Jawab Tantangan dengan Prodi Game Technology
Rabu, 6 Februari 2019 | 17:42 WIB

SM 29_01_2019 hal

Menghadapi tantangan era disrupsi, perguruan tinggi mau tak mau harus bisa menyesuaikan perubahan. Lembaga pendidikan harus bisa melihat peluang pasar dan keinginan generasi milenial yang hendak meneruskan studi ke jenjang perkuliahan.

Untuk menjawab tantangan era teknologi saat ini, Fakultas Ilmu Komputer (Fikom) Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang membuka program studi S1 Game Technology dan S1 E- Commerce.

Game Technology dibuka sejak 2013, sedangkan E-Commerce pada 2018. Kedua program ini merupakan hasil pengembangan di Fikom yang sebelumnya hanya memiliki prodi S1 Sistem Informatika dan S1 Teknik Informatika.

Dekan Fikom, Unika, Erdhi Widyarto STMTmengatakan, pembukaan kedua prodi baru ini untuk menjawab tantangan era teknologi saat ini. Khususnya game, Unika menjadi universitas pertama di Jateng yang membuka prodi tersebut.

Pada tingkatan nasional, Unika merupakan yang kedua setelah Bina Nusantara (Binus) Jakarta. Awal mula pembukaan prodi game ini karena ada dukungan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) pada 2013.

Ketika itu, Kemenristekdikti meminta universitas supaya membuka program yang mengadopsi pembelajaran game. ”Pemerintah melalui Kemenristekdikti tampaknya sudah mencium game akan berkembang. Unika merespons dan membuka prodi Game Technology,” kata Erdhi di kampusnya, Selasa
(29/1).

Play Store Unika Pertama kali ada 40 mahasiswa yang mengambil studi Game Techology, kini sudah mencapai ratusan orang. Karya industri kreatif game yang dihasilkan mahasiswa Unika jumlahnya sekitar 50, dan sudah bisa diunduh di Play Store Unika. Game yang dibuat di antaranya Lahirnya Gatotkaca,
Mencari Batik, Find me : Lawangsewu, dan Joker alias Jomblo Keren.

Di sisi lain, Fikom juga melakukan kerja sama dengan industri dan perguruan tinggi di luar negeri.

Tahun 2018, beberapa mahasiswa mengikuti program pertukaran dengan perguruan tinggi Providence University Taiwan serta Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Assumption University Thailand. Di Thailand, mahasiswa Unika juga diajak untuk melakukan presentasi hasil penelitiannya.

Mengenai program exchange lecture atau pertukaran pengajar, tahun 2018 lalu ada dua profesor asal Taiwan menjalani kuliah di Fikom tentang kecerdasan buatan.

Menurut Erdhi, kerja sama dunia industri juga dilakukan dalam acara magang fairpada 2018. Di mana, perusahaan-perusahaan memberikan wadah bagi mahasiswa Fikom untuk magang. Perusahaan itu seperti ICON+, Indomarco, Visionet, Enseval, dan BCA. Staf pengajar di Fikom juga memiliki guru besar di bidang sistem informasi, yakni Prof Dr Ridwan Sanjaya MS IEC yang kini menjabat Rektor Unika.

Adapun, bentuk pengabdian yang dilakukan fakultasnya adalah bidang kesenian wayang orang Ngesti Pandawa.

Saat pentas wayang, latar belakangnya dibuat lebih hidup dengan tampilan animasi. Hal itu akan memberikan suasana lain bagi penonton yang menyaksikan pementasan wayang. ”Fikom ini mencetak mahasiswa menjadi programmer aplikasi bisnis, konsultan sistem informasi, wirausaha, pengembangan bisnis online, dan manajer sistem informasi. Selain itu juga programmer gamedan animasi, serta pengembang perangkat lunak, perancang topologi jaringan, serta IT Project Manajer,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Prodi S1 Sistem Informasi, Bernardinus Harnadi PhD menuturkan, perkembangan bisnis online cukup pesat saat ini. Mendasari itulah, Unika akhirnya membuka prodi ECommerce. Mahasiswa bidang ECommerce ini belajar tentang teknologi digital, pengelolaan konten, rantai pasokan, sistem pembayaran berbasis Fintech atau financial technologyyang didukung pemahaman hukum dan pajak yang kuat.

Universitas membantu generasi muda untuk mencoba sendiri dan berinovasi dalam bisnis online.

”Sesuai penelitian para ahli, pola pekerjaan ke depan akan berubah. Pekerjaan yang dulu ada, misalnya petugas penarik tarif jalan tol, kini tidak ada lagi karena pembayaran menggunakan kartu tol,” jelasnya.

Di bidang perdagangan, toko dan sebagian pedangan di mal penjualannya turun. Bukan daya belinya turun, tapi pola belanja masyarakat beralih secara online atau toko maya. Program ECommerce ini menyiapkan mahasiswa dalam menghadapi perubahan, sekaligus terlibat lebih dini perkembangan
teknologi.

Suara Merdeka 30 Januari 2019 hal. 6

Kategori: