Alumnus Unika Soegijapranata Tahbisan Diakon di Roma
Selasa, 26 Maret 2019 | 11:40 WIB

Tahbisan Diakon di Basilika Santo Pankrasius, Roma, Sabtu, 23 Maret 2019. Para diakon ditahbiskan oleh Mgr. Jorge Carlos Patrón Wong

Ada yang istimewa dari perayaan Tahbisan Diakon di Basilika Santo Pankrasius, Roma, Sabtu, 23 Maret 2019. Para diakon ditahbiskan oleh Mgr. Jorge Carlos Patrón Wong, Sekretaris Kongregrasi untuk Klerus (imam). Salah satu yang ditahbiskan adalah putra dari Indonesia, yaitu Frater Bonaventura Agung Pribadi, OCD. Hadir pula puluhan imam, suster dan frater dari Indonesia yang studi atau berkarya di Roma. Beberapa kali Mgr. Patrón Wong menyebut nama Indonesia dalam homilinya.

Mgr. Jorge Carlos Patrón Wong menekankan pentingnya pelayanan yang penuh sukacita pada zaman ini. Seorang diakon dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan Tuhan Yesus di dunia ini. Seorang diakon adalah seorang pelayan. Tahbisan Diakon menjadi rangkaian proses pembinaan calon imam. Masa diakonat menjadi masa persiapan terakhir bagi seseorang yang akan menjadi imam.

“Hidup bakti dalam Gereja adalah anugerah Tuhan. Menjadi diakon adalah sebuah panggilan luhur dalam pelayanan Gereja. Para diakon perlu berdoa dengan gembira. Melayani dengan gembira. Seperti ajakan Paus Fransiskus, bagaimana pelayanan kita menghadirkan kerahiman Allah pada zaman sekarang ini”, urai Mgr. Patrón Wong kelahiran Meksiko ini.

Panggilan yang Unik

Bersama dengan Frater Jean Donald Rasolofoniaina, OCD (Madagaskar) dan Frater Herbert Joe Marbariang, OCD (India), Frater Bonaventura Agung Pribadi, OCD ditahbiskan menjadi Diakon. Mereka mengambil moto Tahbisan Diakon dari teks Yoh 13:14 “Jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu”.

Perjalanan panggilan Frater Bona, begitu dia disapa, sangat unik. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak dan adiknya perempuan. Ia lahir dari pasutri Bapak Antonius Slamet Suyanto dan Ibu Maria Theresia Purharni (Alm). Ia memutuskan masuk biara ketika sudah menyelesaikan kuliah.

Bersama dengan Frater Jean Donald Rasolofoniaina, OCD (Madagaskar) dan Frater Herbert Joe Marbariang, OCD (India), Frater Bonaventura Agung Pribadi, OCD ditahbiskan menjadi Diakon

“Saudara saya ada dua. Saya anak kedua dan laki-laki tunggal. Dulu saya kuliah Teknik Industri Jurusan Teknik Elektro di Unika Soegijapranata Semarang. Masuk Kuliah mulai tahun 2003. Pada tahun 2008 saya memutuskan masuk biara setelah selesai kuliah”, tutur Diakon Bona mengenang perjalanan panggilannya.

Saat dia masuk biara tahun 2008 keluarganya menjadi umat Paroki Santa Teresia Bongsari. Tetapi dalam perkembangannya Paroki Bongsari dimekarkan menjadi beberapa paroki. Saat ini keluarganya menjadi umat Paroki Semarang Indah.

“Saya mulai menyadari kalau memiliki panggilan hidup membiara baru setelah semester 5 waktu kuliah di Unika Soegijapranata. Tetapi sebenarnya panggilan sudah dari kecil, hanya belum mudeng. Dalam perjalanannya Tuhan sedikit demi sedikit menunjukkan panggilan saya lewat berbagai pengalaman dan perjumpaan dengan banyak orang. Terutama dari dulu saya tidak tahu kenapa suka keheningan dan misa pagi”, urai alumnus SMK IPT Karang Panas Semarang ini.

Lebih lanjut, diungkapkan, waktu itu dia banyak menyendiri di kamar untuk membaca Kitab Suci dan mendengarkan siraman Rohani dan lagu-lagu Rohani dari radio. Sampai akhirnya, Tuhan mempertemukan dia dengan seorang suster Carmelit Misionaris di kampus Unika.

“Sampai pada akhirnya saya berjumpa dengan Suster Ninfa, CM (Suster Susan Ninfa Timbal, CM –red.), terus kenal dengan spiritualitas Karmel Teresa. Saya sangat kagum dan ngefans dengan Beato Francesco Palau OCD, pendiri Carmelitane Missionarie”, tuturnya.

Para Imam, Suster dan Frater Indonesia ikut menghadiri tahbisan diakonat

Diakon Bona menyadari bahwa bahwa spiritualitas hidup Karmel sama dengan hidup yang pada waktu itu dijalaninya sebelum masuk biara, yakni doa, keheningan dan persaudaraan. “Doa dan keheningan saya buat setiap hari pagi dan sore, pagi setelah misa biasa doa hening di depan Sakramen 30 menit, kemudian sore hari biasa di kamar kalau pas tidak ada kegiatan lain di rumah”, tambahnya.

Selama kuliah dia mengalami ketidakdamaian. Ada kebimbangan yang dirasakan. Sebelum memutuskan masuk Ordo Karmelit Tak Berkasut atau OCD, ia juga tertarik mau masuk Trapist menjadi pertapa. Ia pernah dua kali mengikuti retret di Trapist.

“Yah akhirnya ketika bertemu dengan spiritualitas Karmel, saya langsung jatuh cinta. Ternyata Tuhan menghendaki saya di Karmel. Lalu saya masuk Ordo Karmelit Tak Berkasut”, kenangnya.

Dia menjalani masa formasi awal di Flores selama tiga tahun, yaitu aspiran, postulan dan novis. Kemudian ia mengikrarkan kaul pertama pada tanggal 1 Mei 2011. Mengingat seorang calon imam harus lulus filsafat-teologi, maka ia mengikuti kuliah filsafat dan teologia di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang selama 4 tahun. Kemudian menjalani masa Tahun Orientasi Pastoral selama setahun di Novisiat OCD di Bajawa-Flores. Dan sejak tahun 2016 dia ditugaskan kuliah study lanjut di Pontifikal Spiritualitas Teresianum Roma sampai saat ini.

Pemuda yang Pemberani

Tempat tinggal dan kuliah Frater Bona sekompleks dengan Basilika Santo Pankrasius. Di bawah basilika ini terdapat katakombe. Di sana ada makam Santo Pankrasius yang meninggal dunia sebagai martir dalam usia 14 tahun. Ia wafat dengan dipenggal kepalanya pada tahun 303 pada masa penganiayaan Kaisar Diocletianus. Perayaannya diperingati setiap tanggal 12 Mei.

Santo Pankrasius lahir tahun 289 di Phrygia Anatolia (kini: wilayah Turki).  Kedua orang tuanya adalah warga negara Romawi. Ibunya meninggal saat melahirkan saudarinya Cyriada. Ayahnya meninggal ketika Pankrasius masih berusia delapan tahun. Sebagai anak yatim piatu, ia diasuh oleh pamannya Dionysius. Mereka berdua pindah ke Roma dan tinggal di sebuah villa di Bukit Caelian.

Pankrasius dibaptis dan menjadi seorang pengikut Kristus yang berani. Meski masih remaja, ia ditangkap karena menjadi seorang Kristiani. Pankrasius menolak untuk menyangkal imannya. Karena itu, ia dijatuhi hukuman pancung atau dipenggal kepala. Seorang Perwira Romawi, Ottavilla, mengambil tubuh Pankrasius dan menutupinya dengan balsam, lalu dibungkus dalam kain linen yang berharga. Jenasahnya dikuburkan dalam Katakombe di Roma. Sedangkan kepala Santo Pankrasius ditempatkan dalam wadah relikwi di Basilika Santo Pankrasius sampai sekarang ini.

Ia menjadi seorang martir yang sangat terkenal pada masa Gereja Perdana. Orang mengaguminya karena keberaniannya. Pada tahun 514, sebuah gereja besar dibangun di Roma untuk menghormatinya. Pada tahun 596, seorang misionaris terkenal, Santo Agustinus dari Canterbury, membawa iman Kristiani ke Inggris. Ia menamai gereja pertamanya dengan nama Santo Pankrasius. # Y. Gunawan, Pr

Berita lainnya: Laporan dari Roma: Alumnus Unika Soegijapranata Tahbisan Diakon di Kota Abadi

Kategori: