Kenalkan Siswa SMA Dengan Gerakan Anti Hoax Lewat Seminar
Jumat, 25 Januari 2019 | 17:38 WIB

Dadang Somantri (Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah) saat memaparkan materi tentang gerakan anti hoax di Auditorium Unika (25/1/2019)

Sebuah seminar yang bertajuk “Anti Hoax Movement” telah diselenggarakan di kampus Unika Soegijapranata dengan mengundang perwakilan siswa dari 40 SMA di kota Semarang pada hari Jumat (25/1).

Acara yang terselenggara berkat kerjasama antara  tim dosen Fakultas Hukum dan Komunikasi (FHK) Unika Soegijapranata dengan United Board for Christian Higher Education atau UB ini menghadirkan beberapa narasumber dari kalangan pemerintah maupun komunitas seperti Dadang Somantri sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah, Kasubdit V / Siber Ditreskrimsus Polda Jateng AKBP Agung Prabowo, selanjutnya dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Farid Zamroni, serta Ketua Tim Kegiatan Service Learning Anti Hoax Movement Unika Rika Saraswati, SH, CN., M.Hum., Ph.D.

Dalam penjelasannya, Ketua Program Studi Komunikasi FHK Unika Abraham Wahyu Nugroho,SIKom.MA. mengungkapkan bahwa kegiatan seminar yang terselenggara ini merupakan puncak dari diseminasi kegiatan pengabdian tim dosen FHK yang berlangsung kurang lebih mulai bulan Oktober sampai Desember 2018. ”Latar belakang kegiatan ini karena keprihatinan kami melihat situasi di Indonesia yang saat ini marak adanya berita hoax dan dampaknya yang begitu luar biasa, sehingga kegiatan ini sebagai wujud keprihatinan kami untuk mencoba mencari solusi melalui kegiatan pengabdian kepada anak muda terutama siswa sekolah SMA di Semarang,” jelasnya.

“Sasarannya adalah anak-anak muda karena sebelumnya kami mengadakan semacam riset kecil yang hasilnya menunjukkan bahwa secara spesifik memang materi anti hoax ini tidak diberikan secara khusus di sekolah-sekolah tetapi kami melihat melalui penelitian ternyata gerakan anti hoax itu sangat penting bagi mereka,” imbuhnya.

Lebih lanjut Abraham menjelaskan bahwa dalam proses pelaksanaan kegiatan telah menggunakan inovasi dalam bentuk modul interaktif yang menampilkan video-video yang berkaitan dengan apa itu hoax, kemudian apa dampaknya dan kira-kira pidana atau hukuman apa bagi penyebar hoax. Disamping itu modul interaktif tersebut juga bersifat dua arah yang mengajak siswa untuk bertanya dan berpartisipasi dengan memberikan komentar di modulnya, jadi ada umpan balik saat menyampaikan materi dan siswa bisa langsung memberikan tanggapan.

Sementara itu Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah Dadang Somantri juga memberikan gambaran tentang kegiatan sosialisasi terkait penggunaan media sosial di masyarakat. “Kegiatan sosialisasi terkait dengan penggunaan media sosial harus dilakukan oleh seluruh pimpinan SKPD. Dan untuk anak-anak SMA, hal tersebut sudah dilakukan lebih sering oleh Bapak Gubernur jadi ada program ‘Gubernur Mengajar’ itu di sekolah-sekolah SLTA di seluruh Jawa Tengah, jadi dimana pun beliau akan melakukan kegiatan pasti akan ada jadwal itu. Kemudian lewat Satpol Linmas, mereka juga melakukan sosialisasi yang namanya ‘Satpol go to school’ itu juga dilakukan yang isinya pasti akan ada konten terkait dengan penggunaan media sosial yang baik dan benar,” tutur Dadang.

“Kenapa yang menjadi target pertama adalah anak SMA? mereka itu lagi asyik-asyiknya main tetapi pengetahuan dan kewaspadaan dalam penggunaan gadget ini masih kurang, sehingga perlu ada bimbingan, maka mereka harus dibekali pengetahuan tentang dampak dari penggunaan media sosial itu,” lanjutnya.  

“Hal lain yang dilakukan pemerintah adalah meliterasi mereka (siswa SMA-red) supaya bisa menggunakan media sosial yang baik dan menginformasikan hal-hal yang berdampak positif. Di sisi lain kami melalui Forum Komunikasi Dinas Kominfo Provinsi, Kabupaten dan Kota menyediakan ruang-ruang bagi anak-anak khususnya di Kabupaten Kota untuk berkreasi sehingga inovasi kreativitas mereka bisa tersalurkan,” tandasnya. (fas)

Kategori: ,