Bahas Kepribadian Ambang, Dosen Unika Soegijapranata Ini Raih Gelar Doktor
Jumat, 8 Maret 2019 | 8:23 WIB

image

Christine Wibhowo, Dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata berhasil memperoleh gelar doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, 1 Maret 2019 lalu. Disertasinya mengenai kepribadian ambang dan gangguan kepribadian ambang, mengantarkannya mendapatkan gelar tersebut.

Kepada Tribun Jateng, Christine menjelaskan bila gangguan kepribadian ambang  merupakan sebuah gangguan emosional yang menyebabkan ketidakstabilan emosi, serta mengakibatkan stress dan masalah lainnya.

Disertasi Christine berjudul ‘Determinan Kepribadian Ambang’, papar Christine, mengupas tuntas mengenai gangguan kepribadian ambang yang banyak dijumpai oleh perilaku masyarakat dewasa ini.

Kriteria itu antara lain mudah panik jika sendirian atau jomblo, serta sering putus-nyambung di suatu hubungan dengan orang lain.

"Ada tingkat bahaya yang sangat tinggi di mana banyak orang melakukan perilaku berisiko, hingga adanya percobaan bunuh diri," katanya, Kamis (7/3/2019).

Menurut ibu tiga anak ini, hasil penelitian tersebut memperkaya teori dalam bidang psikologi khususnya tentang faktor-faktor risiko kepribadian ambang.

Pengajar di Unika Soegijapranata sejak 1995 menuturkan, disertasinya membutuhkan waktu 1,5  tahun hingga selesai.

Adapun sampel penelitiannya adalah 210 orang Semarang yang telah berkeluarga. Sekaligus Christine ingin menjelaskan bila gangguan kepribadian ambang juga dapat menjangkiti mereka yang sudah berkeluarga.

Yang menarik dalam disertasinya, meskipun para responden memiliki gangguan kepribadian ambang, cara pencegahannya ada di tengah-tengah masyarakat. Yakni dengan cara memanfaatkan kearifan lokal.

Menurut lulusan S1 Unika Soegijapranata Fakultas Psikologi angkatan 1985, kearifan lokal yang ada di tengah-tengah masyarakat sangat membantu mencegah keinginan bunuh diri pada responden.

Ada sejumlah hal dari kearifan lokal yang menurutnya dapat mencegah seseorang mengalami gangguan kepribadian ambang. Seperti contohnya ‘nyunggi dhuwur mendhem jero’, budaya rewang atau gotong-royong, dan ‘ajining diri saka lathi’.

Nyunggi dhuwur mendhem jero bisa diartikan mencegah orang supaya tidak impulsif, atau berperilaku secara beresiko. Sementara budaya rewang artinya budaya gotong-royong bersama masyarakat sekitar.

“Misalnya depresi berkepanjangan, yang membuat orang tersebut ingin mengakhiri hidupnya dengan cara mengajaknya diskusi dan curhat,” urai Christine.

"Lalu mereka bisa diajak bergotong royong melakukan sesuatu. Sifatnya adalah mengajak mereka berinteraksi dengan orang banyak, bisa menghilangkan gangguan tersebut," tambah dia.

Sementara ‘ajining diri saka lathi’ memiliki arti mencegahnya melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri.

“Kami mengajak mereka mengendalikan diri. Pusatnya ada di pikiran. Apabila cara berpikirnya jernih maka pengendalian diri bisa dilakukan,” ujarnya.

Christine pun tercatat sebagai doktor ke-4341 di Universitas Gadjah Mada. Ia menyelesaikan kuliahnya selama 3,5 tahun dengan IPK 3,79.

Christine berharap penelitian ini dapat menjadi acuan bagi psikolog untuk mendeteksi adanya gangguan kepribadian ambang pada diri seseorang. Dan juga memberikan terapi yang berhubungan dengan kearifan lokal bagi individu dengan gangguan kepribadian ambang.

"Pada intinya mengajak mereka yang terganggu kepribadian ambangnya untuk bersosialisasi, diajak berinteraksi akan menyembuhkan mereka. Pada dasarnya mereka ingin ada orang lain yang peduli ke mereka," papar Christine.

Rektor Unika Soegijapranata Ridwan Sanjaya mengatakan Christine menambah jumlah doktor pada Fakultas Psikologi Unila Soegijapranata Semarang, khususnya dalam bidang Psikologi Klinis. Christin menjadi doktor ke-9 Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata, dan doktor ke-66 di Universitas Unika Soegijapranata.

"Hal tersebut memperkuat posisi Psikologi sebagai program studi unggulan di kampus ini,” papar Ridwan Sanjaya.

http://jateng.tribunnews.com

Kategori: