Mahasiswa FAD Unika Live in di Selo Boyolali
Jumat, 1 Maret 2019 | 11:38 WIB

Para mahasiswa FAD Unika sebagai peserta live in, saat persiapan berangkat di selasar Thomas Aquinas. (1/3/2019)

Sebuah kegiatan live in yang diharapkan dapat membangun karakter positif dalam diri mahasiswa, telah diselenggarakan oleh Fakultas Arsitektur dan Desain (FAD) Unika Soegijapranata selama lima hari mulai tanggal 1 Maret sampai dengan 5 Maret 2019.

Wakil Dekan III FAD Unika Soegijapranata, Christian Moniaga ST Mars saat ditemui dalam acara pemberangkatan kegiatan live in pada hari Jumat (1/3) di selasar Thomas Aquinas Unika mengemukakan tentang tema live in FAD 2019.

Live in tahun 2019 merupakan kegiatan wajib seperti tahun-tahun sebelumnya bahwa mahasiswa FAD mencoba kembali untuk mengadakan live in dengan tema : “Urip iku Urup”. Artinya mahasiswa sendiri yang menentukan bahwa hidup ini harus bermanfaat dan berguna bagi sesama dan lingkungan. Hal ini juga sesuai dengan visi misi FAD yaitu penekanan pembelajaran di FAD bertemakan eko permukiman, maka dari itu kegiatan live in ini sangat cocok untuk menerapkan kembali visi misi itu dalam kemahasiswaan.”

Lebih lanjut Christian menjelaskan bahwa live in tahun ini bertempat di desa Selo kabupaten Boyolali, dan didampingi oleh tim dosen FAD selama 24 jam di sana. Sedangkan peserta live in adalah mahasiswa FAD angkatan 2018 yang berjumlah sekitar 200 peserta dan di bagi dalam tiga dusun dalam satu desa.

Adapun ketua panitia Live in FAD 2019 sekaligus ketua BEM FAD, Risma Ika Sari memberi gambaran tentang kegiatan yang akan dilakukan dalam kegiatan live in tahun ini.

“Para mahasiswa yang keseharian menjalani rutinitas kuliah dan kegiatan lainnya di perkotaan bersama orang tua mereka, maka dalam live in kali ini para peserta akan diajak bagaimana menghadapi dimensi kehidupan lain yang ada di pedesaan dan mungkin jarang atau bahkan belum pernah mereka  alami sebelumnya. Para peserta akan benar-benar berkarya bersama warga desa, melalui beberapa kegiatan bersama diantaranya adalah workshop resin,”urai Risma.

Workshop resin ini akan kami selenggarakan untuk meningkatkan potensi pariwisata di sana, sebab desa Selo adalah desa wisata tetapi kami amati sebelumnya di desa tersebut belum ada cendera mata untuk pengunjung. Oleh sebab itu kami adakan workshop resin supaya karang taruna atau masyarakat bisa membuat cendera mata yang khas dari desa Selo,” lanjutnya.

Risma juga menjelaskan acara lain yang rencana akan diselenggarakan dalam kegiatan live in tahun ini seperti memperkenalkan seni budaya masyarakat Selo dengan berkolaborasi bersama para mahasiswa dalam bentuk seni tari pada saat malam inagurasi. (fas)

Kategori: ,