Kebersamaan demi Keadilan
Jumat, 1 Februari 2019 | 8:34 WIB

SM 01_02_2019 Kebersamaan demi KeadilanOleh:  Aloys Budi Purnomo Pr

"Persaudaraan yang sejati itu tidak hanya basa-basi tetapi dipenuhi dengan kerelaan untuk saling berkorban demi menghargai dan menghormati perbedaan bahkan merayakan perbedaan dalam kegembiraan sebagai warga bangsa di mana pun berada, apa pun agama dan kepercayaannya."

TULISAN ini merupakan refleksi syukur atas gerakan yang terjadi pada tanggal 18-25 Januari yang lalu. Gerakan itu bernama ‘’Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristiani (PDS)’’. Meski dalam konteks dan perspektif ekumenis kristiani, namun gerakan ini selalu bersifat inklusif dalam rangka kebersamaan universal atas nama kemanusiaan.

Sebagai gerakan, PDS diluncurkan oleh kerja sama antara Vatikan dan Geneva, sebagai representasi Katolik dan Kristen. Usianya sudah 111 tahun pada tahun 2019 ini. Di Keuskupan Agung Semarang (KAS), yang meliputi sebagian besar Jawa Tengah dan seluruh DIY, gerakan ini saya mulai pada tahun 2010 sejak digagas dan dipersiapkan pada tahun 2009. Maka pada tahun 2019 ini, gerakan PDS di KAS merupakan gerakan yang ke-10. Keunikan gerakan ini terletak dalam kebersamaan ekumenis, yakni antara Gereja-Gereja Katolik dan Gereja-Gereja Kristen baik di tingkat global-internasional maupun di tingkat lokal-nasional. Setiap tahun, selalu ditetapkan negara tertentu yang harus mempersiapkan bahan untuk doa dan gerakan bersama sesuai dengan konteks negara yang bersangkutan.

Pada tahun 2019 ini, Indonesia terpilih untuk mempersiapkan bahan, tema dan dinamika PDS. Karenanya, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI, representasi Gereja Katolik) dan Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI, representasi Gereja-Gereja Kristen) bekerja sama merumuskan tema. Tema yang dipilih adalah ‘’Semata-mata Keadilan, Itulah Yang Harus Kau Kejar’’. Tema ini terinspirasi dari kutipan Perjanjian Lama, yakni dari Kitab Ulangan 16:18-20. Tema tersebut dipilih mengingat dalam konteks Indonesia, masyarakat sedang dalam situasi hangat menghayati tahun politik dan demokrasi menjelang Pilpres dan Pileg 17 April 2019. Dalam konteks itulah maka selama satu pekan, umat dan masyarakat diajak untuk menghayati fokus utama dari setiap politik dan demokrasi, yakni mengejar dan mewujudkan keadilan semata-mata. Keadilan itu diwujudkan dalam rangka kesejahteraan umum dalam masyarakat multikultural.

Implementasi Keadilan

Gerakan merajut kebersamaan demi keadilan yang bersifat spiritual dan ibadah harus terimplementasi dalam konteks sosial dan barokah bagi umat dan masyarakat. Karenanya, dalam rangka itu, di Keuskupan Agung Semarang sendiri, gerakan PDS diwarnai oleh berbagai kreativitas di berbagai tempat.

Dibuka pada tanggal 18 Januari di tiga tempat, yakni di Solo, Ungaran, dan Banyumanik Semarang; gerakan dilanjutkan secara sporadis di berbagai tempat, yakni di Magelang, di Wedi Klaten, di Jetis Yogyakarta, di Gubug, Kudus, Salatiga dan Kendal. Masing-masing memiliki keunikan dan kreativitas tersendiri. Misalnya, gerakan PDS di Klaten yang dilaksanakan di Gereja Katolik Wedi, diikuti oleh 18 Pendeta dan 8 Pastor Katolik.

Gerakan dibingkai dalam ibadah inkulturasi Nandur Rukun, Panen Sedulur. Aksi ini melibatkan anak-anak kecil, remaja, orang muda hingga dewasa. Mereka menyerukan, keadilan dalam kebersamaan, kebersamaan dalam keadilan hanya bisa diraih apabila semua orang hidup dalam kerukunan dan karenanya akan memanen persaudaraan yang sejati.

Persaudaraan yang sejati itu tidak hanya basabasi tetapi dipenuhi dengan kerelaan untuk saling berkorban demi menghargai dan menghormati perbedaan bahkan merayakan perbedaan dalam kegembiraan sebagai warga bangsa di mana pun berada, apa pun agama dan kepercayaannya. Pesan ini sangat menarik ketika disampaikan melalui tarian, nyanyian, dan gerakan bersama ekumenis. Dari Wedi, gerakan ini layak diwartakan ke seluruh negeri dan dunia bahwa membangun kebersamaan demi keadilan itu selalu dimungkinkan dan hal ini menjadi tanggung jawab semua orang tanpa diskriminasi. Pada saat penutupan PDS pada tanggal 25 Januari 2019, di Semarang juga ditandai keunikan dan kreativitas.

Dilaksanakan di Gereja Katedral Semarang, ibadah ekumenis dalam rangka PDS ditandai dengan aksi berbagi pohon Sawo Kecik dan menaburkan benih ikan di Sungai Kalisari yang berada di depan Gereja Katedral. Sesudah itu, dilaksanakan pentas seni dan budaya di Aula Paroki Katedral yang melibatkan masyarakat lintas agama.

Di situlah, konteks Indonesia mendapatkan bentuk yang nyata dalam rangka mengejar dan mewujudkan keadilan melalui kebersamaan tanpa diskriminasi. Penghambat keadilan yang paling besar adalah sikap diskriminatif. Syukur kepada Allah, bahwa PDS 2019 menjadi momentum bagi upaya mewujudkan keadilan tanpa diskriminasi melalui gerakan ibadah, doa, dan pentas budaya bahkan aksi nyata dalam rangka mewujudkan keutuhan ciptaan dan kelestarian lingkungan hidup.

Keadilan selalu menuntut kebersamaan, Kebersamaan tanpa diskriminasi menjadi implementasi paling sederhana wujud keadialan dalam kehidupan nyata. Bagaimana gerakan yang seperti ini bisa terus dijalankan setiap saat? Itulah tantang bersama yang harus terus dipikirkan siapa saja dan di mana saja.

____________________

—Aloys Budi Purnomo Pr, Kepala Reksa Pastoral Kampus Unika Soegijapranata; Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang

 

https://www.suaramerdeka.com/smcetak, Suara Merdeka 1 Februari 2019 hal. 4

Kategori: , ,