Ketika (Big) Data Berkuasa
Selasa, 29 Januari 2019 | 9:59 WIB

TRB 29_01_2019 Ketika Big Data Berkuasa

Oleh: Ridwan Sanjaya

PENGARUH teknologi informasi dalam mengubah peta bisnis di berbagai belahan dunia telah banyak menjadi fokus pembicaraan dalam beberapa tahun terakhir ini. Bisnis di bidang transportasi, penginapan, tiket wisata, hiburan, pakaian, makanan, dan finansial mendapatkan kejutan yang mungkin tidak terprediksi sebelumnya. Dalam bidang tertentu bahkan terjadi penolakan di berbagai tempat, terutama melalui regulasi. Namun tampaknya gelombang inovasi tersebut tidak terhenti.

Keberadaan teknologi dalam inovasi di berbagai bidang tersebut sebenarnya terkait dengan pengelolaan data yang sebelumnya diolah secara manual kemudian digantikan oleh aplikasi. Sebagai contoh, keberadaan sopir taksi dan penumpangnya jika dahulu dicocokkan oleh operator layanan taksi kini berubah menjadi aplikasi, yang mempertemukan data GPS sopir taksi dan penumpangnya. Begitu juga dengan tiket perjalanan yang dahulu dibantu oleh karyawan agen perjalanan, kini berganti menjadi aplikasi yang menelusuri sekaligus membandingkan data moda transportasi dan harga dari berbagai sumber.

Bahkan jika diolah lebih lanjut, data yang dimiliki oleh pengelola aplikasi dapat berkembang menjadi informasi deskriptif atau grafis yang menggambarkan waktu-waktu puncak, lokasi-lokasi favorit yang dikunjungi, pilihan moda transportasi, bahkan rute-rute yang sering digunakan oleh semua pengguna maupun pribadi demi pribadi. Kekuatan data ini akan menjadi dasar pengambilan keputusan bagi pemilik bisnis untuk mempertajam strateginya ataupun meningkatkan kinerjanya.

Melintasi Ruang dan Waktu
Selain itu, melalui jaringan internet, data yang diperoleh maupun diolah dapat melintasi ruang dan waktu. Sebagai contoh, jam tangan cerdas (smartwatch) yang saat ini mulai jamak di tangan masyarakat, dapat digunakan untuk merekam data kesehatan setiap penggunanya. Ketika dihubungkan ke internet melalui berbagai penerapan konsep Internet of Things (IoT), maka data kesehatan tersebut dapat diolah dan dianalisa untuk membuat suatu kesimpulan yang dibutuhkan oleh pengguna.

Konsep Internet of Things memungkinkan berbagai perangkat di sekitar kita dapat terhubung ke intemet, menggunakan maupun menyimpan berbagai data yang dibutuhkan, dan diakses oleh sistem yang terkait. Berbagai data yang dikumpulkan oleh perangkat tersebut menjadi Big Data untuk kemudian dapat diolah oleh server maupun dianalisa oleh ahli di bidangnya dalam membuat suatu kesimpulan yang dibutuhkan oleh pengguna.

Ketika data ini diizinkan untuk dihubungkan oleh pengguna teknologi informasi di rumah sakit, maka pengguna dapat diingatkan dan diberikan perawatan ketika muncul gejala atau bahkan jauh sebelum terjadinya serangan. Tindakan antisipasi ini tentunya akan banyak menolong penggunanya dalam memelihara kesehatannya.

Namun yang menjadi tantangan, jika data tersebut dihubungkan dengan rumah sakit di berbagai belahan dunia, maka persaingan industri rumah sakit tidak lagi terbatas pada wilayah tertentu saja tetapi sudah lintas negara.

Kualitas, kepercayaan, dan harga layanan rumah sakit menjadi keniscayaan yang akan menentukan pasien dalam memilih rumah sakit yang merawatnya. Namun segala regulasi yang membatasi keberadaan industri rumah sakit di wilayah tertentu menjadi tidak relevan bagi rumah sakit cerdas (smart hospital). Apalagi frekuensi dan biaya transportasi udara saat ini semakin memudahkan pasien kalangan tertentu untuk bepergian lintas negara.

Meskipun keberadaan dokter dan perawat dalam kondisi ini masih dibutuhkan, namun keberadaan rumah sakit pada wilayah tertentu bisa saja terancam, atau paling tidak segmen tertentu dari rumah sakit di wilayah tersebut bisa saja berpindah. Kondisi lama yang menjadi keistimewaan dan proteksi bagi industri ini menjadi tidak lagi mampu menahan persaingan dan akan menjadi kondisi baru yang mungkin berbeda sama sekali dari kondisi yang didapatkan sebelumnya.

Bagi dokter yang mampu menyediakan layanan koneksi data tersebut, tentunya akan menjadi bentuk layanan baru yang akan memudahkan pasien sekaligus meningkatkan minat masyarakat terutama pada segmen tertentu untuk layanan kesehatan yang diberikan oleh dokter tersebut. Jika hal ini menjadi umum, besar kemungkinan antisipasi terhadap gejala penyakit maupun serangan terhadap organ vital tubuh pada masyarakat dapat menjadi lebih besar.

Data Menjadi Primadona
Kekuatan dan kumpulan data yang besar dan terkoneksi melalui internet bukan hanya akan membuat penguna menjadi lebih mudah, cepat, dan nyaman dalam mengakses layanan yang sesuai dengan kebutuhannya, tetapi juga menjadikan batas-batas wilayah dan regulasi menjadi semakin bias. Apabila pengelola layanan maupun pemilik bisnis dapat segera menyiapkan diri lebih dini, maka strategi dalam melayani dan mengelola klien dapat dipersiapkan lebih awal.

Sifat data yang sangat cair, yaitu bebas melintasi berbagai media sejauh diizinkan oleh pemiliknya, memungkinkannya kelak menjadi rebutan banyak pengelola layanan yang ingin merebut hati penggunanya. Dengan modal data yang besar tersebut, informasi yang dihasilkan akan menjadi ujung tombak bagi kepuasan layanan yang ditawarkan. Keahlian dalam mengolah data juga semakin menjadi kebutuhan yang krusial.

_______________________
Ridwan Sanjaya,
Guru Besar di Bidang Sistem Informasi
Unika Soegijapranata

►Tribun Jateng 29 Januari 2019 hal. 2

Kategori: ,