Sinergi dengan Mahasiswa
Jumat, 11 Januari 2019 | 12:06 WIB

TRB 10_01_2019 Sinergi dengan Mahasiswa

SEJAK Oktober 2017, Dr Victoria Kristina Ananingsih memangku jabatan sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unika Soegijapranata Semarang. Dia bakal membantu Prof Dr Ridwan Sanjaya hingga 2021 mendatang. Memperoleh amanah itu, dia bersyukur karena latar belakang jabatan sebelumnya sebagai Dekan Fakultas Teknologi Pertapian Unika Soegijapranata. Sehingga dalam upaya pengembangan di bidang kemahasiswaan tak butuh waktu lama untuk beradaptasi. "Saat menjadi dekan, saya biasa membuat pola penjaminan mutu tingkat fakultas. Dalam pola itu, satu unsur utamanya adalah terkait kemahasiswaan," terang Tina, sapaan akrab Dr V Kristina Ananingsih itu.

Dari hal itu, menurutnya, tak jarang dirinya bersinergi (bermitra) dengan para mahasiswa, termasuk di dalamnya para aktivis tingkat fakultas. Hampir di setiap kegiatan yang dilaksanakan, senantiasa melibatkan mahasiswa. "Sinergitas tersebut sehingga segala program dapat tercapai. Selama 4 periode, kala itu, Fakultas Teknologi Pertanian mampu mempertahankan akreditasinya, akreditasi A. Bagi saya, itu tak terlepas dari peran mahasiswa," tandas wanita kelahiran Semarang 23 Desember 1973 itu.

Dari bekal tersebut, pola sinergitas tersebut dibawanya di posisi jabatannya yang sekarang. Bahkan, dirasa semakin erat jalinan komunikasi dan sinergitas dengan mahasiswa. Seluruh tugas pun terasa semakin ringan.

"Tanpa sinergi dengan mereka, tidak mungkin," tukasnya.

Dr Tina mengaku banyak tantangan yang harus dihadapi di jabatannya saat ini. Satu di antaranya harus pandai dalam membaca serta memahami karakter para mahasiswanya.

"Karakter mahasiswa memang menjadi tantangan tersendiri. Tetapi dalam menghadapi, semisal ada permasalahan, tidak butuh waktu lama. Di saat itu, saya pun harus mampu menjadi teman sekaligus orangtua dari para mahasiswa," terang lulusan S3 Bidang Ilmu Food Processing and Engineering National University of Singapore pada 2013 lalu.

Tina pun berbagi tips cara menghadapi mahasiswa. "Tak perlu terlalu formal. Ketika pendekatan formal, justru kerapkali sulit menyelami permasalahan yang sedang dihadapi mereka. Mereka sering kami berikan kepercayaan. Ternyata saat diberi amanah, mereka bisa menyelesaikannya," tandasnya.

►Tribun Jateng 10 Januari 2019 hal. 9 

Kategori: