Keterlibatan Sinergis Natal
Senin, 14 Januari 2019 | 9:16 WIB

image

oleh aloys budi purnomo pr

Natal memberi makna istimewa bagi keterlibatan sinergis dalam kehidupan demi terwujudnya damai sukacita keselamatan. Ada banyak pihak yang terlibat secara sinergis dalam rangka Natal, dari Natal prdana hingga perayaan-perayaan milenium selanjutnya. Inilah yang memberi inspirasi untuk menghayati keterlibatan sinergis Natal dalam kehidupan zaman now.

Natal perdana adalah buah keterlibatan sinergis dari Allah yang karena begitu besar kasih-Nya, berkenan mengutus Putra-Nya yang tunggal menjadi manusia serta tinggal di antara kita (bdk Yohanes 3:16). Namun, untuk tujuan ini, Allah tidak berkarya sendirian. Itulah sebabnya, Allah mengutus malaikat Gabriel menjumpai seorang gadis suci dari Nazaret, bernama Maria.

Kepada Maria, Gabriel menyampaikan pesan akan mengandung dan melahirkan seorang Anak lelaki. Namanya pun telah dipersiapkan dan ditetapkan Allah. Namanya Yesus.

Malaikat Gabriel melaksanakan perutusan demi keterlibatan sinergis dalam semangat ketaatan. Injil Lukas 1:26-38 mengisahkan, dalam bulan keenam, Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud. Nama perawan itu Maria.

Ketika malaikat masuk ke rumah Maria, berkata, “Salam, hai engkau yang dikarunia, Tuhan menyertai engkau…. Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya, engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia, Yesus.

Ia akan menjadi besar dan disebut Putra Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan!”

Maria yang terkejut menerima kunjungan dan salam seperti itu bahkan mendapatkan mandat untuk mengandung serta melahirkan Putra Allah Yang Mahatinggi, bertanya kepada Gabriel, bukan dalam spirit pemberontakan, tapi ketaatan. Katanya, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Malaikat menjawab, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau. Sebab itu Anak yang akan kaulahirkan akan disebut kudus, Putra Allah…. Bagi Allah tak ada yang mustahil!”

Puncak ketaatan pun terjadi ketika Maria berkata dalam segala kerendahan hati, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu!” Ketaatan malaikat Gabriel bersinergi dengan ketaatan Maria dalam keterlibatan membentangkan rencana keselamatan di surga dan bumi.

Itulah sebabnya, ketika pada saatnya Sang Putra lahir, terdengarlah gema kidung pujian para malaikat surga, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:14).

Nyanyian itu terdengar sesudah malaikat Gabriel mewartakan kabar sukacita Natal perdana, kelahiran Yesus, kepada para gembala di padang yang tengah menjaga kawanan ternak pada malam hari. Kepada para gembala, Gabriel berkata, “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu, Juruselamat, yaitu Yesus, Tuhan, di kota Daud.”

Meski antara warta dan tanda tidak terlalu sinkron karena bagaimana mungkin Sang Juruselamat lahir dalam sosok seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan, namun para gembala dalam ketaatan bergegas berangkat cepat-cepat menjumpai Maria dan Bayi yang terbaring di dalam palungan itu (Lukas 2:8-20).

Suka Cita

Buah dari ketaatan menyambut Natal Perdana itu damai suka-cita yang dirasakan dan dirayakan bukan dalam lembah egoisme pribadi, melainkan dalam keterlibatan sinergis dengan semua orang. Itulah sebabnya, semua, khususnya umat Kristiani yang merayakan Natal dalam rangka mengenang kelahiran-Nya, perlulah pula mengembangkan semangat dan praksis keterlibatan sinergis untuk mewujudkan damai suka-cita Natal dalam kehidupan bersama.

Natal perdana adalah kelahiran Yesus yang ditandai keterlibatan sinergis antara Allah, malaikat, dan Maria mestinya menginspirasi pula setiap orang yang merayakan Natal. Ini untuk mengembangkan semangat yang sama, keterlibatan sinergis. Keterlibatan sinergis memartabatkan setiap pribadi. Segala bakat dan talenta dikembangkan secara sinergis untuk membela kemanusiaan dan kemajuan hidup berbangsa. Itulah yang disebut talenta pro patria et humanitate. Kembangkan bakat dan talenta demi bangsa dan manusia.

Keterlibatan sinergis dalam damai suka-cita tak bisa dikungkung oleh kebencian dan dendam satu terhadap yang lain. Sebagaimana Natal Perdana ditandai hilangnya rasa takut, diganti damai suka-cita, demikian pula dengan perayaan-perayaan Natal selanjutnya. Inti damai suka-cita Natal, jangan takut. Ada kesukaan besar besar untuk seluruh bangsa.

Kesukaan besar untuk seluruh bangsa menjadi tantangan pula bagi bangsa kita saat ini. Menyambut tahun demokrasi menjelang Pilpres dan Pileg 2019, adakah kesukaan besar bagi bangsa ini? Sudahkah rasa takut diubah menjadi kegembiraan dan damai suka-cita? Lalu bagaimana damai suka-cita itu bisa diimplementasikan dalam kehidupan sekarang?

Pertama, bangsa saat ini sedang berada dalam situasi darurat martabat kemanusiaan. Kesedihan dan bahkan kecemasan melanda bangsa karena seakan-akan anak-anak negeri sedang diadu oleh kepentingan politik kekuasaan berbasis kebencian dan dendam. Bahkan, bila tidak bijaksana, kita akan terus terjebak dalam arus kebencian “kampret” dan “cebong” yang berujung perpecahan.

Kedua, dalam paradigma itu, kita dengan hikmat Yesus yang lahir, mari membangun keterlibatan sinergis untuk mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaan.

Kita hidup di Tanah Air yang selalu dalam ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa demi terwujudnya kemanusiaan yang adil dan beradab. Maka, persatuan Indonesia menjadi tujuan. Bila ada persoalan, mari duduk bersama bermusyarawah seperti diamanatkan sila ke-4 Pancasila, “Kerakyataan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.” Buahnya adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia!

Semoga hikmat Yesus menginspirasi hidup bangsa Indonesia oleh Natal yang membawa berkah damai suka-cita keadilan melalui keterlibatan sinergis semua orang. Selamat Natal 2018.

Penulis Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semaran

http://www.koran-jakarta.com

Kategori: ,