TI Ciptakan Alat Sortir Tomat
Rabu, 6 Februari 2019 | 18:10 WIB

SM 29_01_2019 TI Ciptakan Alat Sortir Tomat

Program studi S1 Teknologi Informatika, Fikom, tidak hanya fokus pada pembelajaran kuliah, tapi beberapa kali memberikan kontribusi pemikiran yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kontribusi itu seperti halnya menciptakan alat penyortir buah tomat dan sistem monitoring pembangunan gereja di wilayah Keuskupan Agung Semarang yang mencakup Jateng dan DIY.

Kepala Prodi TI Rosita Herawati STMITmenegaskan, alat sortir tomat ini masih dalam skala uji laboratorium.

”Alat ini diciptakan mahasiswa Teknik Informatika untuk mengatasi problem petani tomat di lapangan saat masa panen. Mereka (para petani) saat masa panen kesulitan atau butuh waktu lama dalam menyortir tomat warna merah dan hijau,” jelasnya didampingi dosen pembimbing mahasiswa pembuat alat sortir tomat, YB Dwi Setianto STMES di kampusnya, Selasa (29/1). Padahal, mereka ini butuh waktu cepat untuk sortir buah tomat supaya segera dikirim ke pedagang, sehingga tidak lekas membusuk.

Menurut dia, petani biasanya mengirimkan buah tomat yang sudah merah alias matang ke lokasi terdekat. Adapun, warna hijau dikirim ke pedagang dengan lokasi jauh supaya saat sampai tujuan tomat bisa berubah warna jadi merah.

Memang sudah pernah ada yang membuat alat sortir tomat, namun buatan mahasiswa TI lebih istimewa. ”Pernah ada yang membuat alat sortir, tapi hanya bisa digunakan satu per satu buah tomat. Kalau alat temuan mahasiswa kami bisa dimanfaatkan untuk banyak buah tomat, sehingga butuh waktu lebih singkat,” katanya.

Sistem Monitoring Rosita menegaskan, akurasi hasil sortir itu di atas 90%. Pembuatannya menggunakan teknologi pengolahan citra berbasis kecerdasan buatan dengan algoritma bayesian clustering.

Kontribusi mahasiswa di lingkup eksternal lainnya adalah membuat sistem monitoring pembangunan gereja di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Pihak gereja yang hendak membangun bisa mengisikan data maupun foto secara online melalui sistem yang dibuat mahasiswa Unika.

Jadi, tidak perlu mengajukan proposal dan mengirimkannya ke Keuskupan di Semarang. Namun, gereja hanya mengisikan data untuk bisa mendapatkan persetujuan pembangunan.

Sistem monitoring itu dibuat pada 2017 dan sudah diimplementasikan pada 2018. Di sisi lain, Dwi mengemukakan, karya industri kreatif mahasiswa TI lainnya adalah membuat algoritma robot berkaki empat yang kuat bertahan di berbagai medan. Ada juga alat yang bisa dipakai mengetahui jumlah orang yang masuk dan keluar ruangan.

Temuan lainnya adalah alat mendeteksi keretakan bangunan secara otomatis dengan embedded system, yakni sistem komputer yang dirancang khusus untuk tujuan tertentu demi meningkatkan fungsi suatu mesin.

Suara Merdeka 30 Januari 2019 hal. 6

Kategori: