Budhi Yulianto disela-sela acara.

Lebih lanjut Erick menjelaskan bahwa melalui lima kriteria tersebut para nominator EE 2019 dipilih dan nominator yang mendapat point tertinggi itulah pemenangnya.

“Jadi peserta EE yang masuk nominator ada enam dan dari enam nominator ini akan kita pilih yang terbaik. Sedangkan apabila dilihat dari range projectnya, enam nominator ini  tampak cukup luas spectrumnya. Hal tersebut terlihat dari sisi karyanya seperti misalnya benda yang lebar dan benda yang kompleks secara komersial itu ada semua, jadi cukup seru kompetisinya karena tidak memandang bangunan besar atau kecil asal memenuhi lima kriteria itu bisa terpilih sebagai pemenangnya, ” ungkap Erick.

“Namun demikian kreatifitas itu adalah yang tidak bisa tergantikan, dan yang bisa digantikan oleh mesin adalah kegiatan yang berulang. Jadi kreatifitas tetap nomor satu yang tidak bisa tergantikan dan itu punya kita. Sebaliknya mesin yang membuat adalah kita, jadi kita yang memprogram untuk membantu aktifitas kita. Namun demikian bagi mahasiswa yang tidak menggunakan program atau teknologi itu mungkin akan terlindas dengan kemajuan teknologi. Harusnya revolusi 4.0 ini dimaknai jangan sampai kita dikalahkan oleh mesin karena kita yang menciptakan mesin,” saran Erick kepada para mahasiswa saat menutup wawancaranya.

Berikut adalah para nominator yang terpilih sebagai pemenang EE 2019 prodi Arsitektur. Juara pertama diraih oleh Dionisius Yuka dengan karyanya ‘stadiun klub sepak bola tipe C dengan pendekatan Perilaku Suporter di Semarang’, Juara kedua diraih Victor Chrystison dalam karyanya ‘Ekowisata Kopi di Kabupaten Temanggung’, serta Juara ketiga diraih Vincensius Gilrandy’ melalui karyanya ‘Pengembangan dan penataan Kawasan Simanggi sebagai Mix used Urban Distric di Surakarta’. (fas)

Kategori: ,